Menjadi Referensi Mendunia

Polisi Kriminalisasi Aktivis Mahasiswa

Lhokseumawe, Indonesia Berita – Dua mahasiswa Universitas Malikussaleh (Unimal) Aceh Utara, ditahan di Lapas Kelas IIA, Lhokseumawe, Aceh. Mereka pun saat ini sedang diadili oleh Pengadilan Negeri (PN) Lhokseumawe.

Keduanya mahasiswa itu adalah Muji Al-Furqan dan M. Rusdi. Mereka ditangkap dan ditahan pasca demo Mahasiswa di Kantor Bupati Aceh Utara, Rabu (25/5/2017) lalu. Saat itu, para mahasiswa berdemo menuntut pemerintah terkait Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun, Lhokseumawe- Aceh Utara yang belum memiliki kejelasan pasti, dan Transparansi Penggunaan dana desa di kabupaten Aceh Utara.

Karena merasa kesal tidak digubris oleh sejumlah pejabat menimbulkan kericuhan antara mahasiswa dengan petugas hingga menyebabkan kaca pintu samping Kantor Bupati pecah.

“Hari itu ada 12 orang mahasiswa ditangkap dan diboyong ke Mapolres Lhokseumawe. Setelah dilakukan pemeriksaan delapan orang diperbolehkan pulang dan empat orang lainnya ditahan di Mapolres selama 24 jam,” kata koordinator Forum Bersama Mahasiswa Aceh Utara-Lhokseumawe, Munzir Abe dalam keterangannya, Kamis (16/11/2017).

Setelah diperiksa, empat mahasiswa itu dibebaskan oleh penyidik Polres Lhokseumawe dan dikenakan wajib lapor selama tiga bulan. Kemudian, Polisi terus menyelidiki kasus tersebut dan dasil penyidikan, ternyata dari keempat mereka hanya dua mahasiswa ditetapkan sebagai tersangka terkait pengrusakan aset negara.

Polisi kemudian melimpahkan kasus tersebut ke Kejari Lhokseumawe. Padahal, antara mahasiswa dengan pihak Pemerintah Aceh Utara sudah menyelesaikan dengan berdamai.

“Saat berkas dilimpahkan ke Kejaksaan. Dua teman kami itu sempat ditahan, tapi setelah kami ajukan penangguhan penahanan disetujui dan keduanya dijadikan sebagai tahanan kota,” tambah Munzir.

Kemudian, sekitar 20 hari belakangan, Kejari melimpahkan perkara ini ke PN Lhokseumawe dan langsung dilakukan penahanan terhadap keduanya. Kasus mereka pun hingga sekarang sudah memasuki dua kali persidangan dengan agenda terakhir eksepsi pada Rabu (16/11) kemarin.

“Kami bersama kuasa hukumnya sudah mengajukan penangguhan penahanan. Tapi, hingga sidang kedua mereka belum juga diberikan penangguhan oleh majelis hakim. Kami meminta kepada majelis hakim supaya mengabulkan surat penangguhan penahanan itu,” Ujar Munzir.

Senada dengan itu, Fakhrur Razi Ketua-Liga Mahasiswa Nasional Untuk Demokrasi (LMND) Wilayah Aceh menyebutkan bahwa mahasiswa bukan pembunuh atau penjahat yang harus dihukum membabi buta seperti ini.

“kalau pejabat tindak pidana korupsi bisa meminta penangguhan penahanan kenapa dengan kita tidak, kita hanya meminta surat penangguhan penahanan terhadap kedua kawan-kawan tersebut agar dikabulkan majelis hakim” Ucap Fakhrur Razi

Komentar
Loading...