Menjadi Referensi Mendunia

Gejala Kekalahan Propaganda Jokowi

Oleh: Trisno Yulianto

Indonesiaberita.com SOLO – Dari berbagai hasil survei Lembaga yang boleh dianggap kompeten Elektabilitas Joko Widodo sulit disaingi oleh para kandidat Calon Presiden (Capres) lainnya. Tingkat kepuasan publik atas kinerja pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla juga meningkat signifikan. Namun dibalik raihan elektabilitas dan tingkat kepuasan publik, terdapat fakta bahwa Joko Widodo sebagai figure Capres petahana mengalami kekalahan yang memprihatinkan dalam dimensi propaganda politik.

Jokowi yang berkuasa dan memiliki dukungan media Televisi-radio “resmi” sebagai repersentasi pemerintah justru lebih sering menjadi korban berita fitnah, bully, kalimat nyinyir, hujatan, kritik, dan semacamnya. Propaganda politik  kubu pendukung dan suksesor Jokowi kalah militan-cerdik dibanding kekuatan propaganda kelompok anti Jokowi.

Baca Juga : Kelas Buruh Harus Berpartai

Militansi dan kecerdikan propaganda kelompok politik anti Jokowi hadir dalam berbagai ruang media sosial, media daring, dan kumpulan massa dalam ritus “keagamaan”, “politik”, “obrolan warung Kopi”. Bahkan mereka ingin pula menjadikan Masjid (tempat ibadah) dan Mimbar dakwah untuk mengkampanyekan keburukan-keburukan Jokowi. Pokoknya Jokowi adalah salah dan “jahat” dan kesalahan serta kejahatan Jokowi harus disiarkan dimana-mana dan kapanpun juga. Para Propagandis anti Jokowi tidak henti-hentinya menyebarkan berita dan ajakan pada khalayak untuk membenci Jokowi dan untuk mengganti Jokowi ditahun 2019.

Diantara propagandis  anti Jokowi yang sedang “naik daun” saat ini adalah Neno Warisman dan Mardani Al Sera, kader PKS (atau HTI?) yang selalu bersuara lantang saat berorasi maupun saat tampil di acara TV One (ingat hanya di TV One), arah propaganda politik Anti Jokowi yang menjadi bahan obrolan politisi, diskusi di warung kopi, materi ceramah Ustads  Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) atau Front Pembela Islam (FPI) kebanyakan bermuatan materi Fitnah, Isu SARA, dan bahasa-bahasa kritik tanpa data, serta kalimat “nyinyir” tanpa bukti.

Baca Juga : 20 Tahun Reformasi Minus Representasi Politik Kiri

Hal tersebut menyebar luas dan dipercaya masyarakat sebagai kebenaran yang yang tidak bisa diganggu-gugat. Wajarlah masyarakat yang mendengar ceramah, berita, informasi tentang keburukan-keburukan dan kesalahan-kesalahan Jokowi percaya bulat karena kebanyakan tidak melek literasi dan tidak pernah baca koran cetak atau media daring yang bikin pintar.

Konten propaganda politik anti Jokowi sangat efektif tersebar luas melalui pesan Whatsapp, Facebook, Twitter dan Media daring (online) yang tidak memenuhi kaidah jurnalistik.  Tidak mengherankan jika pesan-pesan WA, status-status di wall facebook, cuitan di twitter yang mengkritik (eh menghujat) Jokowi pasti dibanjiri komen yang apresiatif dari kelompok atau individu manusia yang dilekati julukan “Kampreters”.

Sayangnya barisan pendukung Jokowi baik yang masuk golongan semi elite Relawan Politik, pebinis politik yang berlabel Relawan bayaran, atau pun Cebongers (Fans Jokowi di Medsos), sampai para staff yang digaji Mahal di Kantor Staf Kepresidenan tidak memiliki antisipasi yang progresif terhadap serangan konten propaganda anti Jokowi. Kebanyakan unggahan propaganda kelompok pro Jokowi lebih bersifat ‘defensif” yakni mengklarifikasi atau membalas serangan fitnah-isu SARA-sinisme-kenyinyiran yang disebarkan oleh pihak lawan. Anehnya bahasa klarifikasi atau serangan baliknya tidak menggunakan bahasa yang populis, jadi sulit dipahami oleh para pengguna medsos yang bisa disebut Tuna Literasi cetak dan media daring.

Padahal dalam logika akal sehat, kubu Jokowi seharusnya lebih mampu untuk memenangkan propaganda politik  yang bermuatan informasi-berita tentang kisah sukses (the success story) dan praktek terbaik (best Practise) beragam keberhasilan program pemerintahan Jokowi-JK. Termasuk hasil pemenuhan janji politik dan aktualisasi visi Nawacita. Kenyataannya kubu Jokowi selalu “tergopoh-gopoh” dalam membalas serangan propaganda politik kelompok anti Jokowi.

Baca Juga : Perayaan May Day, Para Pimpinan Buruh Ikut Kampanyekan RUU Masyarakat Adat

Banyak kasus “kekalahan” kubu Jokowi dalam adu propaganda politik. Serangan Isu Tenaga Kerja Asing (TKA) misalnya membuat Jokowi harus mengklarifikasi sendiri dalam Forum dialog Khusus bersama Nawja Shihab di sebuah stasiun Televisi. Pendukung Jokowi yang berada di lembaga Kantor Staf Kepresidenan (KSP) tidak memiliki inisiasi yang cerdas untuk menangkis isu TKA asal Cina. Isu Utang Luar Negeri, barisan propagandis Jokowi juga lembek tidak mampu menangkal dengan cerdas dan bahasa lugas. Untung masih ada sosok retoris yang tegas dan berbahasa “jelas-lugas” seperti Adian Napitupulu yang mampu membalas serangan isu terhadap pemerintahan Jokowi, termasuk isu TKA, Hutang LN, dsb. Namun patut diingat Adian Napitupulu bukan figure khusus yang berposisi sebagai propagandis Jokowi.

IMTSI Sidebar

Terkait serangan politik propaganda anti Jokowi, semacam reproduksi Tagar 2019Ganti Presiden kubu Jokowi juga sempat kerepotan melakukan serangan balik, sebelum akhirnya menemukan kalimat balasan melalui Tagar “Dia Sibuk Kerja”.Untung saja Tagar 2019gantiPresiden meredup paska kasus Intimidasi seorang Ibu diacara CFD di Jakarta beberapa waktu lalu dan jualan kaos Tagar 2019gantipresiden di Kantor-kantor PKS tidak laku karena terlampau mahal harganya, dan barisan anak muda milenial lebih menggemari kaos bergambar tokoh hero Avengers atau jersey Klub-klub sepakbola kelas wahid didunia.

Kekalahan Propaganda Politik Jokowi sendiri disebabkan oleh beberapa faktor, yakni: Pertama, ketidakmampuan tim Propaganda Jokowi dalam menciptakan produk propaganda politik secara massif dan hegemonic. Seharusnya tim Propaganda Jokowi memanfaatkan sumber dana, sumber daya kekuasaan untuk menciptakan konten propaganda yang bukan hanya menangkis serangan propaganda putih/hitam kubu Lawan, namun menegasikan propaganda kubu lawan sampai derajat titik nol. Kekalahan telak! Harus diakui tim propaganda Jokowi baik yang “resmi” digaji Negara maupun yang “illegal” digaji dari dana Non budgeter tidak lebih baik dari seorang Ratna Sarumpaet atau Rocky Gerung yang sekali berucap selalu jadi viral dan mendapat dukungan moral dari jutaan kampreters, dan cemooh dari sedikit cebongers.

Baca Juga : KASBI Desak Trump Hentikan Penjajahan Terhadap Palestina

Kedua, kegagalan Tim propaganda Jokowi dalam mengoptimalisasikan ruang/laman media popular untuk bahan kampanye keberhasilan program pemerintahan Jokowi. Tim propaganda Jokowi mungkin merasa “hebat” dan “percaya diri” bisa merangkul media cetak mainstream untuk mengkampanyekan program pemerintah namun tidak sadar bahwa 70 peresen masyarakat Indonesia saat ini beralih ke literasi media online dan budaya baca pendek media sosial. Seharusnya Tim Propaganda Jokowi berani mengajak kerjasama perusahaan Fb, Twitter/Wa dan media daring untuk jadi bagian menyukseskan tagar “TetapJokowi2019”. Membayar mahalpun sah-sah saja.

Ketiga, Ketiadaan kreatifitas dalam pembangunan citra diri (self image) Jokowi. Joko Widodo yang memiliki banyak kelebihan dibanding tokoh politik lain seharusnya bisa dipoles dalam kemasan Citra positif yang progresif untuk menangkis segala Black Propaganda. Jokowi yang dekat dengan Ulama NU seharusnya bisa dicitrakan sebagai Presiden pro Ulama untuk menangkis isu Jokowi anti Ulama. Jokowi yang santun-sederhana-Jujur seharusnya bisa dikemas dalam kampanye sebagai pemimpin yang terbaik, dan yang lain penuh ambisi kekuasaan dan (akan) rakus jika berkuasa. Eh, kenyataan Jokowi dikalangan Jammaah Wahabi masih saja dianggap anti Ulama-antiIslam-antek aseng, dan sebagainya. Bukti…dan nyata bahwa tidak adanya inovasi dalam pembangunan citra diri Jokowi yang massif dan Makjleb bagi massa.

Baca Juga : Politik Progresif Buruh Post May Day

Tim Propaganda Jokowi memang perlu berintrospeksi diri dan menyadari kekalahan propaganda politik. Propaganda Politik Jokowi terbukti tidak dominan dalam jagat isu politik yang populis. Padahal dengan sumber dana dan sumber daya manusia yang “melimpah” Tim Propaganda Jokowi bisa saja mencetak Koran Desa untuk sebagai saluran informasi program pemerintah di 74 ribu desa diseluruh Indonesia.Tidak keliru dan jangan malu Tim Propaganda Jokowi mencontoh Orde Baru yang dulu bikin proyek Koran Masuk Desa. Untuk cetak Koran Desa dengan empat halaman sebanyak 75 ribu eksemplar murah yang penting bermain gambar dan ulasan singkat. Masak tim propaganda Jokowi tidak punya anggaran.

Selanjutnya Tim Propaganda Jokowi bisa mengajak kerjasama sama dengan “shareholder” media Wa, Fb, Twitter untuk kerjasama Iklan pencitraan Jokowi. Sebagai  nasihat kalau diterima syukur, nggak diterima nggak apa-apa, Patut dicatat dan diingat bahwa dalam politik kekuasaan, propaganda sangat menentukan arah kemenangan seorang pemimpin dan calon pemimpin. Propaganda jauh lebih kuat dibanding “senjata”. Propaganda akan mampu memutarbalikkan fakta menjadi fiksi, dan sebaliknya akan mampu membuat Fiksi menjadi fakta yang dipercaya massa.

Nasihat pertama, :”Untuk Tim Propaganda Jokowi belajarlah dari momen kemenangan politik yang “fantastis” dalam sejarah kekuasaan didunia diawali dari kemenangan propaganda politik. Naiknya Adolf Hitler dan NAZI ke panggung kekuasaan Jerman ditahun 1938 juga oleh kelihaian tim propaganda yang mampu membangkitkan spirit ultra nasionalisme bangsa Jerman dari sejarah kekalahan perang dunia pertama. Kemenangan Lula Da Silva di Pemilu Brazil tahun 2000, dan diikuti gelombang kemenangan politik “sosialis” Amerika Latin era 2000an juga buah dari propaganda politik pro buruh/kaum miskin.  Propaganda politik yang gencar melalui sebaran Pamlet, Koran basis, berita internet, selebaran massa dan diakhiri oleh gerakan massa.

Baca Juga : KASBI Nilai Buruh Hanya Jadi Alat Politik Pada Saat Pemilu

Nasihat Kedua: “Untuk Tim propaganda Jokowi kalian harus mengingat dengan cermat momen kekalahan AHOK sehabat Jokowi dalam Pilkada DKI  yang juga diawali dengan serangan propaganda hitam yang gencar. Ahok di gebuki berulang-ulang dalam isu Korupsi, Isu penggusuran, Isu reklamasi, isu anti Cina, isu tolak pemimpin Kafir dan akhirnya menemukan kulminasi dalam isu penistaan agama.”Gong”-nya adalah rangkaian demonstrasi massa yang didukung anggaran besar, yang menjatuhkan citra dan legitimasi AHOK. Ingat propaganda anti AHOK juga melalui media “corong” HTI secara rutin, melalui retorika di tempat ibadah, dan sebagainya.”

Nasihat Ketiga: “Untuk Tim propaganda Jokowi, kalian mbok lebih militant-solid-cerdas dan berkinerja lebih baik dibanding tim propaganda Lawan yang kini modalnya pas-pasan.

Penulis, simpatisan dari Konfederasi KASBI

Komentar
Loading...