Indonesiaberita.com, JAKARTA – Ada idiom dalam bahasa latin mengatakan, “Mens Sana in Corpore Sano” yang artinya di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat. Demikian juga dengan perekonomian suatu negara, apabila sistem perekonomiannya bagus, maka niscaya kondisi ekonomi tetap sehat, dan “virus” yang masuk berupa faktor eksternal, seperti dampak dari badai krisis ekonomi di luar negeri juga tak akan berpengaruh.

Menurut ekonom senior, DR. Rizal Ramli, kondisi ekonomi Indonesia sangat rapuh dan mudah terserang bada krisis ekonomi, lantaran tim ekonomi yang ada saat ini salah mengambil kebijakan dan masih berpaham neoliberal.

Rizal Ramli pun menyoroti solusi Bank Indonesia untuk menahan laju penurunan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dengan mengeluarkan kebijakan menaikkan tingkat suku bunga pada akhir pekan ini.

“Kebijakan menaikan tingkat suku bunga sekarang ini justru malah menciptakan konsekuensi baru yang dapat semakin memperumit situasi. Ekonomi akan mengalami kontraksi, dan potensi kredit macet juga akan lebih tinggi,” ujar Rizal Ramli saat berolahraga di arena Car Free Day Jakarta Pusat, Minggu (1/7).

Baca Juga : Poros Kunci Jokowi dan Prabowo Terbantahkan, Capres Alternatif Seperti Rizal Ramli Berpeluang Menang di 2019

“Kenaikan suku bunga 50 basis poin diharapkan bisa menahan laju penurunan nilai tukar rupiah. Tapi itu bisa bikin ekonomi kita mengalami maju kena mundur kena, kayak judul film Warkop DKI,” tukas calon Presiden Rakyat itu.

Seharusnya, sambung Rizal Ramli, tim ekonomi pemerintah harus ikut membantu dengan cara memperbaiki defisit neraca pembayaran, defisit jasa, defisit perdagangan dan sebagainya.

Berbagai defisit itu, kata Rizal Ramli, bisa menjadi faktor yang digunakan spekulator untuk semakin menghantam rupiah.

Di sisi lain, Rizal meragukan kemampuan tim ekonomi pemerintahan Joko Widodo.

“Peringatan tentang berbagai defisit itu sudah kami sampaikan sejak tahun lalu. Tapi selalu dibantah-bantah oleh tim ekonomi pemerintah. Mereka bilang ekonomi dikelola secara pruden. Kalau pruden kenapa defisit semua?” tandas Rizal.

Editor : RA