Indonesiaberita.com, RIAU – Ketua Pengurus Daerah Barisan Pemuda Adat Nusantara (PD-BPAN) Indragiri Hulu Riau, Supriadi Tongga mengatakan bahwa Masyarakat Adat tidak boleh malu untuk mengetahui identitasnya. Dalam perjalanannya untuk memperjuangkan wilayah adat, dirinya kerap kali mendapatkan ancam dari perusahaan yang ada di Komunitas Talang Mamak.

“Kita harus mengakui identitas kita dan jangan pernah menginginkan hak bukan milik kita, tapi kalau hak itu milik masyarakat adat, kita harus berani mempertahankan dan memperjuangkannya,” ujar Supriadi di Riau,(6/7) sekira pukul 16.00 sore.

Baca juga : Tujuh Rumah di Komunitas Bulusu Rayo, Kabupaten Bulungan Hangus Terbakar

Supriadi mengaku tidak pernah merasa takut ketika di Komunitasnya terjadi konflik dengan pihak perusahaan. Menurutnya selama ia berada di jalan yang benar tentu prinsip itu harus tetap dipertahankan. Bakan dia juga sering kali mendapatkan ancaman pembunuhan oleh preman yang dibayar perusahaan ketika sedang memperjuangkan hak-hak masyarakat adat.

“Waktu tahun 2016, para pemuda di Talang Mamak pernah terjadi bentrokan dengan perusahaan PT.Runggu. Perusahaan yang bergerak di bidang Sawit itu banyak merusak hutan dan membuat air yang mengalir di Sungai Batang Cenaku mengalami kekeringan, Kami berkumpul untuk dan melakukan penyegelan Buldoser yang akan beroprasi di Komunitas,” ucap Supriadi.

Baca juga : PD BPAN Osing Serahkan Bantuan Korban Banjir Bandang di Banyuwangi

Dikatakan Supriadi bahwa keberadaan Perusahaan Sawit di Komunitasnya sangat meresahkan masyarakat yang tempat tinggalnya tidak begitu jauh dengan lokasi tersebut,”Kita sebagai pemuda harus lebih aktif berperan agar wilayah adat tidak dikuasai oleh perusahaan. Sehingga kelak kita sebagai anak muda yang bisa mengelola hutan dan tanah yang ada di Komunitas,” tutup Supriadi.

Penulis : Arwan

Editor : Jum