Menjadi Referensi Mendunia

Hari Pahlawan Sebagai Momentum Melawan Korupsi

Oleh : Verra Tri Satria

Bukan tanpa alasan Sakari Ono, salah satu mantan tentara Jepang memilih bergabung dengan para pejuang Indonesia digaris depan untuk melawan penjajah Belanda. Setelah Jepang kalah pada perang dunia 2, lelaki kelahiran Hokkaido tahun 1918 ini bergabung dengan pejuang Indonesia karena
Untuk memenuhi janji kaisar, yakni melindungi Rakyat Asia termasuk Indonesia dari penjajah bangsa Eropa.

Namun setelah Indonesia merdeka, menurut pejuang yang wafat pada tahun 2014 di Surabaya dengan pangkat terakhir Mayor, merasa prihatin dengan maraknya korupsi di Indonesia. Menurutnya perjuangan para Pahlawan Indonesia menjadi sia-sia. Darah yang mengalir untuk mengibarkan sang saka merah putih di bumi pertiwi seperti tiada arti. Setiap masa yang dilalui baik di zaman Orde Baru, orde lama bahkan di zaman reformasi, aroma korupsi selalu dirasakan, bahkan semakin berani dan terbuka.

Jika kita renungkan lagi, betapa semua Pahlawan tanpa rasa takut melakukan konfrontasi senjata melawan penjajah Belanda secara terus menerus, untuk memaksa Belanda hengkang dari bumi Indonesia. Hal itu dilakukan hanya karena mereka tidak mau anak cucunya diexploitasi dan dibodohi oleh bangsa Eropa. Ternyata setelah kemerdekaan itu diraih, para penerus bangsa belum maksimal mengisi kemerdekaan ini dengan baik. Para penjajah yang dulu berambut pirang kini sudah berganti menjadi hitam. Mengingat yang kini menjajah adalah bangsanya sendiri dengan berlomba-lomba mengeruk kekayaan negara untuk kepentingan pribadi. Terutama bagi mereka yang tengah duduk dalam lingkaran kekuasaan. Korupsi juga termasuk dari prilaku penjajah. Padahal korupsi juga menjadi faktor bangsa ini menjadi lemah, yang pada akhirnya dapat dengan mudah ditahklukan oleh negara lain, bahkan oleh negara kecil sekalipun.

Banyak orang mengerti bahwa menguasai kekayaan yang bukan haknya adalah sebagai bentuk kejahatan. Dilain pihak, praktek korupsi di Indonesia seperti sudah menjadi biasa, sistemik dan berbudaya. Hukuman yang ada bagi para pelaku korupsi masih jauh dari harapan untuk membuat jera. Yang terjadi justru seringkali kita dengar kekuatan koruptor dapat dengan mudah menghantam para penentangnya. Artinya, yang menjadi faktor peningkatan kejahatan korupsi di Indonesia, bukan hanya dilakukan oleh para pemangku jabatan, tapi juga dilakukan oleh para pendukungnya. Para pelamu koruptor dengan mudah membayar para pendukungnya untuk membentuk opini bahkan menghantam orang-orang yang ditenggarai akan mengganggu lahan korupsinya.

Pada dasarnya, seluruh rakyat Indonesia apapun suku dan warna politiknya, sama-sama sepakat untuk memerangi korupsi. Tapi kebanyakan dari mereka bukan melihat apa yang dilakukan, melainkan siapa yang melakukan. Hingga perlawanan menjadi kontraproduktif saat yang melakukan korupsi adalah Sang “Big Boss.”

Harusnya seluruh rakyat Indonesia, dari usia muda hingga tua mengetahui, bahwa melakukan perlawanan terhadap prilaku korupsi adalah bagian dari mengisi kemerdekaan. Dan pahlawan bukan hanya lahir pada perang fisik melawan penjajah, namun ketika melawan segala prilaku yang merugikan rakyat banyak dan berpotensi memecah kedaulatan NKRI juga dianggap sebagai Pahlawan.

Mengisi kemerdekaan bukan hanya menciptakan karya yang berguna bagi orang banyak, tapi menjaga diri dari praktek korupsi adalah sebuah kontribusi besar untuk meneruskan cita-cita para Pahlawan. Dan mereka yang melakukan korupsi tak ubahnya sebagai penghianat bangsa.

Selamat Hari Pahlawan 10 November 2017

Penulis adalah Penggiat Pemuda Cinta Tanah Air, yang juga sebagai Pembina Pramuka diberbagai Sekolah

Editor : Rizki Abadi

Komentar
Loading...