Indonesiaberita.com, Bulukumba – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Direktorat Jenderal Kebudayaan menyerahkan sertifikat Pinisi sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) kepada Pemerintah Daerah Provinsi Sulawesi Selatan dan Kabupaten Bulukumba.

Sertifikat diserahkan langsung oleh Direktur Jenderal Kebudayaan, Hilmar Farid, kepada Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Sulawesi Selatan, A. Musyaffar Syah dan Wakil Bupati Bulukumba, Tomy Satria Yulianto, di Pelabuhan Bira, Bulukumbu, pada Selasa malam (27/3/2018).

Pada sidang ke-12 Komite WBTB Organisasi Pendidikan, Keilmuan dan Kebudayaan PBB (UNESCO) menetapkan seni pembuatan perahu Pinisi di Sulawesi Selatan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) milik Indonesia pada tanggal 7 Desember 2017 di Jeju Island, Korea Selatan.

Dalam sambutannya, Hilmar Farid menjelaskan arti penting Pinisi akan teknik perkapalan tradisional yang dimiliki nenek moyang bangsa Indonesia dan masih berkembang sampai saat ini sehingga menjadi suatu hal yang menakjubkan bagi dunia.

“Berbeda dengan teknik yang berada di barat, untuk membuat kapal orang pakai komputer, pakai hitung-hitungan, harus sekolah tinggi dulu, itu pun kerangkanya dulu baru badannya. Kalau disini orang turun temurun membuat perahu mulai dari bungkusnya dan baru kemudian kerangkanya tanpa menggunakan komputer”, ungkap Hilmar.

Baca Juga: Nikah Bareng Indonesiana Usung Tema Bhagolek di Tanah Jawa

Dengan penetapan ini, maka Indonesia telah memiliki delapan elemen budaya dalam daftar WBTB UNESCO. Tujuh elemen yang telah terdaftar sebelumnya adalah Wayang (2008), Keris (2008), Batik (2009), Angklung (2010), Tari Saman (2011), Noken Papua (2012), Tiga Genre Tari Tradisional Bali (2015) serta satu program pendidikan dan pelatihan tentang Batik di Museum Batik Pekalongan (2009).

Sejalan dengan hal tersebut, Kemendikbud melalui Undang-undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan memiliki tugas pokok untuk memajukan Kebudayaan Nasional Indonesia melalui langkah strategis berupa upaya pemajuan kebudayaan dalam bentuk perlindungan, pengembangan, pemanfaatan dan pembinaan guna mewujudkan masyarakat yang berkepribadian dalam kebudayaan.

Sehubungan dengan itu, Hilmar menambahkan untuk menjaga budaya pembuatan kapal yang saat ini sudah mulai berkurang, Kemendikbud berharap Pemerintah Daerah segera membangun Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) bidang budaya bahari.

“Pesan dari Mendikbud harus ada sesuatu yang dilakukan agar tradisi ini terus berkembang. Mungkin sudah waktunya kita punya sekolah yang mengajarkan budaya bahari agar Bulukumba ini sebagai salah satu pusat kebudayaan bahari di nusantara”, tambah Hilmar.

Selain penyerahan sertifikat kepada pemerintah daerah, juga diserahkan Maket Perahu Tradisional kepada enam maestro pembuat kapal penisi. Kegiatan ini dikemas dalam bentuk Pesta Rakyat dengan dimeriahkan Tari Tope Le’Leng dan Tari Berlayar serta pertunjukkan Drama Tari Pembuatan Pinisi.

Baca Juga: Marin Nusantara: Presiden Perlu Menginisiasi Satgas Tol Laut

Selain ratusan masyarakat yang ikut menyaksikan, turut hadir Direktur Warisan dan Diploma Budaya Kemendikbud, Nadjamuddin Ramly, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, A. Musyaffar Syah, Wakil Bupati Bulukumba, Tomy Satria Yulianto, Forum Koordinasi Pemerintah Kabupaten Bulukumba, Mantan Direktur Jenderal Kebudayaan, Katjung Maridjan serta tim ahli Pinisi.

Editor : Rizki Abadi