Menjadi Referensi Mendunia

Peraih Mendali Perunggu 1976 Tersenyum

Indonesiaberita.com, SURABAYA – Ada pepatah Tiongkok yang mengatakan: “Jika Anda menginginkan kebahagiaan selama satu jam, tidur sianglah. Jika Anda menginginkan kebahagiaan untuk satu hari, pergilah memancing. Jika Anda menginginkan kebahagiaan selama satu tahun, warisi kekayaan. Jika Anda menginginkan kebahagiaan seumur hidup, bantulah orang lain.”

Pagi ini, Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi, mengunjungi Bapak Soeharto (68 tahun). Seorang kakek yang pada SEA Games 1976 lalu mempersembahkan medali perunggu untuk Indonesia pada cabang olahraga tolak peluru dan lari 100 meter.

Menteri yang dikenal dekat dengan atlet itu mengunjungi seorang mantan atlet yang bernasib kurang baik mengungkapkan Soeharto tanpa sanak famili, tanpa anak dan cucu.

“Pahlawan olahraga ini hanya hidup bersama sang istri dalam kondisi kedua matanya tidak bisa melihat dengan jelas. Ditambah, pasangan hidupnya juga sedang sakit-sakitan. Istrinya bernama Astuti (75 tahun) menderita tumor otak. Saat ini kesadarannya menurun dan dibantu alat pernapasan.” ungkap Menpora, Imam Nahrawi saat mengunjungi kediaman Soeharto, Selasa (23/7/2018) pagi tadi.

Selanjutnya Imam Nahrawi mengatakan Kemenpora terus berkomitmen untuk memberi apresiasi kepada zeluruh pejuang olahraga yang telah mengharumkan nama bangsa.

“Kemenpora terus berkomitmen untuk memberi apresiasi terhadap pejuang olahraga yang telah mengharumkan nama bangsa. Apa yang terjadi dengan Bapak Soeharto, mantan atlet kita hari ini bukanlah tentang membagi kisah sedih, tapi justru ia memberi inspirasi kepada kita semua agar tidak kehilangan semangat dan tidak kehilangan harapan,” ucapnya seraya tetap tersenyum menatap kondisi Soeharto kini.

Baca juga : Tim Olimpiade Biologi Indonesia Indonesia Raih Empat Perak, Siapa Mereka?

Kondisi suami-istri ini memang tidak baik. Padahal dulu, Soeharto adalah atlet andalan Indonesia. Tercatat prestasinya selama membela merah putih yakni meraih emas olahraga lempar lembing dalam Kejuaraan Asia Pasifik, meraih perunggu olahraga panca lomba pada 1977. Selang dua tahun, Soeharto meraih perak olahraga lempar lembing dalam kejuaraan tingkat dunia di Inggris. Atas prestasi itulah pula, pada 1986 Presiden Soeharto memberi tanda bintang penghargaan untuk dirinya.

Kini, bentuk penghargaan yang sedang dibutuhkan Soeharto bukanlah bintang dari lempengan besi dan tembaga. Ia hanya berharap segera dirawat di rumah sakit secara gratis. Selain itu, dia juga ingin ada orang-orang yang merawat dirinya dan istrinya.

“Bantuan yang kami berikan hari ini, murni karena kami mendengar informasi ini dan langsung berinisiatif mengunjungi Bapak Soeharto di rumahnya. Kebetulan Saya sedang melakukan kunjungan kerja disini.” ujar Imam Nahrawi yang menyerahkan bantuan senilai Rp 40 juta kepada keluarga Soeharto.

Dirinya berharap bantuan yang diberikan tidak semata dinilai dari jumlah yang diberikan.

“Kami ingin bantuan ini menjadi pendorong bagi pihak lain di luar sana lebh banyak lagi yang ingin menyampaikan bantuannya kepada keluarga Soeharto,’’ ucap Imam.

Kini, meski dalam gelap, Soeharto tetap mampu tersenyum. Saat dikunjungi oleh Menpora, ia tersenyum lebar. Sehingga tampak beban hidupnya berkurang meski hanya sesaat.

Baca juga : Tingkatkan Kemampuan Pendamping Kementerian PDTT Siapkan Akademi Desa

Selama ini, orang-orang baik menghampiri dirinya. Ada donatur yang memberinya sembako, ada yang secara sukarela membayar tanggungan listrik dan di rumahnya, tetangganya juga datang untuk memberinya makan. Dari pihak Dinas Sosial sendiri, Soeharto dirawat dengan cara memberinya makan setiap hari.

Politisi PKB ini berjanji, Kementerian yang dipimpinnya akan membuat standardisasi pemberian bonus dan penghargaan kepada atlet berprestasi dalam turnamen yang bersifat single event dan juga kepada para legenda olahraga dalam bentuk regulasi yang permanen.

“Kami akan mendorong DPR untuk membuat undang-undang soal pemberian penghargaan kepada atlet berprestasi, mantan atlet dan para legenda olahraga, agar kebijakannya menjadi permanen. Pemberian bonus, penghargaan dan sejenisnya harus betul-betul diberikan berdasarkan aturan dan regulasi yang mengikat, kami tidak ingin publik menilai bahwa pemerintah memberikan bantuan karena tekanan publik atau hanya kebijakan menteri saja.” jelas Imam.

Selama ini, menurutnya, Pasal 86 Ayat 1 Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional telah mengatur tentang pelaku olahraga, organisasi olahraga, lembaga pemerintah atau swasta yang diberi penghargaan oleh pemerintah. UU itu juga sudah diteruskan dengan Peraturan Presiden No 44/2014 tentang Peningkatan Prestasi Olahraga dan Permenpora No 1684/2015,

“Namun ke depan, harus ada standardisasi yang jelas mengenai kompetisi tingkat mana yang layak diberi hadiah dan berapa besaran bonus yang diberikan, dan forum pembahasan yang melibatkan para pemangku kepentingan di bidang olahraga, praktisi dan akademisi menuju pembuatan undang-undang ini juga harus segera dimulai saat ini,” tutup Imam.

Editor : YE

Komentar
Loading...