Modern technology gives us many things.

Inilah Peta Persaingan di Pilkada Sulsel, Menurut SDI

Indonesia Berita – Hiruk pikuk ditahun politik kian terasa dengan hadirnya sejumlah figur potensial baik di pusat maupun daerah.

Bersamaan dengan itu politik lokal pemilihan kepala daerah ikut menjadi ajang perebutan kuasa rakyat oleh partai politik dengan mengusung calon kepala daerah. Tak dipungkiri Pilkada dipercaya memiliki korelasi yang kuat dengan ajang bergengsi lima tahunan yaitu pemilihan presiden.

Menurut Sinergi Data Indonesia (SDI) usai melakukan riset di daerah yang selama ini menjadi bukti sejarah betapa kuatnya Partai Golkar dan sampai kini masih tersisa bukti kekuatan tersebut. Yaitu Sulawesi Selatan provinsi yang selama ini mejadi kantong suara Golkar.

“Survei dilakukan di 24 Kabupaten/kota sejak tanggal 14 hingga 20 Februari 2018. Responden yang diwawancarai sebanyak 1000 orang, dengan margin of error 3.16% pada tingkat kepercayaan 95%. Responden dipilih dengan menggunakan metode multistage random sampling,” ujar Direktur SDI Barkah Pattimahu dalam siaran pers Minggu (11/3/2018).

Hasil survei SDI itu kata dia, disajikan dalam konferensi pers, mengambil tema “Peta Kekuatan CAPRES di kantong Golkar: potret Pilkada Sulsel”, dengan menghadirkan pembicara Barkah Pattimahu, Direktur Sinergi Data Indonesia, Muradi, Ph.D, ketua Pusat Studi Politik & Keamanan UNPAD Bandung, dan Viktus Murin, wakil sekjen DPP Partai Golkar bidang kajian strategis dan intelijen.

Survei yang dilakukan oleh Sinergi Data Indonesia itu jelas Barkah, menghasilkan sejumlah temuan, yang pertama, Alumni capres 2014 yakni Joko Widodo dan Prabowo Subianto masih mendominasi suara hasil polling.

Joko Widodo sebagai capres didukung oleh pemilih Sulsel sebesar 53.80%, disusul Prabowo Subianto 20.10%, sementara calon lain yang ikut meramaikan bursa masih dibawah 3%.

Meski tertinggi akunya, dukungan kepada Joko Widodo di Sulsel masih di bawah perolehan suara pada Pilpres 2014 yang mencapai 71.41%.

Sementara kata Barkah, dukungan Prabowo Subianto juga masih dibawah raihan suara pada Pilpres yakni sebesar 28.59%.

Lanjut ujarnya, temuan kedua Pilkada Sulsel menghadirkan 3 pasangan calon yang bersaing ketat yakni Ichsan Yasin Limpo-Andi Mudzakkar meraih dukungan suara 27.50%, disusul Nurdin Halid-Aziz Kahar Mudzakkar dengan elektabilitas mencapai 24.80%, posisi ketiga Nurdin Abdullah-Andi Sudirman Sulaiman 21.20% dan Agus Arifin Nu’mang-Tanri Bali Lamo 8.9% serta suara yang masih belum memutuskan 17.60%.
“Berdasarkan survey yang pernah dilakukan oleh SDI pada Desember 2017, raihan suara Ichsan Yasin Limpo-Andi Mudzakkar mencapai 30.30%,” ucapnya.

Dengan demikian tuturnya, suara pasangan ini mengalami penurunan di survey Fabruari 2018. Hal berbeda terjadi pada Nurdin Halid-Aziz Kahar Mudzakkar yang pada survey sebelumnya 22.30% kini naik menjadi 24.80%. Pasangan lain yang relative naik adalah pasangan Nurdin Abdullah-Andi Sudirman Sulaiman 20.00% di Desember 2017 dan pasangan yang stabil dukungannya adalah Agus Arifin Numang-Tanri Bali Lamo 8.1% pada survey Desember 2017.

“Turunnya suara Ichsan Yasin Limpo-Andi Mudzakkar ditengarai karena penolakan publik atas politik kekerabatan atau dinasti di Sulsel. Sebagai isu nasional, penolakan atas politik kekerabatan/dinasti terkonfirmasi dalam survei SDI, dimana lebih dari separuh atau 62.29% pemilih tidak menyetujui politik kekerabatan/dinasti. Hanya 23.49% yang menyatakan setuju,” tandasnya.

Dukungan yang impresif ucapnya, terjadi pada Nurdin Halid-Aziz Kahhar Mudzakkar. Meski diterpa isu korupsi masa lalu, namun masyarakat Sulsel masih terbuka bagi mereka yang pernah tersandung kasus hukum.

Sebanyak 40.90% pemilih yang menyatakan mereka yang pernah tersandung hukum dapat diberi kesempatan sebagai pemimpin, dan sebanyak 42.70% yang menyatakan tidak dapat diberi kesempatan untuk memimpin.

Nurdin Abdullah dan Andi Sudirman Sulaiman, punya tantangan tersendiri. Dimana publik menilai pengalaman memimpin kabupaten bukan jaminan keberhasilan dalam memimpin provinsi atau sebagai gubernur. Sebanyak 46.90% menyatakan pengalaman sebagai bupati tidak menjadi jaminan atau tolak ukur keberhasilan memimpin provinsi, sementara 33.10% menyatakan hal itu dapat menjamin keberhasilan memimpin provinsi.

Temuan ketiga, Mayoritas pemilih Sulsel adalah pemilih rasional, dimana 50.60% adalah pemilih rasional, sementara 26.40% adalah pemilih sosiologis dan 19.20% adalah pemilih psikologis. Dari 21.20% pemilih Nurdin Abdullah-Andi Sudirman Sulaiman, sebanyak 54.59% adalah pemilih rasional. Nurdin Halid-Aziz Kahhar Mudzkkar juga mendapat dukungan terbesar atau 52.00% pemiihnya adalah rasional, sementara Ichsan Yasin Limpo-Andi Mudzakkar sebanyak 45.84% dari pendukungnya adalah pemilih rasional. Siapakah yang akan menang ditentukan oleh kemampuannya meraih swing voters yang mencapai 47.30%.

Dari total swing voters di SULSEL yang mencapai 47.30% tersebut, sebanyak 54%nya adalah pemilih rasional. Olehnya itu siapakah yang mampu mempengaruhi pemilih rasional dengan visi, misi serta program yang tepat akan berhasil memenangkan pertarungan di Sulsel. Dua pasangan yang punya peluang besar meraih suara pemilih rasional adalah Nurdin Halid-Aziz Kahar Mudzakkar dan Nurdin Abdullah- Andi Sudirman Sulaiman.
Peluang besar lain yang dimiliki oleh Nurdin Halid-Aziz Kahar Mudzakar, karena pemilih SULSEL menginginkan pemimpin dari latar belakang tokoh agama dan pengusaha.

“Mereka yang menginginkan pemimpin dari kalangan tokoh agama sebesar 29.30% dan pengusaha 18.90%. Pasangan Nurdin Halid-Aziz Kahar Mudzakar adalah cermin dari dua latar belakang yang banyak diinginkan oleh pemilih,” ucap Barkah.

 

Komentar
Loading...