Menjadi Referensi Mendunia

GenPi Digital Influencer Kepariwisataan Indonesia

Indonesiaberita.com, Jakarta – Saat ini Era dunia telah berubah, perusahaan Digital merajai ekonomi dunia dengan konsep sharing economy-nya.  Pariwisata Indonesia juga harus beradaptasi dan bertransformasi dengan era baru tersebut, maka lahirlah program kebijakan Digital Tourism.

Kementerian Pariwisata memiliki 3 (tiga) program prioritas di Tahun 2018 untuk mewujudkan 20 Juta Wisman di Tahun 2019, Digital Tourism (E-Tourism), Homestay Desa Wisata dan Konektivitas Udara (Air Accesibility).

Ketiganya menjadi prioritas mengikuti trend industri dunia saat ini dimana sudah tidak lagi owned economy tapi sharing economy, dengan didukung oleh semangat Indonesia Incorporated maka target Presiden Joko Widodo tersebut dapat terwujud.

Begitu besarnya pengguna internet saat ini yang difasilitasi oleh Smartphone sehingga melahirkan sebuah Generasi Milenial. Sebuah generasi yang 80% eksis di dunia maya, media sosial dan media digital.

Kementerian Pariwisata menangkap peluang ini dengan melahirkan sebuah komunitas netizen zaman now yang tertarik dengan pariwisata dan 80% bergerak di sosial media, yaitu GenPI (Generasi Pesona Indonesia) dan GenWI (Generasi Wonderful Indonesia) yang sangat disambut baik oleh Menteri Pariwisata, Arief Yahya.

“GenPI/GenWI adalah generasi milenial dengan basis komunitas yang aktif mempromosikan Pariwisata Indonesia baik melalui blog, vlog atau medsos kepada masyarakat luas. Mereka sangat aktif dan rutin menggunakan jari mereka untuk pariwisata Indonesia. Passion mereka memang di pariwisata, untuk itu setiap hari mempromosikan tema-tema pariwisata di Instagram, Facebook, Twitter, YouTube, WeChat, Weibo, Line, Path, dan platform medsos lainnya,” jelas Arief Yahya.

Saat ini, GenPI telah terbentuk di 17 provinsi dengan target Juli 2018 ada di 34 provinsi. GenPI menjadi komunitas pariwisata  terbesar di Indonesia yang sifatnya nasional, saling support antar daerah, terdiri dari Netizen, Blogger, Vlogger, Fotografer, Videografer, Traveler, Jurnalis, Reporter, Influencer.

Komunitas ini digerakkan secara korporasi oleh Kementerian Pariwisata dengan target yang jelas dan skema professional.

“GenPI/GenWI merangkul volunteer dari berbagai kalangan komunitas yang bergerak mempromosikan pariwisata berbasis digital. Pembentukan GenPI/GenWI merupakan salah satu bentuk komitmen Kemenpar untuk menghidupkan media sosial di kalangan anak-anak muda Indonesia. Apalagi untuk memenangkan pasar pariwisata dunia, Indonesia harus menguasai dunia digital. Seperti yang sering saya katakan, the more digital, the more personal. Semakin digital, saya meyakini bisa menyentuh satu-persatu konsumen secara personal”, jelas Arief Yahya.

Dalam konteks strategi media yang sering disebut Menpar, Arief Yahya yaitu Paid, Owned, Social Media dan Endorser (POSE), GenPI/GenWI merupakan bagian dari Endorser.

Sementara jika dilihat dari konteks strategi Pentaheliks: Academician, Business, Community, Government, Media (ABGCM), GenPI/GenWI masuk dalam kelompok Community dan sekaligus Media(sosial).

Terkait dengan strategi POSE, Arief Yahya memberikan sedikit catatan mengenai posisi dari GenPI/GenWI ini. Dalam strategi komunikasi dikenal apa yang disebut Celebrity Endorser dan Digital Influencer dan GenPI/GenWI masuk ke dalam kategori Digital Influencer.

Sedangkan penggunaan Celebrity Endorsers Kemenpar telah melakukannya dengan bermitra dengan beberapa artis atau melalui kerjasama co-branding dengan sejumlah artis entrepreneur yang telah tandatangani MOU-nya beberapa waktu lalu.

“Karena common interest yang sama, mereka bisa kita andalkan untuk mempromosikan destinasi dan event-event pariwisata di tanah air. Mereka sudah menjadi evangelist dan advocator bagi dunia pariwisata Indonesia. Berbagai aktivasi digital bisa dilakukan, seperti lomba baik foto sosmed, vlog dan blog yang terbukti efektif memviralkan promosi pariwisata yang selalu kita gencarkan,” tambah Menpar, Arief Yahya.

Tema yang harus diangkat oleh GenPI/GenWI terkait tentang Destinasi, Calender Of Event dan Kebijakan Pariwisata dengan memiliki kode etik No Hoax, No Politik dan No Sara.

Editor : Yakobus Eko

Komentar
Loading...