Modern technology gives us many things.

Jerry Massie Sebut Pasangan DJOSS bisa Unggul di Last Minute

IndonesiaBerita.com – Elektabilitas pasangan Djarot Saiful Hidayat-Sihar Sitorus terus merangkak naik.
Dari empat lembaga survey yang telah dilakukan, Djarot-Sihar, terus mengalami peningkatan yang signifikan.

Justru elektabilitas pasangan Edy Rahmayadi-Musa Rajekshah yang masih terbilang kumulatif. Seperti survey yang diumumkan lembaga riset PRC, elektabilitas DJOSS berada di angka 38,4 persen. Sedangkan ERAMAS berada di angka 48,7 persen atau selisihnya tinggal 13 persen.

Menyikapi hal itu Pengamat politik dari Indonesian Public Institute (IPI) Jerry Massie salah satu faktor utama pasangan Djarot – Sihar mengalami kenaikan yakni JR Saragih sudah mulai merapat ke DJOSS.

Pasalnya kata Jerry, Saragih sudah menyatakan dukungannya pada DJOSS. Salah satunya adalah strategi.
Pendekatan dan isu kampanye memang DJOSS lebih dominan ketimbang ERAMAS.
Faktor lainnya mesin partai PDI-P dan PPP yang terua bergerak. Apalagi mereka didongkrak dengan relawan yang terus bekerja
Bahkan kata Jerry, para relawan Jokowi pun ikut membantu dalam pemenangan seperti Jokowi Center.
Memang awalnya, elektabilitas Edy Rahmayadi cukup tinggi.
Lanjut kata Jerry last minute sangat menentukan. Jika isu politik dan visi misi kurang munpini bisa jadi pasangan ERAMASS tumbang.

“Saya lihat ERAMASS sudah puas dengan pencapaian awal, mereka lupa perang masih sedang berlangsung.

Lebih jauh lagi, menurut Dadang, Pasangan ERAMAS seperti tidak punya strategi lain selain strategi agama. “Jadi mereka kehilangan variabel-variabel pengaruh yang lain. Jadi hanya satu variabel saja yang dominan. Dan itu, seolah -olah kalau menurut yang kita lihat, terjebak pada opini yang dikembangkan di tengah-tengah masyarakat, bahwa satu-satunya cara agar ERAMAS bisa menang adalah dengan isu agama,” ujarnya.

Hal itu dimanfaatkan betul oleh DJOSS yang masuk ke segala lini. Mereka terus melakukan penetrasi untuk menggaet dukungan.

“Mereka tidak mau terjebak, pada isu primordial, keagamaan, SARA, sehingga membuat begitu banyak upaya lain untuk mempengaruhi pemilih. Mereka masuk ke kelompok mana saja, tanpa ikatan primordial, Djarot berbagi peran dengan Sihar,” jelasnya.

DJOSS juga mendapat tambahan amunisi dari relawan yang dulunya mendukung Jokowi saat bertarung di Pilpres. Sedangkan ERAMAS hanya mendapat dukungan dari upaya sendiri.

Relawan Jokowi menjadi keuntungan sendiri bagi DJOSS. Sehingga mereka tinggal mencari dukungan dari variabel yang lain.

“13 persen selisihnya bisa terkejar jadi jika strategi politik lemah mereka bisa kalah, apalagi di Sumut 60 persen pemilih dikuasai pemilih asal Jawa yang sudah lama menetap di Sumut,” kata Jerry.

Komentar
Loading...