Modern technology gives us many things.

Bedah Utang, Jokowi Centre Gelar Diskusi Publik Nasional

Indonesiaberita.com – Sejumlah pakar ekonomi “Jokowi Centre” tampil dalam seminar ekonomi 2018 di Jakarta.

Guru Besar Pasar Modal dan Perbankan? Adler Haymans Manurung dan Ekonom dan Pendiri LBP, Lucky Bayu Purnomo.

Indonesia Berita Inline Artikel

Moderator dalam diskusi ini Ketua Presidium JC, Sahat M Lumbanraja dan Achmad Zaini.

Saat mempresentssikan materinya, Adler Haymans Manurung banyak menggali tentang utang Indonesia.

Dijelaskannya, bahwa suatu negara dapat dijalankan dengan baik bila memiliki pembiayaan yang cukup dan secara terus menerus tersedia. Biasanya sumber pembiayaan negara diharapkan dari hasil pajak, bila sumber dana ini tidak mencukupi maka Pemerintah harus mencari dari sumber lain, salah satunya berasal dari utang luar negeri.

“Tujuan utang LN adalah membuat masyarakat sejahtera misalnya untuk tujuan produktif seperti pembangunan infrastruktur jalan, jembatan, pelabuhan, bandara dan program untuk mensejahterahkan rakyat dan bukan untuk konsumtif misalnya belanja pegawai dan sebagainya,” katanya.

Dewan Pakar Jokowi Centre ini menjelaskan, komposisi utang pemerintah tahun 2017 berasal dari pinjaman(loans) 744 Trilyun, Utang Sekuritas (Debt Securities) 3.195 Trilyun dengan Total 3.938 Trilyun yang merupakan 31,7 % dari GDP(Produk Domestik Bruto, PDB). Ini merupakan akumulasi dari utang pokok dan bunganya. Tidak ada yang salah dengan utang karena semua negara melakukannya. Bahkan dari data yang ada Japan 240 % dari PDB, USA 90 % dari GDP, Germany 60 % dari GDP, Italy 120 % dari GDP dan sebagainya. Dengan menggunakan Teori Debt-Relief Laffer Curve, pemerintah melalui Kementerian Keuangan harus mengelola utang lebih baik dan menghitung kemampuan kita untuk membayarnya” ujarnya.

Oleh karena itu, Manurung menyarankan solusi Rekayasa Keuangan(Financial Engineering) untuk mengatasi persoalan Utang Indonesia.

“Misalkan, pemerintah membutuhkan dana sebesar US $ 30 Milyar untuk pembangunan atau investasi, untuk itu Pemerintah harus menawarkan surat utang sebesar US$ 40 Milyar. Pemerintah meminjam dana sebesar US$ 10 Milyar dari Bank Indonesia untuk membeli surat utang yang diterbitkan Pemerintah UK atau USA dengan periode 30 Tahun tanpa bunga(Zero coupon) dimana pada tahun ke -30 nilai surat utang ini menjadi US$ 40 Milyar. Utang bayar utang tetapi tidak menumpuk utang. Sehingga di APBN pemerintah hanya bayar bunganya saja, principal tidak perlu dipikirkan lagi, karena Principal akan dibayar oleh pinjaman melalui bon UK atau USA tadi. Sehingga anak cucu kita tidak akan memikirkan utang.

Justru utang dapat digunakan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia yang lebih besar. Kita sebagai anak bangsa harus memberikan konsep bagaimana mencari solusinya, bukan seperti yang terjadi sekarang ini masalah utang hanya dipolitisasi tetapi tidak ada solusi mengatasinya” tegasnya.

Sementara, Lucky Bayu Purnomo mengupas Gairah Ekonomi dan Dinamika Pasar 2018. Begiti pula mengenai persoalan- persoalan inti  yang menjadi indikator yang selalu dijadikan tantangan bagi setiap pemerintahan.

“IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) salah satu indikator setiap negara dalam melihat fakta otentik. Ketika seluruh masyarakat Indonesia sedang berduka karena peristiwa Bom di Surabaya, pada pembukaan BEI jam 9.47 AM, IHSG melemah 1,27 %. Menjelang penutupan sore hari terjadi koreksi hanya melemah 0.70 %. Jadi, shock yang terjadi hanya sesaat. Karena publik atau pasar melihat persoalan itu sangat rasional dalam kategori general risk dan spesific risk,” jelas dia.

Jadi kesimpulan menurutnya, kejadian yang terjadi memiliki efek temporer dan bersifat spesific risk dalam skala rendah.

“Pertumbuhan ekonomi Indonesia Triwulan I – 2018(Y-on-Y) adalah 5,06 %. Dimana Jawa masih memberikan kontribusi pertumbuhan ekonomi 58,67 % , Sumatera 21,54 %,  Kalimantan 8,24 %, Sulawesi 6,02 %, Bali & Nusa Tenggara 3,03 %, Maluku & Papua 2,50 %,” urainya.

Dia membandingkan data yang ada sejak Mei 2017 sampai Mei 2018.  Posisi Infrastruktur yang saat ini menjadi primadona pemerintah masih berada di bawah rata- rata. Publik akan berpikir sangat relevan dalam menilai sendiri  kontribusi kinerja sektoral pertumbuhan ekonomi. Gairah ekonomi sektor yang di atas rata- rata justru adalah Industri Dasar, Pertambangan, dan Finance.

“Pemerintah harus memperkuat strategi agar kinerja sektoral tertentu dapat berkontribusi meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia,” tandas dia.

Minyak Dunia dan Rupiah juga menjadi indikator penting. Harga minyak dunia meningkat terus grafiknya, harganya 76 USD/Barrel. Pelemahan rupiah yang sempat menembus Rp.14.040 hari Jumat lalu, terjadi akibat penguatan dollar.  Situasi eksternal lebih besar pengaruhnya dari pada domestik. Jadi bukan karena merosotnya kepercayaan di pasar domestik. Namun, pemerintah dapat melakukan pengelolaan risiko. Bank Indonesia dapat melakukan stress test seperti sebelumnya dan melakukan upaya yang diperlukan untuk menjaga kestabilan rupiah dan sebagainya.

 

Komentar
Loading...