Modern technology gives us many things.

Kampus dan Tiga Cabang Radikalisme

Kampus dan Tiga Cabang Radikalisme

Oleh : Trisno Yulianto

Indonesiaberita.com SOLO – Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror Polri menggeledah Gelanggang Mahasiswa Kampus Universitas Riau dan menangkap satu terduga teroris beserta barang bukti. Barang bukti berupa empat paket Bom yang konon akan diledakkan di Gedung DPR Jakarta dan Gedung DPRD Riau.

Tertangkapnya terduga teroris alumni Fisip Universitas Riau yang merupakan anggota Jaringan Jamaah Anshorut Daulah (JAD) menambah daftar alumni PT yang terlibat atau terpapar paham radikalisme (cum Terorisme). Sebelumnya para terduga teroris pelaku Bom Bunuh diri di Surabaya awal Mei 2018 rata-rata juga alumni atau jebolan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang terpandang..

Suatu kenyataan pula bahwa banyak mahasiswa-alumni PT sampai dosen yang terpapar terlibat dalam organisasi radikal. Keterlibatan dari yang sifatnya sebagai simpatisan, partisipan maupun pengurus organisasi radikal yang menolak paham negara kebangsaan. Data “Intelijen” yang sempat beredar di jejaring medsos saat momentum pembubaran HTI oleh pemerintah akhir tahun 2017 menyebutkan ribuan PNS dilingkup birokrasi kampus dan pemerintahan adalah anggota atau pengurus aktif HTI. HTI yang jelas bertujuan mendirikan negara daulah khilafah dan menolak negara bangsa yang berpaham Pancasila.

Baca juga 

Banyaknya mahasiswa, alumni kampus maupun akademisi yang menjadi bagian gerakan organisasi radikalisme sesungguhnya bukan fenomena yang “tiba-tiba” muncul ke permukaan. Penanaman benih radikalisme dengan ajaran yang menolak toleransi, keberagaman, Coexistence peacefully (hidup rukun berdampingan), dan sampai konstitusi negara telah dimulai diera 80an. Penanaman benih radikalisme dilakukan secara terselubung untuk menghindari represi negara Orde Baru.

Pola penanaman benih radikalisme di Kampus, salah satunya terjadi di Kampus-kampus negeri dilakukan dengan berbagai metode diantaranya ialah:

Pertama, mengintervensi program internal kampus dibidang dakwah keagamaan. Elemen propagandis radikalisme “menyaru” menjadi “juru dakwah” dan membangun jaringan melalui kegiatan Sie Kerohanian Islam (SKI) dan aktivitas dakwah “tersembunyi” di Masjid Kampus. Demikian kegiatan kajian keagamaan yang disusupi paham radikalisme biasanya memanfaatkan pertemuan khusus dengan grup mahasiswa yang telah diorganisir melalui penyamaran kegiatan “pengajian” di asrama mahasiswa atau kawasan indekost mahasiswa.

Kedua, pengembangan propaganda jihad dan gerakan Islam (radikal) melalui penerbitan bacaan yang disebarkan “door to door” dikalangan mahasiswa yang telah diikat dalam aktifitas dakwah keagamaan kaum radikal. Penerbitan bacaan yang dilanjutkan dengan kajian secara intensif memungkinkan calon “kader” atau anggota organisasi radikal memiliki keyakinan atas paham radikalisme. Mereka dalam posisi menerima materi ajaran radikalisme dalam ruang indoktrinansi yakni diskusi satu arah tanpa kritisisme.

Ketiga, merebut kepemimpinan organisasi intra kampus untuk memperluas ruang pengkaderan dan pembangunan basis massa. Perebutan kepemimpinan organisasi intra kampus dari mulai kepengurusan Masjid Universitas, organisasi kerohanisan ditingkat fakultas, sampai organisasi struktural kemahasiswaan.

Baca juga 

Perlu dicatat diera 80an sampai 90an terjadi kekalahan politis organisasi-organisasi ekstra kampus semacam HMI, PMII dan yang lainnya dalam upaya pembangunan basis di kampus-kampus negeri di Indonesia. HMI yang sangat dominan dalam penguasaan kepengurusan Masjid Kampus mulai di-“enyah”-kan oleh embrio organisasi semacam KAMMI, HTI dan sebagainya yang tampil dalam wajah “Liqo-Liqo”.

Sementara diskusi keagamaan diera 60an dan 70an dominan dikuasai HMI dan PMII semakin dimenangkan kelompok-kelompok dakwah kampus yang sebagian adalah elemen radikal. Memang diera 80an ada polarisasi kutub gerakan mahasiswa yang menjelaskan antara kubu gerakan demokrasi versus gerakan Islam Kampus. Gerakan demokrasi terwakili organisasi mahasiswa yang semula bernaung dibawah ikatan kelompok Cipayung. Sedangkan gerakan Islam Kampus mulai direbut oleh embrio KAMMI dan Gema Pembebasan (HTI).

Baca juga : Tak Jalankan Hak Normatif, Ratusan Buruh Mogok dan Dirikan Tenda

Benih radikalisme di Kampus yang mulai mengakar kuat diera 80an dan berkembang pesat post orba dibedakan menjadi tiga (3) cabang dengan preferensi politik ideologi yang berbeda diantaranya yaitu :

Pertama ialah Cabang radikalisme di Kampus-kampus negeri yang “mainstream” adalah kelompok beroaham radikalisme yang menolak paham negara bangsa (nation state) dan memiliki tujuan ideolohgi membentuk negara agama (khilafah, darul Islam, dsb). Kelompok radikalisme yang menolak paham NKRI dan Pancasila. Dari mereka ada yang berorientasi pada kekerasan dan non kekerasan. Non kekerasan terreprsentasi dalam tubuh HTI dan Pro kekerasan adalah jaringan NII/JI/JAD/JAT/MMI.

Kedua kelompok radikal yang berorientasi pada perjuangan Jihad dan kekerasan berorientasi global dan regional. Kelompok ini biasanya membangun jaringan dikampus untuk mencari bibit-bibit (kader) yang akan dimobilisasi untuk gerakan jihad dan kekerasan baik di dalam negeri maupun diluar negeri.

Momentum perang afghanistan, Philipina, Irak, Bosnia menjadi daya dorong eksodus kader radikal kampus untuk menjadi kombatan dalam perang dinegara-negara tersebut. Contoh alumni Kampus (UNDIP) yang menjadi Kombatan di Philipina adalah Taufik Riky bendahara JI yang alumni D 3 FT Undip tahun 1992 yang kini mendekam di penjara militer di Manila.

Ketiga kelompok berpandangan pro radikalisme yang akhirnya keluar dari basis pengorganisasian di Kampus untuk terlibat secara langsung dalam organisasi terorisme. Dari Mulai JI, JAD, MIT, dan sebagainya. Biasanya kelompok ini mendorong para mahasiswa yang berhasil di indoktrinansi untuk meninggalkan dunia akademik yang dianggap tidak sesuai dengan ajaran yang mereka yakini.

Baca juga 

Pengorganisasian basis radikalisme di Kampus lebih manjur pada fakultas eksakta yang mahasiswanya memiliki kecenderungan dari komunitas “abangan” dan tidak terdidik ajaran agama sejak kecil. Pun ada kelompok yang telah terdidik pemahaman radikal diusia muda sejak SMA yang masuk jurusan eksakta yang relatif mudah terkena virus indokrinansi.

Perkembangan paham radikalisme di Kampus memang sangat pesat paska soeharto tumbang tahun 1998. Kelompok radikal berani bergerak secara terbuka untuk merekrut mahasiswa sebagai kader bahkan para dosen yang seharusnya lebih berwawasan liberal. Harus diakui organisasi radikal pro khilafah semacam HTI basis terkuat di Kampus negeri semacam IPB, ITB, Unibraw, dan sebagainya.

Data Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) bahwa ada 30 peresen mahasiswa di beberapa kampus negeri favorite terpapar radikalisme ada titik kebenarannya. Paparan virus radikalisme dalam dimensi kesepakatan atas konsep jihad pro kekerasan, anti negara Pancasila, dan keterlibatan dalam gerakan “subversif” anti Konstitusi. Tugas berat bagi Kemenristek-dikti dan pemerintah untuk meredam, mereduksi dan mengeliminasi radikalisme di Kampus. Dari mulai pembangunan ulang konsepsi pemahaman kebangsaan dan kenegaraan bagi mahasiswa dan dosen sampai tindakan tegas bagi mereka yang terlibat dalam radikalisme.

Pengembangan pendidikan pancasila yang kontekstual perlu dilakukan kembali dengan metode yang ilmiah dan demokratik. Pengembangan edukasi ilmu oengetahuan yang rasional perlu dilakukan. Pengawasan gerakan radikal dan pembatasan paham radikalisme harus benar-benar dijalankan oleh pimpinan kampus. Hal tersebut membutuhkan aksi sterilisasi, sosialisasi dan reedukasi ideologi kebangsaan secara konsisten dengan melibatkan berbagai kalangan  yang masih mencintai konsepsi kebangsaan berprinsip kemajemukan.

 

PenulisKoordinator FORKATA, mantan aktifis Pers Mahasiswa

Komentar
Loading...