Indonesiaberita.com, JAKARTA – Terkait kerjasama yang dijalin antara Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan (BPJS-TK) dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), anggota Dewan Pengawas BPJS TK Poempida Hidayatulloh angkat bicara.

Sebelumnya jajaran direksi BPJS TK telah berkunjung ke kantor KPK untuk membahas kerjasama dua institusi tersebut. Kerjasama yang dimaksud bertujuan agar direksi mendapat pendampingan dari KPK dalam mengelola dana yang mencapai Rp. 320 triliun. Lebih jauh upaya ini diharapkan dapat mewujudkan tata kelola yang baik.

Saat disambangi oleh Indonesia Berita di ruangan kerjanya Gedung BPJS TK, Jakarta, Selasa, (3/4), dirinya mengaku punya pandangan lain terkait itu.

Selaku Dewan Pengawas, Poempida sangat mengapresiasi hal tersebut. Hanya saja, pria ini mengatakan tidak tahu maksud dari penghematan biaya investasi sebesar Rp 300 miliar seperti yang disampaikan oleh Deputi Bidang Pencegahan KPK Pahala Nainggolan.

Baca juga :

Menurutnya biaya rata-rata investasi yang dikeluarkan pertahunnya diperkirakan Rp 500 miliar, yang peruntukannya pembayaran pajak serta jasa broker saham sesuai dengan poin-poin yang sudah tertuang di dalam kontrak.

“Kira-kira biaya transaksi investasi itu sekitar Rp 500 miliar. Untuk pajak Rp 250 miliar dan sisanya untuk mitra BPJS Ketenagakerjaan. Kalaupun dihemat, itu akan menjadi surplus bagi BPJS TK,” paparnya.

Sebagai penutup, pria yang dijuluk bayi ajaib ini juga menyampaikan bahwa dalam berinvestasi pihak BPJS TK sudah melakukan perencanaan sebelumnya. Semakin besar keuntungan yang diharapkan, maka kemungkinan proses trading saham akan semakin sering dilakukan. Untuk itu pihaknya mengakui dalam proses tersebut, mereka harus membayar broker saham dengan harga lebih.

“Kadang-kadang kita harus membayar broker saham itu lebih. Supaya trading ini sehat dan kencang. Trading kecang itu bisa rugi bisa untung. Semakin sering kita trading, harusnya logikanya untung. Pasti kita akan bayar lebih mahal ke broker. Jadi, jangan dilihat dari saving-nya, tapi perilaku orang-orangnya,” tutup Poempida.

Editor: RA