Menjadi Referensi Mendunia

Diduga Aniaya Warga, Lurah Lambale Dipolisikan

Indonesiaberita.com, KENDARI – Lurah Lambale, Kecamatan Kabaena Timur, Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara, Alkautsar Mubarak dilaporkan ke pihak berwajib atas dugaan tindak penganiayaan terhadap salah seorang warga bernama Agusalim (30), Senin (16/07/2018) lalu.

Berdasarkan keterangan korban, diketahui insiden tersebut terjadi usai rapat revisi panitia masjid yang dilaksanakan di Balai Kesenian Kecamatan Kabaena Timur. Saat itu terjadi adu mulut antara orang tua korban La Daulu dengan oknum lurah Lambale yang didasari adanya pembahasan di luar rapat yang menyinggung pihak keluarga korban.

Bermaksud meminta klarifikasi, La Daulu justru mendapat reaksi represif dari oknum lurah. Saat itulah korban (Agusalim-red) berdiri untuk melereai. Namun diluar dugaan Agusalim justru menjadi sasaran pelampiasan kekesalan oknum lurah.

“Saat itu saya hanya bermaksud untuk melerai jangan sampai terjadi hal yang tidak diinginkan terhadap orang tua saya. Tiba-tiba oknum lurah mau menyerang balik akan tetapi saat itu pihak berwajib yang juga menghadiri rapat langsung menengahi. Pada saat situasi akan meredah, Pak Lurah menarik leher baju saya dari belakang, disusul La Naeya selaku Kepala Dusun ikut menarik leher baju saya bagian depan,” terang Agus.

Insiden tersebut tidak berlangsung lama dan berhasil ditangani oleh pihak berwajib dari Polsek Kabaena Timur. Akibatnya, korban mengalami memar serta luka gores di bagian punggung. Kejadian tersebut disaksikan langsung oleh Camat Kabaena Timur, pegawai Kelurahan serta masyarakat yang masih berada di lokasi.

Dikonfirmasi oleh Indonesia Berita, Lurah Lambale Alkautsar Mubarak membatah keterangan tersebut. Dirinya mengaku tidak terlibat dalam tindak kekerasan yang dialami oleh korban.

“Saya tidak tahu siapa yang menarik leher baju korban. Hanya saja saat rapat berlangsung, memang Agusalim itu banyak memberi kritikan kepada pemerintah baik unsur lurah maupun camat. Itu kan tidak sopan,” ungkap Alkautsar via telpon seluler, Rabu (18/7/2018).

Sementara itu saksi kejadian, Asril menyampaikan bahwa saat rapat berlangsung, korban hanya mempertanyakan subtansi rapat yang menurutnya bukan kewenangan Kecamatan. Sebab yang akan direvisi adalah panitia pengurus masjid Kelurahan.

“Saat itu rapat berlangsung biasa-biasa saja dan tidak mesti tersinggung. Namanya rapat bersama masyarakat apalagi sifat rapatnya terbuka jadi semua orang punya hak bicara. Dan saat itu korban dipersilahkan oleh moderator,” jelas Asril yang juga dihubungi via telpon.

Terkait tindak penganiayaan yang dialami korban, Asril mengakui terjadinya hal tersebut. Saat itu dirinya berada tepat ditempat kejadian perkara.

Saat ini pihak Polsek Kabaena Timur telah menerima laporan korban dan akan segera ditindak lanjuti.

 

Editor : Mastobelo

 

Komentar
Loading...