Indonesia Berita
Obyektif, Berimbang & Terpercaya

Ini Janji RR jika Dirinya jadi Presiden

IndonesiaBerita,com, MEDAN – Rizal Ramli yang sudah mendeklarasikan diri sebagai calon presiden di Pilpres 2019 terus melakukan blusukan di tanah air.

Dia mempunyai harapan besar menuju Indonesia emas masih ada, meski berbagai keterpurukan tengah melanda bangsa ini.

“Indonesia emas bisa dicapai jika pemimpin mendatang berani menangkap seratus orang brengsek yang bertangung jawab atas keadaan Indonesia hari ini,”

Baca Juga : Refleksi Rizal Ramli Ziarah di Makam Bung Hatta

“Bila ditanyakan, mungkinkah kita menuju Indonesia emas, saya jawab bisa. Bisa kalau presiden baru tahun 2019 nanti menangkap 100 orang brengsek di Indonesia dan mengasingkannya ke sebuah pulau terpencil,” kata Rizal Ramli saat berbicara di acara Nongkrong Politik RMOLSumut, bertajuk ‘Menuju Indonesia Emas’ di Kafe Jumpa Kawan, Medan, Sumatera Utara (Sumut), Sabtu (31/3/2018) malam.

Jika terpilih menjadi presiden Indonesia ujar Rizal, dia berjanji akan melakukan hal itu. Mantan Menko Ekonomi di era Gus Dur in menyebut, dirinya akan mengirim nyamuk malaria ke pulau yang berisi orang brengsek itu.

“Namun sebelum itu, kita akan kirimkan ahli biologi untuk menternakkan nyamuk malaria, agar mereka digigit nyamuk malaria,” kata dia disambut tawa hadirin.

Rizal Ramli merinci bahwa keseratus orang brengsek itu di antaranya adalah koruptor, lawyer, tukang sogok, hakim korup, jaksa korup, dan panitera korup. Termasuk pengusaha hitam yang mengemplang pajak.

“Saya tak mau disamakan dengan Presiden Duterte yang dianggap melanggar HAM karena nembakin pengedar narkoba, kalau 100 orang brengsek di Indonesia itu mati digigit nyamuk malaria, maka nyamuklah yang melanggar HAM,” tandas alumni ITB ini.

Rizal pun tak lupa menyentil masalah korupsi Ada yang salah dari sistem di Indonesia, sehingga banyak pejabat publik yang terciduk dalam kasus korupsi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Baca Juga : Rizal Ramli Diperkenalkan Luhut Pandjaitan Sebagai Capres

“Hari ini ada 300 sampai 350 bupati masuk penjara, setengah dari gubernur yang ada di Indonesia masuk penjara, ratusan anggota DPR, DPRD masuk juga. Itu artinya bukan lagi kasus orang per orang tetapi sudah sistemnya. Sistemnya harus dibenerin,” kata Menko Perekonomian era Presiden Abdurrahman Wahid itu.

Dirinya pun memberikan sebuah ilustrasi tentang pandangannya itu. Dalam ilustrasi itu, dia mengibarat seorang anak Medan yang pergi ke Singapura. Selama hidup di Singapura, si anak Medan ini bisa taat aturan yang ada di Negeri Singa itu. Ini lantaran Singapura menegakkan aturan di tengah masyarakat.

“Sebaliknya, anak Singapura datang ke Bintan dan mengikuti cara hidup orang Indonesia. Dia jadi ikut aturan begajulanl. Jadi ada sistem yang harus diperbaiki, ada perilaku yang harus diubah,” mantan Menko Kemaritiman ini.

Tahun 2019, adalah momentum tepat bagi bangsa ini kata dia, untuk keluar dari sistem demokrasi kriminal tersebut. Pilpres 2019 harus membuka kesempatan untuk menjadi demokrasi yang amanah.

“Tahun 2019 mendatang, kita harus ubah demokrasi kriminal menjadi demokrasi yang amanah,” ujar dia.

Lanjutnya kata dia demokrasi itu amanah, ini akan meninggalkan model penjajahan partai politik ala negara kapitalis, Amerika Serikat. Sehingga parpol tidak lagi dipaksa mencari uang dengan cara-cara tidak benar, seperti mengkorupsi dana dari anggaran belanja negara dan daerah.

“Total colongan beramai-ramai itu Rp 75 triliun. Hanya 10 persen yang disumbangkan ke partai politik, 90 persennya dibagi-bagi. Itu sebab anggota DPR-DPRD memiliki kemakmuran yang jauh lebih tinggi dari rakyat jelata,” tukasnya kata dia.

Komentar
Loading...