Menjadi Referensi Mendunia

Lagi, Warga Perempuan Bergerak Sulawesi Tengah di Deklarasikan

Indonesiaberita.com, PALU – Warga Perempuan Bergerak (WPB) Sulawesi Tengah dideklarasikan oleh sejumlah aktivis perempuan yang cukup dikenal luas sebagai pemerhati masalah perempuan dan anak serta pemerhati sosial. Ini yang kedua kalinya Warga Perempuan Bergerak (WPB) dibentuk pada hari Jumat, 20 Juli di Palu. Deklarasi perdana dilakukan di Jakarta 3 Juli lalu.

Menurut Arti Kaili Wati, Koordinator WPB Sulawesi Tengah bahwa Warga Perempuan Bergerak (WPB) berangkat dari rasa prihatin yang makin mendalam atas situasi bangsa saat ini yang seakan-akan dikepung oleh masalah yang timbul dari isu radikalisme, intoleransi, dan terorisme. Generasi muda bangsa Indonesia di seluruh daerah paling rentan terpangaruh oleh isu-isu asosial yang kian marak akhir-akhir ini, tandas mantan Anggota DPRD Kabupaten Donggala ini.

Salah satu inisiator Soraya Sultan, yang juga Sekjend Kelompok Perjuangan Kesetaraan Perempuan Sulawesi Tengah menyatakan keresahan dan ketidaknyamanan dalam masyarakat yang mengancam keamanan warga sudah sampai memecah belah komunitas, memicu kebencian dan prasangka terhadap kaum minoritas dan menciptakan ketidakharmonisan antar komunikas, antar keluarga.

Humas WPB Sulteng ini menambahkan, bahkan hubungan antara sesama anggota keluarga menjadi saling curiga. Ini juga dipicu oleh berbagai informasi seputar isu radikalisme, intoleransi, dan penyebaran kebencian yang banyak bersumber dari berita yang dibuat-buat atau hoax. Ini harus direspons serius, kata aktivis perempuan yang akrab dipanggil Aya ini.

Pada kesempatan yang sama, Eva Bande yang dikenal luas sebagai aktivis pembela HAM menegaskan, bahwa perempuan harus mengambil posisi dan peran strategis untuk menyikapi keprihatinan itu dengan langkah-langkah konkret. Ini dapat dimulai dengan mengorganisir seluruh potensi dan sumber daya perempuan Sulawesi Tengah sehingga menjadi satu kekuatan yang kokoh agar bisa memiliki posisi tawar dengan para pemegang kendali kuasa di berbagai arena pengambilan keputusan, di daerah hingga di pusat.

“Bhinneka Tunggal Ika sebagai simbol kesatuan bangsa harus berjalan seiring selaras dengan manifestasi nilai-nilai Pancasila yang akan dijalankan oleh pandu-pandu muda bangsa sekarang dan kemudian.” ujarnya

Pembentukan Warga Perempuan Bergerak (WPB) hadir sebagai perwujudan sikap tersebut dan harus menjadi pelopornya, sambung Dewi Rana Amir. Sebab, Perempuan adalah populasi terbesar di Indonesia. Dengan demikian eksistensi WPB dalam memperjuangkan kepentingan kaum perempuan agar menjadi perhatian para pengambil keputusan, bukan sekadar karena jumlah besar yang termobilisasi, melainkan sebagai sebuah kekuatan yang terorganisir.

Sesuai dengan kapasitas kami, lanjut Dewi Rana Amir yang sehari-hari menakhodai Lingkar Belajar untuk Perempuan Sulteng, WPB berkomitmen untuk melakukan berbagai aktivitas dan tindakan dalam meningkatkan ketangguhan warga perempuan dan anak untuk melindungi keluarganya dari isu radikalisme, mencegah perpecahan antar komunitas yang beragam di lingkungannya, dan mendorong adanya rasa aman dan nyaman bersama masyarakat lain di ruang publik.

Hal senada, Akademisi Universitas Tadulako, Nisbah yang aktif menyuarakan kepentingan perempuan, menyatakan, “kehadiran WPB adalah bentuk komitmen dan tanggungjawab kewarganegaraan kami dari Sulawesi Tengah sebagai bagian integral dari Bangsa Indonesia yang sedang diombang-ambing isu radikalisme dan inteloransi, sebagai kontribusi kami untuk membangun tradisi politik demokratis yang berkeadaban dan berkemajuan, sebagaimana yang diperjuangkan oleh Presiden Joko Widodo, selaras dengan Cita ke-9 Nawacita, yaitu : “Memperteguh Kebhinekaan dan Memperkuat Restorasi Sosial”.

Warga Perempuan Bergerak ingin mengajak masyarakat untuk bersama-sama melawan intoleransi dan radikalisme demi merayakan keragaman Indonesia, tutup salah seorang deklator yang berasal dari Kabupaten Sigi, Ibu Hj Hazizah M Irwan Lapatta (Praktisi Perempuan dan Anak Kabupaten Sigi).

Turut hadir juga dalam deklarasi ini, Arimbi Heroeputri, Direktur Pusat Kajian Pengembangan Berdikari (PKP Berdikari) Jakarta.

Editor : YE

Komentar
Loading...