Jakarta, Indonesia Berita – Mengawali siaran persnya Paulus Ade Sukma Yadi di Jakarta, Rabu, (13/12), menyampaikan, bahwa lembaga survei dan para komentator politik bermunculan bak jamur dimusim hujan, pasalnya apakah lembaga survei tersebut terjamin independensinya? atau memang para pakar politik terjun langsung mengadakan penelitian figur di tiga belas Kabupaten dan satu Kota di Kalimantan Barat?

“kami geram akan kelakukan lembaga-lembaga survei yang ada dan mempertanyakan basisnya apa sehingga layak membangun opini di masyarakat. Juga bukan itu saja, kadar independensinya juga patut untuk dipertanyakan,” ujar Paulus selaku Inisiator Relawan Muda Lasarus.

Paulus mengatakan, dalam Pilkada 2018 di Kalimantan Barat, sosok Lasarus juga memiliki peluang besar dalam mendapatkan restu dan rekomendasi dari DPP PDIP. Selain memiliki kualitas dan integritas yang baik, sosok Lasarus tidak lahir dari politik dinasti.

“terkait dua figur yang sudah siap maju dan pantas mendapatkan mandat dan rekomendasi dari DPP PDIP tentunya sosok Lasarus-lah yang lebih pantas untuk mendapatkannya. Beliau punya kualitas dan integritas yang baik. Dan yang paling penting beliau juga bukan lahir dari politik dinasti,” ucapnya.

Paulus melanjutkan, bahwa Relawan Muda Lasarus Kalimantan Barat sangat yakin, sebagai partai besar PDIP sangat berhati-hati dalam memilih terlebih di 2017 PDIP kalah dalam bertarung di Pilkada DKI Jakarta, Banten dan Bangka Belitung. Isu-isu SARA sangat potensial begitu juga dengan isu politik dinasti yang selalu didengungkan sejak era reformasi.

“PDIP partai besar, pasti sangat hati-hati dalam memilih. Isu SARA berhasil menumbangkan dominasi di Jakarta, Banten dan Babel. Sangat besar kemungkingan SARA kembali dimainkan juga yang patut diperhitungkan adalah politik dinasti yang menjadi semangat penolakan di era reformasi bergulir.” Tandasnya.

Editor : Bondan AP