Menjadi Referensi Mendunia

Sepenggal Kesaksian Dibalik Peristiwa 27 Juli 1996 (Bagian Akhir)

(Lanjutan …….)

Di sini ada Yudi dari Manado. Ok, kita akan sewa bajai saja. Dokumen akan dibawa ke rumah saudaranya yang terletak di belakang Showroom Mobilindo MT Haryono,” jawab Anom.

Aku juga memberi informasi seluruh kejadian hari ini. Aku minta Anom menginformasi kejadian ini lewat internet. Internet adalah satu-satu alat komunikasi kita untuk mengkampanyekan kejadian hari ini.

Sejenak aku beristirahat. Aku tidak tahu kapan bisa menemukan angkutan umum untuk menuju Lenteng Agung. Sepanjang jalan yang kulalui aku tak menemukan angkot atau Metro Mini. Benar-benar situasi kacau-balau.

Jakarta hari ini terbakar. Dari kejauhan aku bisa melihat asap hitam menjulang ke langit. Tidak hanya satu lokasi, aku memperkirakan sepanjang jalan Kramat Raya, baik yang ke arah Matraman atau ke arah Senen.

Aku baru menemui angkutan umum setelah sampai di Kampung Melayu. Di sini seperti tidak ada kejadian apa-apa. Semua berjalan normal. Situasi di Salemba tidak mampu berimbas sampai ke Kampung Melayu. Aku tidak tahu apakah televisi belum memberitakan. Atau Koran sore seperti Harian Terbit belum memberitakan. Kalau menyiarkan pasti aparat Militer dan Deppen menyensornya.

Dalang Kerusuhan

Ruangannya tidak terlalu besar. Mungkin 5 X 4 m2. Hanya satu ruangan. Persisnya ruang untuk tidur. Tapi malam itu ditempati orang melebehi kapasitasnya.

Satu persatu kawan-kawan berdatangan di tempat itu. Sobekan kertas surat instruksiku bisa menjangkau hampir semua kawan-kawan.

Waktu itu belum ada media sosial. Organisasi kami juga belum ada yang mempunyai hp,– walau saat itu sudah muncul hp generasi pertama.

Kawan-kawan memberi laporan kejadian di lapangan. Dari laporan kawan-kawan terkumpul data gedung-gedung yang terbakar. Gedung Persit Kartika Candra Kirana, merupakan gedung pertama yang diamuk dan dibakar. Wisma Honda di sebelah gedung Persit juga dibakar. Gedung Departemen Pertanian delapan lantai juga dibakar. Yang di daerah Matraman adalah Gedung Bank Swansarindo Internasional. Sedangkan di Jalan Salemba Raya, Showroom Auto 2000 dibakar beserta seluruh mobil yang dipamerkan, dan Bank Mayapada. Kemudian arah Salemba ke Senen gedung yang dibakar adalah Gedung Darmek dan Telkom

Saat itu diputuskan bahwa sekretariat Kebon Baru harus dikosongkan dari dokumen. Sekretariat SMID Jabotabek juga harus dikosongkan. Kami juga harus mencari sebanyak-banyaknya tempat persembunyian. Kami menyebutnya bunker.

Dan malam itu juga kami berpindah tempat. Untuk pusat komando kami menempati kos-kos-an Dedy Beruang. Masih di daerah sekitar IISIP.

Selain memutuskan untuk menyelamatkan dokumen partai, kami juga berhasil membuat mekanisme koordinasi. Kami benar-benar sedang menyiapkan organisasi bergerak secara klandestin (bawah tanah).

Secara bersamaan, kami juga masih memutuskan membentuk struktur agen-agen selebaran. Kami masih memproduksi selebaran untuk tetap membangkitkan perlawanan rakyat.

Pada 28 Juli, sehari setelah peristiwa itu, kami masih berani mendatangi markas di Jalan F, Kebon Baru,Tebet itu. Belum ada sikap resmi pemerintah terhadap terbakarnya gedung-gedung di sekitar Matraman dan Keramat Raya. Kami berhasil membawa beberapa dokumen yang belum dievakuasi Anom. Beberapa dokumen yang tidak bisa kita bawa aku titipkan ke tetangga.

“Bang Jaya, kami nitip dokumen ya. Situasi sedang kacau,” pinta Jayadi kepada Bang Jaya.

Bang Jaya memahami aktivitas kita. Kita sering berdiskusi dengannya. Dia pemilik warung sembako dekat sekretariat kami. Dia juga Sekretaris RT di sana. Ketika dimintai bantuan dia tidak keberatan.

“Maaf Bang Budi , tidak bisa bersih-bersih rumah. Rumah kami tinggalkan begitu saja. Kami juga belum membayar tagihan telpon yang terakhir. Semoga kita bisa jumpa lagi. Aku nggak tahu apakah setelah peristiwa kemarin aku dan kawan-kawan masih hidup?,” ujarku kepada pemilik rumah yang kita sewa.

Bang Budi memahami kesulitan yang sedang kita alami. Wajahnya tulus, dan ikut bersedih.

“Semoga semua kalian semua aman-aman saja. Biarlah, nanti tagihan telpon saya yang bayar,” balasnya.

Sehari berikutnya, tanggal 29 Juli 1996, Presiden Soeharto memanggil enam pajabat tinggi, yaitu Menko Polkam Soesilo Soerdarman, Pangab Jenderal TNI Feisal Tanjung, Kapolri Letjen Dibyo Widodo, Menteri Negara Sekretaris Kabinet Saadilah Mursjid, Menteri Kehakiman Oetojo Oesman dan Jaksa Agung Singgih SH.

Setelah pertemuan itu, segera saja Menko Polkam meminta masyarakat untuk waspada dan tidak mudah terpancing. Aparat juga diminta tak ragu-ragu mengambil tindakan.

Menko Polkam menyatakan, PRD dalang semua kerusuhan hari Sabtu itu. Kata Menko Polkam, Presiden Soeharto sendiri sudah mengetahui tindak-tanduk PRD itu. PRD dengan segala ormasnya sama dengan PKI di jaman dulu, kata Soesilo Soedarman.

Pernyataan itu dimuat oleh semua media massa. Ternyata sehari sebelumnya pimpinan media massa telah dikumpulkan aparat. Mereka mendapat brifing kalau PRD adalah organisasi yang mirip dengan PKI. PRD adalah dalang kerusuhan 27 Juli.

Isi pemberitaannya seragam, dan sealur dengan yang dimaui penguasa. Bahkan untuk TVRI dan RRI beritanya diulang-ulang.

Sejak pengumuman resmi itu, dimulailah perburuan kepada seluruh aktivis PRD. Dan tidak itu saja, seluruh oposisi mendapat tekanan yang luar biasa. Semua tiarap. Namun kami, PRD tetap berlawan !

Penulis :adalah Sekertaris Jenderal pertama PRD.

Editor : YE

Komentar
Loading...