Serang, Indonesia Berita – Ratusan murid keluhkan aturan baru di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negri II Cikeusal tepatnya di jalan raya Pamarayan Serang Km 03 Kecamtan Cikeusal. Pasalnya, dengan aturan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) yang baru itu. Pada saat ganti jam pelajaran para murid harus berpindah tempat dengan mendatangi guru masing masing.

Pantauan Indonesia Berita, Senin (22/1) SeKitar pukul 10.30 WIB. Para siswa dan siswi sedang mengikuti kegiatan belajar dengan model moving kelas.

Baca Juga :

Salah seorang siswi kelas sembilan di SMP Negeri II Cikeusal Arum mengaku dalam kegiatan belajar yang diterapkan oleh pihak sekolah sangat melelahkan, karena setiap kali jam mata pelajaran berganti. Para murid harus berpindah tempat untuk mencari guru agar bisa mengikuti KBM.

“Kalau pindah-pindah kelas terus membuat kami lelah dan merasa tercekik karena harus berlari-lari, selain itu, potensi teman-teman untuk bolos juga sangat besar karena mereka beralasan izin padahal main dulu.” ungkapnya.

Dikatakan, Arum, peraturan yang telah diterapkan ini, telah dua minggu berjalan. Dimana pada saat pengumuman penerapan aturan tersebut diumumkan langsung oleh Kepala Sekolah pada saat Upacara Bendera.

“Harusnya kepala sekolah melakukan sosialisasi dan pencobaan terlebih dulu terkait aturan yang dibuatnya itu, kalau misalkan semua murid tidak merasa tergannggu silakan dilanjutkan. Apalagi kita kelas sembilan yang sebentar lagi akan mengikuti Ujian Akhir Sekolah, harapanya ingin kembali seperti dulu lagi”, harapnya.

Hal senada diungkapkan Dedi, menurutnya kegiatan pindah-pindah kelas sangat menggangu, karena para siswa dan siswi tidak mempunyai kelas tetap sehingga membuatnya terlantar.

“Kalau bisa kebijakanya dirubah kembali seperti semula, karena para siswa juga mengungkapkan ketidak sukaanya terhadap aturan yang baru itu.” ujar Dedi.

Di tempat yang sama, salah seorang guruh berinisial A membenarkan, terkait kegitan belajar mengajar (KBM) Moving kelas. Dimana pada saat ganti pelajaran para murid harus berpindah kelas menuju guru mata pelajaran di masing masing ruangan. Tidak banyak siswa dan siswi yang mengeluh karena mereka merasa tidak nyaman dengan model belajar seperti itu. Menurutnya Mouving kelas tidak efektif dan menyita waktu. Harusnya ada sosialisasi dan pencobaan dulu kepada murid dan guru, Kepal sekolah H.Endro Guritno tidak langsung memutuskan kebijakan tersebut sepihak.

“Kalau para murid dan guru sepakat dan merasa nyaman ia boleh melajutkanya. Karen kondisi selama ini, para murid sering mengeluh dengan belajar yang harus bepindah-pindah. Mereka jadi tidak memiliki ruangan kelas tetap. Apalagi untuk kelas sembilan yang sebentar lagi akan mengikuti UAS. Sedangkan untuk nasib para guru yang tidak menjalankan aturan kepala sekolah ini, kita diintimidasi dengan pemecatan. Kalau peraturan terus seperti ini, kami merasa keberatan” terangnya.

Sementara itu, pada saat wartawan hendak memintai tanggapan kepada Kepala SMP Negeri II Cikeusal, Ia tidak bisa di temui dengan alasan ada tamu dari inspektorat kata salah satu guru bernama Haryani.

Editor : Yakobus Eko