Menjadi Referensi Mendunia

Freeport Sterilisasi Jelang Operasi Tambang Bawah Tanah

Papua, Indonesia Berita – Dalam siaran persnya Arkilaus, Senin (20/11/17), menyampaikan, Konflik senjata yang terjadi hanyalah api yang dibuat jelang pembersihan areal tambang bawah tanah. Proyek tersebut diprediksi membor kebawah disekitar Tembagapura, Eastberg dan Grassberg. Maka itu, hunian diatasnya harus bersih lantaran operasi tambang tidak terganggu dengan hunian masyarakat

“Cara memindahkan masyarakat setempat dari area freeport bukan hal baru. Sejak awal operasi tambang terbuka Eastberg, orang Amungme dipaksa/digusur bahkan diusir turun dari pegunungan dan menempati lokasi di dataran rendah kota Timika yang dikenal Kwamki Narama” Ungkap Arki

Lanjutnya mengatakan, saat ini, ada sekitar 800 penduduk asli Tembagapura yang bermukim di beberapa kampung, sudah dievakuasi dan rencana ditampung di gedung kota.

“Awalnya, Cara menggusur penduduk lokal dari habitat mereka tersebut,  mengakibatkan 65 persen generasi Amungme punah akibat geografis wilayah yang beda” Ujar Arki

sambungnya, diatas gunung sudah terbiasa hidup dengan cuaca dingin, diusir ke dataran rendah yang hawanya panas, perkembangan hidup suku setempat mengalami penurunan dahsyat.

“Era sterilisasi pun dilakukan disekitar lokasi dimana tambang akan beroperasi. Bahkan sterilisasi soal Smelter juga bakal dilakukan. Gudang penampungan konsentrat, yang anehnya bisa terbakar, diduga bagian dari proyek sterilisasi” Ucapnya

Tambah Arki, sebelum pemurnian didalam negeri sebagaimana amanat UU, maka aspek kosentrat ikut dalam agenda persiapan peralihan.

“Proposal pinjaman dan kredit yang disodorkan FCX kepada lembaga pendana, rencana operasi tambang bawah tanah dimulai pada tahun 2018. Pengerjaan konstruksi sebelum eksploitasi bebatuan, direncanakan berjalan hingga dua tahun” Kata Arki

Arki juga mengungkapkan, Pintu masuk terowongan pun tidak hanya satu, tetap dibuka di beberapa lokasi. Struktur proyek tambang bawah tanah rumit, luas, lantaran target produksi hingga dua juta Ton Kosentrat. Namun, portfolio perusahaan tidak mencantumkan biaya Smelter dalam negeri.

“Sekarang, evakuasi warga setempat dengan alasan konflik, disaat yang sama skedul operasi tambang bawah tanah berjalan. Hari ini anda silahkan memberanguskan apa saja fasilitas Freeport tidak ada pengaruhnya sebab pergantian lokasi tambang dari tambang terbuka ke tambang bawah tanah, ikut pula peralatannya diganti” ujarnya

lanjut Arki, sisa sisa aset tambang terbuka tersebut menurut FCX dimasukan dalam nilai divestasi yang sedianya akan dibeli oleh BUMN Merger oleh Inalum. Dum truk di tambang terbuka grassberg sudah tidak bisa dipakai lagi pada tambang bawah tanah, salah satu aset freeport yang masuk hitungan nilai divestasi.

“Jika INALUM beli saham divestasi ikut kemauan freeport, mau diapakan itu dum truknya? Ibaratnya freeport jual besi tua ke pemerintah” Ucapnya

Mengakhiri keterangannya, proyek tambang bawah tanah ini awalnya sesuai dengan skema kredit dan pinjaman. Namun, memasuki tahun 2017, pemerintah menerapkan aturan negara pada perusahaan ini. Negosiasi pun dilakukan. Perubahan dari kontrak karya ke IUPK, wajib smelting dalam negeri dan divestasi 51 persen saham. Sesuatu yang tidak ada dalam materi pinjaman modal perusahaan. Kalang kabut sudah. Tutup pria yang memiliki nama lengkap Arkilaus Baho ini.

Penulis : Jerri Yanto

Editor : Rizki Abadi

Komentar
Loading...