Menjadi Referensi Mendunia

Sepenggal Kesaksian Dibalik Periatiwa 27 Juli 1996 (Bagian III)

(Lanjutan …….)

Rupanya militer sudah menyiapkan pra kondisi untuk memukul PRD. Mereka ingin menghentikan langkah PRD berjuang bersama elemen-elemen radikal di tubuh PDI melawan Rezim Soeharto. Bukan hanya di Jakarta, di berbagai daerah PRD bahu membahu dengan elemen maju PDI mendorong radikalisasi massa untuk melawan Rezim Soeharto.

Di Surabaya, Herman Hendrawan menjadi orang kepercayaan Sutjipto (Ketua DPW PDI Jatim). Dia menjadi penasehat utama urusan mobilisasi dan perlawanan aksi massa. Di Salatiga, PRD Semarang dan Yayasan Geni Salatiga berkoalisi dengan Struktur PDI Cabang Salatiga berhasil memobilisasi massa. Dan itu meluas ke berbagai kota lainnya.

Setelah membacan Koran itu, keyakinanku terhadap info Munir bertambah kuat. Aku juga teringat lagi, kalau dini hari tadi, sekitar pukul dua pagi Wartawan Gatra mewawancarai Budiman.

Rasanya terlalu dipaksakan wawancara itu, seperti tidak ada waktu lagi. Mereka bertanya tentang idiologi PRD? Kenapa struktur organisasi PRD ada underbouw nya? Bagiku itu jangal. Dan perasaan Budiman juga sama. Kami memberi makna akan ada peristiwa luar biasa. Entah kapan?

Keyakinanku begitu kuat. Dan itu kukatakan kepada Garda. “Bung cari kertas sebanyak mungkin. Dimana yang masih aman untuk kita bersembunyi dan berkoordinasi?” tanyaku ke Ketua SMID Jabotabek itu.

Garda langsung bergegas mencari kertas di salah satu ruangan. Dia mengatakan kalau di dekat IISIP (Institut Ilmu Sosial dan Politik) Lenteng Agung masih ada kos-kos-an anggota SMID Jabotabek yang belum terdeteksi aparat.

Karena kertas yang diperoleh Garda sedikit, terpaksa kusobek kecil-kecil. Aku menuliskan instruksi agar semua kawan-kawan segera menuju ke alamat yang kutulis itu. Semua harus ditarik dari areal Megaria dan sekitarnya.

Dengan cara ini aku berharap semua anggota PRD bisa ditarik dari areal “pertempuran”. Saat itu tidak ada alat komunikasi. Kalau ada hanya pager yang kubawa. Dan itu hanya satu arah, informasi tersentral ke aku. Situasi begitu kacau dan kawan-kawan tercerai-berai ke segala tempat.

Baru saja aku selesai menulis surat intruksi itu, tiba-tiba terdengar orang-orang berlarian masuk ke Gedung YLBHI. “Ada kejadian apa bung Munir?,” tanyaku ke dia.

“Massa berhasil dipukul mundur. Mereka lari ke arah RSCM dan RS Corolus,” jawabnya.

Munir mengatakannya itu dengan terbata-bata. Nafasnya memburu karena baru saja berlari, menghindari pukulan aparat yang membabi-buta. Jari kelingkingnya diperlihatkan ke aku.

“Mungkin tulang jariku patah . Aku berusaha menolong anak SMA tapi turut terkena gebukan aparat,” ujarnya.

Dan tiba-tiba terdengar bunyi bummm! Suaranya begitu keras, rasanya bunyi ledakan itu tak jauh. Aku berlari keluar untuk memeriksa asal bunyi ledakan itu.

Ternyata sebuah bus tingkat PPD telah dibakar. Entah siapa yang memulainya. Apinya sudah hampir memenuhi sepertiga bus naas itu. Sungguh luar biasa, begitu banyaknya massa memenuhi jalan Diponegoro menuju RS Corolus.

Baru pertamakali ini aku melihat lautan massa begitu banyak. Mereka dalam keadaan marah karena Rezim Soeharto benar-benar merebut Markas PDI dengan cara kekerasan.

PDI Tidak Siap

Dan aku yakin sebentar lagi jalan yang mereka lalui akan terjadi kerusuhan. Aku membayangkan akan ada banyak gedung terbakar. Aparat sepertinya membiarkan agar kerumunan massa itu berubah menjadi amuk. Mereka tidak lagi mengejar dan balik kembali ke areal Kantor DPP PDI.

Kulihat Garda dan beberapa anggota SMID Jabotabek sudah menjalankan instruksiku. Dalam keadaan kacau itu dia menyebar surat instruksiku.

Kuajak beberapa kawan segera cabut dari Gedung YLBHI, salah satunya Narso, seorang kawan yang bertugas mengorganisir kaum miskin kota. Aku berjalan melewati jalan Borobudur. Sesampainya di pertigaan antara Jalan Tambak dan jalan yang menuju ke Matraman, terlihat massa sudah merusak gedung-gedung sepanjang jalan itu dengan lemparan batu. Gedung-gedung yang berdinding kaca tak ayal hancur.

Aku berpikir gedung itu bukan simbol militer juga bukan simbol pemerintah tapi dirusak juga, Padahal massa yang marah sangat politis dan mereka marah kepada aparat dan rezim ini.

Selama lebih sebulan ini, Mimbar Bebas yang terjadi telah mampu memobilisasi massa dan memberi kesadaran politik kepada rakyat. Kesadaran politik perlawanan kepada rezim Orde Baru yang otoriter. Mimbar bebas itu adalah respon massa yang menolak Konggres Medan, 20 Juni 1996. Konggres itu telah mendongkel kekuasaan Megawati, dan menempatkan Soerjadi. Kongres itu adalah kreasi pemerintah.

Bahkan, terjadi aksi besar dan terjadi Peristiwa Gambir. Peristiwa Gambir membuat kesadaran baru anti militer di kalangan massa. Massa merasakan langsung tindak kekerasan yang dilancarkan aparat.

Mereka berhasil membuat aksi hari ini berujung amuk. Dengan begitu ada alasan rezim menindak. Dan aksi itu akan mengecil, tidak akan membesar lagi,

Itu adalah keahlian Orde Baru. Aksi massa yang punya potensi semakin membesar akan digembosin dengan kerusuhan. Setelahnya, pasti aparat akan ada represi. Pasti akan ada yang ditangkap dan harus bertanggungjawab atas kejadian ini.

Seperti tahun 1974, yang terkenal dengan Malari. Terjadi kerusuhan di Senen. Yang melakukan bukan mahasiswa. Kerusuhan itu rekayasa, dan Hariman cs diadili. Setelahnya gerakan menjadi surut.

Hari ini, 27 Juli 1996, rakyat yang tumpah di sekitar Megaria dan jalan Diponegoro ini harusnya dipimpin. Harusnya PDI berani memimpin. Atau mungkin MARI (Majelis Rakyat Indonesia) yang terdiri dari berbagai kelompok oposisi dapat memainkan peran. Massa yang berlawan ini bila terpimpin dan tidak terjadi amuk akan berpotensi membesar, dan akan menyeret gelombang perlawanan lebih besar lagi di berbagai daerah.

Sayang, PDI tidak siap. Mungkin mereka tidak berani. Kelompok oposisi juga tidak siap. Tidak ada yang berani saat itu

Sepanjang jalan yang kulalui aku selalu berteriak-teriak sendiri.

“Sayang!”

“Benar-benar sayang!”

“Gerakan hari ini akan segera surut!”

“Sayang!”

“Sekarang lah kesempatan terbesar untuk meruntuhkan kekuasaan Soeharto!”

Tiba-tiba aku teringat sekretariat. Aku segera menghubungi Anom yang memang berada di sana. Kebetulan ada telpon umum koin. “Nom segera evakuasi seluruh dokumen ya. Di sana ada siapa?” pintahku ke dia.

(Bersambung ………)

Komentar
Loading...