Modern technology gives us many things.

Prilaku Politik dan Terorisme

Oleh : Verra Tri Satria

Tragedi kekerasan baru – baru ini terjadi lagi. Setelah mengorbankan jiwa anak bangsa di Mako Brimob Kelapa dua Depok, tak berselang lama bom bunuh diri terjadi dibeberapa Gereja di Surabaya. Bahkan sehari kemudian Polresta Surabaya tak luput dari serangan. Kekerasan demi kekerasan telah merenggut banyak korban jiwa yang tak berdosa.

Hal ini membuat kita prihatin, bukan hanya cemas untuk berada disebuah lokasi, tapi juga memberi efek tekanan psykologi sosial dimasyarakat, terlebih lagi hajat politik pesta demokrasi sudah semakin dekat.

Memang banyak asumsi yang berkembang terkait dengan tujuan para pelaku teror. Yang pasti dari peristiwa itu, telah menciptakan ketakutan dan keresahan serta saling curiga ditengah masyarakat.

Mungkin mereka akan lebih puas jika terjadi chaos. Konflik antara kubu yang berbeda baik paham politik, suku maupun agama semakin membayangi. Karena dari kerusuhan ini para penganut paham radikalisme memiliki ruang yang lebih besar untuk menguasai wilayah secara ideologi.

Dari sisi agama sudah jelas bahwa menyakiti orang yang tak berdosa sangat diharamkan. Untuk itu pemerintah dan para tokoh masyarakat serta tokoh agama tidak pernah jenuh melakukan tindakan preventif agar kasus serupa tak terulang lagi.

Namun dilain pihak para pelaku terorisme lebih licin dari seekor belut. Bahkan kini lebih berani melakukan tindakan kekerasan, seperti yang terjadi di markas Kepolisian. hal inilah yang membuat masyarakat bertanya – tanya, siapa yang melakukan dibalik semua ini dan apa tujuan dari kekerasan itu?

Sidebar banner ads

Perlu diketahui, bahwa upaya untuk meminimalisir kejahatan terorisme bukan hanya dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat saja, tapi juga harus dibarengi oleh prilaku santun para politisi dengan menghindari unsur penjualan agama yang akan melahirkan kebencian. Meski memang tidak bisa dipungkiri bahwa bahwa ambisi politik rentan dalam menghalalkan segala cara

Akan menjadi bahaya, ketika prilaku politisi yang selalu menjual agama, diserap oleh masyarakat terutama bagi para pendukungnya. Dilain hal, generalisasi opini yang mengarah pada kebenaran sepihak, jika dihadapkan pada kondisi yang tak diinginkan, maka rentan timbul kekecewaan dan merasa jauh dari ketidakadilan.

Lalu masuklah doktrin sesat yang akan dipresentasikan menjadi alat perjuangan yang salah kaprah. Benih – benih kecil sudah terlihat dari bentuk intimidasi yang sifatnya horisontal, yang pada akhirnya dapat merugikan kita semua.

Ditambah lagi, ketika terjadi peristiwa bom bunuh diri, sebagian politisi malah memberi pernyataan yang sangat kontroversi dan sarat akan nuansa politis. Pernyataan yang bukan berdasarkan pada rasa empati terhadap korban, lalu dijadikan signal bagi para penganut paham radikalisme, untuk lebih rapi baik dalam merancang maupun saat melakukan teror.

Tidak menutup kemungkinan pola pergerakan dilakukan lebih meningkat dan masif melalui afiliasi organisasi politik. Dari sinilah jaringan teroris memiliki angin segar dimana partai tertentu bisa dijadikan pintu masuk, baik itu dalam melakukan perekrutan, penyebaran paham ataupun mengutus anggotanya kedalam institusi pemerintah atau parlemen. Tujuannya adalah dengan menelurkan kebijakan yang dijadikan celah untuk tidak menghalangi pergerakan mereka.

Dari kasus yang pernah terungkap, terbukti adanya tokoh yang mendukung paham radikalisme bahkan ada juga yang terlibat dan beberapa sudah diamankan oleh pihak kepolisian. Fenomena ini akan terus berkembang jika tidak ditangani sedini dan secermat mungkin.

Memang sulit menghabisi gerakan ini, tapi setidaknya pemerintah harus memiliki ketegasan dan kewaspadaan untuk mempersempit ruang gerak jaringan teroris. Selain itu, masyarakat juga harus menjauhi sifat individualisme, dengan berkontribusi didalam kegiatan sosial yang ada dilingkungannya.

Penulis adalah Eksponen 98, Pengamat Sosial dan Pembina Pramuka dibeberapa Sekolah Menengah.

Komentar
Loading...