Menjadi Referensi Mendunia

Cegah Calo, 98 Institute Minta Kemenag Tetapkan Biaya Masuk Al-Azhar

Indonesiaberita.com, Jakarta – Direktur Eksekutif 98 Insitute, Sayed Junaidi Rizaldi, meminta Menteri Agama, Lukman Hakim Syarifudin menelusuri oknum kemenag yang menurunkan passing grade nilai bahasa arab bagi siswa asal Indonesia yang akan masuk Al-Azhar Mesir.

Semulanya passing grade nilai bahasa arab bernilai 70 hingga 80, kemudian turun menjadi 6,5.

Sebelumnya, Kasubdit Kelembagaan dan Kerjasama Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam, Dirjen Pendidikan Islam (Pendis) Kemenag, Agus Sholeh, mengatakan nilai minimal bahasa arab bagi siswa yang akan ke Al-Azhar Mesir minimal 6,5 pada Jum’at (9/3/2018).

Sayed juga meminta Kemenag megambil alih semua biaya bagi calon mahasiswa baru (camba) Universitas Al-Azhar asal Indonesia.

Baca Juga: Pandeglang harus Bebas Murid Drop Out

Hal itu dilakukan untuk menghilangkan calo alias broker yang selama ini menjanjikan bisa masuk Al-Azhar lewat jalur khusus.

Demikian dikatakan Sayed Junaidi Rizaldi dalam pesan singkatnya menanggapi soal 122 calon mahasiswa Al-Azhar yang menjadi korban broker kepada pewarta Indonesia Berita pada Selasa (13/3/2018).

Sayed melanjutkan, nilai bahasa arab itu menentukan bagi calon mahasiswa yang akan melanjutkan kuliah di universitas Al-Azhar Mesir.

“Perlu dicari oknum Kemenag atau ikatan alumni yang membuat kebijakan sepihak untuk passing grade yang semestinya diatas 70 s/d 80 menjadi 6,5 itu,” kata Pak Cik sapaan akrab Sayed Junaidi Rizaldi.

Baca Juga: Astaga Oknum Dosen FKIP Unkhair Diduga Pungli Mahasiswa Demo

Dirinya mempertanyakan, apakah selama ini memang ada ketetapan atau keputusan Menteri Agama soal jumlah mahasiswa baru (maba) yang akan masuk ke Universitas Al-Azhar Mesir setiap tahunnya, baik itu biaya mandiri (non beasiswa) ataupun beasiswa.

“Karena jika tidak salah, beasiswa dari Al-Azhar hanya 100 orang,” ujarnya.

Jemmy mendapat informasi juga tahun 2017 lalu, Kemenag meluluskan 1.555 orang yang akan kuliah di Al-Azhar. Namun, faktanya, lanjut dia, jumlah itu belum diterima semuanya oleh Al-Azhar.

“Bagaimana dengan yang saat ini di asrama 900 orang (kini sisa 700 orang). Kemana nantinya mereka akan tinggal ketika mahasiswa baru hasil test Mei 2018 akan tiba di Mesir bulan Oktober -November 2018 mendatang,” ujarnya.

Baca Juga: 98 Insitute Soroti Kinerja UKP Pancasila

Pihaknya menyarankan agar Kemenag mengambil alih semua biaya siswa yang telah dinyatakan lulus test karena penyelenggaraan test ke Mesir yang dilakukan Kemenag menggunakan dana APBN.

“Seharusnya model pembiayaan yang ditetapkan oleh Kemenang, lalu dikumpulkan oleh ikatan alumni mestinya dikelola dan disetorkan melalui bank negara. Jadi masuk Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP). Jadi terukur dan jelas masuk kas negara uangnya,” tambah Jemmy.

Menurutnya, jika pola seperti ini dilakukan akan mempersempit ruang gerak calo alias broker untuk bermain.

“Nah Kemenag sebagai perpanjangan tangan presiden harus mengkaji berapa harga biaya yang harus dan maksimal dibayar oleh camaba untuk studi ke Mesir. Misalnya saja, dipatok Rp20 juta (tiket pesawat one way, akomodasi sewa rumah setahun dll),” kata dia.

Perlu diketahui, sebanyak 122 orang calon mahasiswa universitas Al-Azhar saat ini terkatung-katung di Mesir karena belum bisa masuk kuliah di kampus itu.

Mereka datang ke Mesir tanpa melalui test dari Kemenag dan menjadi korban ‘broker’ yang bisa mengiming-imingi masuk ke Al-Azhar melalui jalur ‘khusus’.

Kemenag sendiri rencananya akan melakukan test di Cairo, Mesir pada tanggal 19-20 Maret nanti bagi 122 siswa tersebut.

Editor : Rizki Abadi

Komentar
Loading...