Menjadi Referensi Mendunia

Gencar Safari Politik Isyarat Prabowo Hanya King Maker

Indonesiaberita.com, JAKARTA – Semakin gencarnya Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto melakukan safari politik dengan bertemu tokoh-tokoh politik jelang pendaftaran calon di Pilpres 2019, menandakan semakin menguatkan isyarat bahwa Prabowo hanya akan menjadi king maker, bukan calon presiden.

Menurut peneliti Indonesia Public Institute (IPI) Jerry Massie jika Prabowo menjadi capres, untuk menentukan cawapres, tentu tak perlu melakukan safari politik tersebut.

“Silatuhami politik ini bisa jadi menunjukkan bahwa Prabowo akan menjadi king maker. Karena kalau sudah niat ingin nyapres, seharusnya Prabowo tidak perlu lagi bertemu dengan kubu ini itu. Langsung saja fight, biar para pendukungnya tidak menganggap Prabowo sedang galau,” kata peneliti Indonesia Public Institute (IPI) Jerry Massie kepada Indonesia Berita di Jakarta, Sabtu (21/7/2018).

Selanjutnya Jerry menjelaskan sikap Prabowo ini berbeda dengan capres petahana Joko Widodo yang konsisten menjalin pertemuan dengan hanya partai pendukungnya saja.

“Hal tersebut berbeda dengan koalisi Nasdem, PPP, Golkar, PDIP dan Hanura yang sudah paten dan tinggal mengumumkan siapa pendamping Jokowi. Karena Jokowi sudah mengantongi lima nama cawapresnya,” jelas Jerry.

Seperri diketahui Mantan Danjen Kopasus ini tercatat ada empat tokoh yang sudah ditemuinya dalam tiga hari.

Pertemuan pertama adalah dengan Ketua Umum PBNU Said Aqil Siroj di kantornya, Jalan Kramat Raya, Senen, Jakarta Pusat, Senin (16/7). Kemudian pada Selasa (17/7), Prabowo bertemu dengan dua tokoh sekaligus. Tokoh tersebut adalah Ketua DPP PDIP nonaktif Puan Maharani dan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan.
Dari tiga pertemuan itu, Prabowo menyatakan hal yang sama, bahwa pertemuan tersebut hanya bentuk silaturahmi yang masih berkaitaan dengan suasana Idul Fitri.

Baca juga : Pertemuan SBY Dengan Prabowo Akan Banyak Kejutan Politik Jelang Pilpres 2019

Sementara pertemuan terakhir adalah menjenguk Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang terbaring sakit di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto pada Rabu (18/7) malam.

Menurut Jerry Massie, meski menolak menyatakan pertemuan itu terkait pilpres, namun publik tidak bisa dibohongi bahwa Prabowo berupaya menjalin dukungan agar langkahnya menuju kursi RI 1 mendapat dukungan banyak partai.

“Publik sudah pintar dan melek politik. Masak di tahun politik ini masih bicara silaturahmi. Itu hanya bumbu saja. Intinya bagaimana mencari win-win solution yang bisa ditawarkan oleh Prabowo maupun pihak yang dikunjunginya,” tegas Jerry Massie.

Tetapi karena terlalu banyak manuver, menurut Jerry Massie , justru menjadi tidak optimal.

“Bisa jadi karena terlalu banyak permintaan dari ketiga parpol ini, akan terjadi kebuntuan politik,” terangnya.

Kegelisahan Prabowo dalam menentukan calon wakilnya menurut Jerry Massie, juga terlihat saat mengunjungi Ketum PBNU Said Aqil Siradj dan politisi PDIP Puan Maharani yang notabene ada di barisan pendukung pemerintahan Jokowi.

Atas dasar alasan tersebut, jebolan doctor American Global University ini mengimbau agar Prabowo segera saja mengumumkan calon wakil presidennya agar kekuatan partai koalisi segera terbangun.

“Perlu politik on time bukan in time. Tepat guna, tepat waktu dan sasaran. Jika konsisten bukan tidak mungkin Prabowo menang. Partai internal dan koalisi solid. Baik orang-orang, method (metode) jalan dengan baik, bukan jalan di tempat, money (atau dana pilpres), market share atau tahu pangsa pasar politik serta branding politik jelas maka Prabowo bisa leading,” jelasnya.

Namun dari tiga calon wakil presiden yang mungkin saat ini sedang terbangun, Jerry menduga Prabowo akan memilih wakilnya di antara Demokrat atau PKS.

“Kalau Prabowo – Zulkifli agak berat. Pasalnya periode lalu Prabowo -Hatta atau Gerindra – PAN. Jadi tinggal Gerindra – Demokrat atau Gerindra – PKS,” tambahnya.

Senada dengan Jerry, Direktur Eksekutif Voxpol Center Pangi Syarwi Chaniago meyakini Prabowo tidak akan maju dalam Pilpres 2019, melainkan hanya akan menjadi seorang king maker yang bertarung di balik layar.

Baca juga :Pengamat Prediksi SBY Berkoalisi Dengan Prabowo

Pangi menakar, Prabowo memiliki banyak pertimbangan. Soal logistik, soal beban mental Prabowo yang pernah kalah dua kali dalam Pilpres, hingga soal sisi humanis dan keluarga yang bisa digembosi atau terus diserang lawan politik demi menurunkan elektabilitasnya.

Makanya, kata Pangi, Prabowo jauh lebih terhormat dan disegani apabila mengatur dari belakang layar capres dan cawapres yang kelak diusung. Prabowo pun akan jadi seorang negarawan.

“Tidak perlu Prabowo berdarah-darah dan jadi bemper,” ujarnya.

Menurut Pangi, Prabowo ditakdirkan Tuhan menjadi seorang king maker. Ia dianugerahi tangan dingin dan talenta dalam mengatur dan menyiapkan pemimpin.

Prabowo adalah orang yang membawa Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), Joko Widodo dan Sandiaga Uno memimpin Jakarta. Menurut Pangi, Prabowo akan seperti Megawati Soekarnoputri, SBY dan Jusuf Kalla yang memainkan peran mengatur strategi di belakang layar.

“Tinggal menunggu apakah Prabowo akan memberi kejutan. Apakah beliau pada saat injure time atau last minute akan mengajukan paket capres dan cawapres yang sudah digodok dan disepakati di partai koalisi,” tutur Pangi.

Editor : YE

Komentar
Loading...