Menjadi Referensi Mendunia

Monumen Perjuangan Rakyat dan Markas Komando Resimen 44, yang Terlupakan

Oku Timur, Indonesia Berita – Dalam pencarian fakta sejarah, Minggu, (12/11/17), kali ini Indonesia Berita mendapatkan informasi, bahwa di Desa Gunung Batu, Kecamatan Cempaka Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur terdapat Monumen Perjuangan Rakyat dan Markas Komando Resimen  44.

Untuk lebih jauh mengupas tentang sejarah yang terlupakan, tim kecil Indonesia Berita menuju Oku Timur untuk melakukan investigasi kebenaran daripada Monumen tersebut, setelah sampai dilokasi pewarta Indonesia secara kebetulan bertemu dengan pria yang sudah lama merantau ke Ibukota Negara (Akip Nato Agung, SE, Msi) kelahiran Desa Gunung Batu yang juga memiliki perhatian khusus tentang sejarah, sehingga Indonesia Berita mendapatkan sedikit penjelasan.

Berikut penuturan singkatnya,

“Monumen Perjuangan Rakyat dan Markas Komando 44 yang ada didesa ini dibangun sekitar tahun 1990-an, untuk mengenang jasa-jasa para pahlawan mempertahankan dan mengusir penjajah pada saat itu, sehingga kita penduduk desa dan rakyat Indonesia tidak Jasmerah” Ujar Akip

Lanjut pria yang berdomisili di Jabodetabek ini menyampaikan, bahwa Monumen ini salah satunya mengenang Alm. Letnan Jenderal  H. Alamsyah Ratoe Perwiranegara, beliau juga pernah menjabat sebagai Menteri Agama dimasa Pemerintahan Orde Baru.

“Monumen ini salah satunya mengenang jasa-jasa Mantan Menteri Agama. Alm H. Alamsyah Ratoe Perwiranegera, menurut cerita para sepuh dikampung, beliau salah satu komandan yang bertugas mempertahankan Oku Timur dari tangan penjajah, sehingga membuat Markas Pertahanan Resimen 44 bersama rakyat”. Ucapnya

Sambung Akip yang secara kebetulan berkunjung ketempat bersejarah ini menambahkan, bahwa tempat ini dibangun berdasarkan inisiatif masyarakat, demi mengenang jasa-jasa para pahlawan.

“sayangnya tempat ini kurang terawat, tidak ada perhatian khusus, seharusnya monumen bernilai historis seperti ini menjadi perhatian khusus dari pemerintah setempat, coba kita lihat sekitar monumen ini terlihat banyak rumput dan lumut”. Katanya

Tak terasa waktu menunjukkan pukul 17.30, pria yang ramah ini sebelum ijin pamit menunaikan ibadah shalat magrib, sambil menutup perbincangan dengan pewarta Indonesia Berita, ia mengatakan, “bila memang monumen ini kurang perhatian sebaiknya dijadikan objek wisata sejarah, sehingga ada efek ekonomi bagi masyarakat sekitar, apalagi pemerintah dapat mempublikasikannya secara maksimal yang kelak mungkin dapat menjadi ikon” tutupnya

Penulis : Jerri Yanto

Editor : Rizki Abadi

Komentar
Loading...