Menjadi Referensi Mendunia

Jembatan Bernilai Sejarah (Di) Abaikan Pemerintah Provinsi, dan Pemkab Oku Timur, Sumatera Selatan

Oku Timur, Indonesia Berita – Dipenghujung perjalanan, Minggu (12/11/17), Pewarta Indonesia Berita dalam mencari fakta sejarah, selain Monumen Perjuangan Rakyat dan Markas Komando Resimen 44, Indonesia Berita juga menemukan bangunan sejarah berikutnya, yaitu Jembatan Oku Timur yang dimasanya sebagai penghubung antar penduduk OKUT dan OKI. Sekarang jembatan itu ter-abaikan oleh Pemerintah.

Sepintas sama halnya dengan jembatan lain di Indonesia, sebagai penghubung aktivitas hari-hari, melainkan juga bentuk aktivitas perekonomian. Namun lain halnya Jembatan yang terletak di Desa Gubung Batu, Kecamatan Cempaka, Kabupaten Oku Timur, dimana Belanda meresmikan pada Tanggal 28 Agustus 1928, untuk memperluas jajahannya, dan juga berfungsi sebagai jalur perdagangan.

Mungkin sebagian orang menganggap bangunan jembatan tidaklah penting, namun berbeda dengan pria (M Soleh Akip Toha) kelahiran Desa Gunung Batu ini, sehingga Pewarta Indonesia Berita  mendapatkan yang dapat menjelaskan secara singkat historisnya.

Berikut penuturannya,

“Pada Tanggal 28 Agustus 1928 Belanda membangun Jembatan ini tentunya untuk mempermudah aktivitas mereka pada saat masuk Kabupaten Oku, Sumatera Selatan, disaat itu tentu untuk memperluas kekuasaanya” Ujar Ketua RW di Tangerang Selatan ini.

Sambungnya menjelaskan, hanya sekarang jembatan ini rubuh akibat hantaman arus sungai yang deras pada tahun 2016 yang lalu, sehingga kegiatan masyarakat terhenti, masyarakat terpaksa menggunakan perahu untuk menyeberangi sungai yang lebar awalnya kurang lebih 120 Meter dengan kedalaman 3 meter, sebelum ada jembatan penggantinya ditempat kita berdiri.

“sebelum jembatan ini rubuh tiangnya, menjadi satu-satunya penghubung masyarakat Desa Gunung Batu untuk berpergian melakukan aktivitas perekonomian, karena cuma jembatan  menjadi penghubung antara kami masyarakat OKUT dan OKI, begitu juga untuk ke Ibukota Provinsi, masyarakat melalui jebatan ini” Ungkap Soleh

Lanjut pria yang kini tinggal di Tangerang Selatan Provinsi Banten menyampaikan, bahwa benar jembatan tersebut sama halnya dengan jembatan lainnya di Indonesia, hanya jembatan dimaksud sebagai salah satu memiliki nilai sejarah.

“harapan kami para penduduk Desa  Gunung Batu kepada pemerintah, bila memang jembatan penuh kenangan itu tidak lagi difungsikan sebagaimana mestinya, sebaiknya pemerintah Kabupaten atau Provinsi menjadikannya sebagai bangunan sejarah, agar dapat dijadikan objek wisata, sehingga ada dampak ekonominya” Ujar Saleh yang memiliki nama beken Jon Karay.

Bapak 4 orang anak ini juga menambahkan, bila pemerintah tidak lagi memfungsikan, maka setidaknya diperbaiki agar jembatan itu dapat dijadikan tempat wisata sejarah, bukan seperti ini menjadi tempat pembuangan akhir bermuaranya limbah rumah tangga, dan kayu-kayu yang hayut tuturnya dengan pewarta Indonesia Berita.

Melalui Indonesia Berita, Soleh Akip Toha juga menyampaikan, “siapa tau pemerintah membaca aspirasi kami melalui Indonesia Berita, masa iya hanya tiang satu yang patah pemerintah tidak dapat memperbaiki.” Tutup Soleh

Sekedar tambahan informasi Sumatera Selatan, dahulu kala dikenal sebagai Kerajaan Sriwijaya dengan kejayaan Maritimnya, sebagian besar wilayahnya adalah perairan, yang kini dikenal dengan Sungai Musinya sebagai ikon Kota Palembang.

Penulis : Yakobus Eko

Editor : Bondan AP

Komentar
Loading...