Manado, Indonesia Berita – Rencana kedatangan Ustad Felix Siauw sebagai pembicara utama dalam seminar nasional yang dilaksanakan pada bulan Maret mendatang menuai kontroversi bahkan berita ini menjadi viral dan trending topik di sosial media (sosmed) akhirnya dibatalkan.

Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Daerah (Kesbangpolda) Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) Steven Liow membenarkan kedatangan itu.

Menurut Steven, pihkanya sudah memanggil pihak sekolah, dan memberikan kesempatan klarifikasi, bahwa kegiatan ini tidak pernah dilaksanakan pihak sekolah, hanya saja kebetulan Pembina Rohis (Rohani Islam) sudah mengaku dirinya yang bertanggung jawab, dan berjanji acara tersebut tidak akan dilanjutkan.

Baca Juga : 

  1. Zaadit Taqwa, “Pesanan” atau Nurani!
  2. PMII sebagai Organisasi Kampus Menekan Radikalisme
  3. Macan Tutul Memangsa Sesamanya

“Memang saya melihat ini viral di media sosial. Jadi kami Kesbangpol sudah melakukan tindakan dengan membatalkan kedatangannya. Ini karena latar belakang si Felix,” kata dia.

Kesbangpolda Sulawesi Utara (Sulut) menjdi mediator pertemuan antara pihak Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 9 Manado yang dituding sebagai penyelenggara dengan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Sulut. Hal ini setelah muncul penolakan dari masyarakat seperti yang tersiar dan viral di media sosial (medsos).

Baca Juga : Kehebatan Diplomasi Presiden Soekarno

Ustad Felix ini terkenal (diduga) ini dinilai sejumlah tokoh agama memiliki paham radikal, intoleransi dan suka memprovokasi orang, mualaf yang suka jual agama sebelumnya di khotbahnya.

“Jadi sudah selesai, tidak lagi yang dipersoalkan. Mari kita menjaga kerukunan daerah kita yang kita cintai. Karena bicara kerukunan, Sulut sudah teruji. Saya juga meminta kepada masyarakat jika hendak mengadakan ivent-iven skala nasional di daerah ini harus sepengetahuan kami da seijin Polda (Kepolisian Daerah),” ujarnya.

Namun anehnya, Kepala Sekolah Meidy Tungkagi, mengaku tidak tahu menahu tentang pelaksanaan acara seminar tersebut, beliau menerangkan bahwa memang pernah ada proposal permintaan dana tentang sebuah seminar dari pembina ROHIS, tetapi untuk mempelajarinya lebih lanjut, Ia menugaskan wakasek kesiswaan agar mengkaji proposal tersebut.

“Intinya kegiatan di luar sekolah dan tidak melibatkan sekolah itu tak benat, apalagi mengatasnamakan sekolah itu tidak dibenarkan oleh kami,” kata dia.

Editor : MJ