Indonesiaberita.com, LAMPUNG – Gamolan Institute Lampung menanggapi pernyataan Seno Aji terhadap fenomena pelecehan terhadap salah satu penutup kepala khas Lampung, Hanuang Bani.

Hal ini terkait dari pernyataan Seno Aji yang mengatakan Hanuang Bani seperti jin penyabut nyawa.

Menurut Ketua Gamolan Institute Lampung Novellia Yulistin Sanggem menegaskan pernyataan itu tidak dapat dibenarkan.

“Etika, tata Krama sopan dan santun bagian dari adat budaya harus dijunjung tinggi. Karena ketika kita beradat maka kita beradab.” ungkap Novellia Yulistin Sanggem dalam keterangan persnya kepada Indonesia Berita di Lampung, Kamis (22/7/2018).

Selanjutnya Novel mengatakan bahwa Seno Aji harus diajarkan tentang adat budaya, diajarkan etika tata Krama dengan cara yang beradab karena kita orang adat.

“Sangsi adat adalah sangsi sosial, ada yang dengan denda adat, ada dengan dikucilkan, atau sesuai dengan kesalahan yang diperbuat.” katanya.

Novel menyampaikan bahwa Seno Aji memang sudah meminta maaf melalui media.namun reaksi dari beberapa masyarakat belum mereda.

“Sebaiknya Seno Aji menggunakan cara adat untuk minta maaf, lalu kita sebagai masyarakat adat, sebagai saudara sudah sepatutnya saling memaafkan.” jelas Novel lagi.

Sebagai penutup putri dari (alm.) Wanmauli Sanggem anak adat dari Megou pak tulang bawang marga Tegamoan ini mengungkapkan jadikan seorang Seno Aji dan lainnya diberi pelajaran dengan cara memberikan pendidikan adat agar ia mencintai adat budaya Lampung. Dimana langit dipijak disitu langit dijunjung,

“Ketika sudah saling memaafkan, menjadi saudara, dan membuat orang yg tidak mengerti adat dan tidak mencintai adat akhirnya menjunjung adat budaya Lampung.” tutupnya.

Editor : YE