Menjadi Referensi Mendunia

Sepenggal Kesaksian Dibalik Peristiwa 27 Juli 1996 (Bagian I)

Oleh :

Petrus Haryanto

indonesiaberita.com – Hari begitu cerah, tidak ada hujan. Sungai Ciliwung juga sedang tenang, tidak meluap karena tidak ada banjir kiriman dari Bogor. Tetapi tidak dengan rumah itu,– tetap tergenang air. Rumah itu jaraknya sekitar 50 meter dari Sungai Ciliwung.

Setiap ada yang mandi genangan air bertambah. Air keluar dari celah-celah lantai. Pokok sebabnya saluran air yang menuju ke selokan besar macet. Macet karena tertimbun lumpur banjir Sungai Ciliwung yang menenggelamkan rumah itu beberapa bulan sebelumnya.

Karena dekat aliran Sungai Ciliwung, sewa kontrak rumah itu murah. Dan itu yang mampu kami sewa. Awalnya menjadi Markas Sodidaritas Mahasiswa indonesia untuk Demokrasi (SMID), tetapi setelah Partai Rakyat Demokratik (PRD) berdiri, “diduduki” menjadi Sekretariat Pengurus Pusat PRD.

Selain menjadi pusat kegiatan partai, Kantor yang terletak di Jalan F, gang Z2, Kebon Baru, Tebet itu menjadi tempat menginap juga.

Luas bangunan hanya 200 meter persegi, tetapi malam 26 Juli 1996 menjadi tempat tidur kira -kira 50 orang. Kami yang tidur malam itu tidak hanya pengurus PRD, SMID, Setikat Tani Nasional (STN), Pusat Perjuangan Buruh Indonesia, (PPBI), Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat (Jaker), Serikat Rakyat Jakarta (SRJ),– tetapi juga kawan-kawan dari SMID Jabotabek. Bahkan terdapat beberapa kawan-kawan dari daerah yang belum bisa pulang setelah menghadiri Deklarasi PRD tanggal 22 Juli 1996.

Hari itu, 27 Juli 1996, kami akan pindahan rumah karena masa kontrak sekretariat sudah habis. Karena belum mendapat kontrakan baru, barang-barang akan kami pindahkan ke Sekretariat SMID Jabotabek di Lenteng Agung.

“Bung, semua kawan-kawan ditarik dari Markas PDI Diponegoro ya. Malam ini tidak boleh ada yang menginap di sana. Besok pagi kita pindahan ke Lenteng Agung,” perintahku ke Bimo Petrus

Aku memintanya pada tanggal 26 Juli 1996. Bimo Petrus adalah koordinator kawan-kawan yang ditugaskan berada di Markas PDI Diponegoro. Sejak ada mimbar bebas di markas itu, PRD menugaskan kadernya secara bergantian. Bahkan mereka turut menginap di sana.

Membangkitkan Semangat Rakyat

Selain dukungan politik kepada kepemimpinan Megawati Soekarno Putri, tugas lainnya melakukan kerja-kerja agitasi, membangkitkan semangat rakyat.

Mereka harus juga menyebarkan selebaran dan bacaan. Mendorong kesadaran politik dan radikalisasi massa, yang saat itu mulai tumbuh.

Pagi itu belum semua kawan-kawan bangun, tetapi air sudah menggenang begitu banyak. Ketika aku mendorong air agar mengalir keluar halaman, tiba-tiba ada yang berteriak.

“Kantor DPP PDI Diponegoro diserbu. Garda baru saja menelpon,” teriak Hengky anggota SMID Jabotabek.

Aku segera membangunkan yang lainnya. “Bangun bung. Diponegoro sudah diserbu. Semuanya ke sana. Anom Astika, kau tetap di Kantor,” pintaku.

Anom Astika diperlukan tinggal di kantor karena dia yang menguasai internet. Dia juga Ketua Departemen Agitasi dan Propaganda (Agiprop) PRD, yang akan bertugas menyebarkan kejadian hari ini setelah mendapat informasi dari kami yang di lapangan. Sekaligus dia akan menjadi sentral informasi, karena saat itu alat komunikasi kita hanya telpon rumah, dan pager yang selalu aku bawa ke mana aku pergi. Sifatnya searah.

Seketika rencana pindahan buyar. Kejadian penyerbuan Kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro 58 ini lebih penting dari apapun. Kami harus memberi dukungan. Dan kantor itu harus direbut kembali. Kantor itu menjadi simbol “kedaulatan rakyat” saat itu.

Seperti biasanya, untuk menuju ke Jalan Diponegoro kami lebih memilih naik Kopaja 520 dari Jalan Otista. Kami hanya perlu berjalan- kaki sejauh 200 meter dan menyeberangi sungai Ciliwung dengan getek.

Harusnya, sesampai di Perempatan Matraman, Kopaja 520 berbelok kiri ke arah Tugu Proklamasi. Tapi hari itu ditutup dengan seng-seng bekas, dan ada tulisan “Jalan Sedang Diperbaiki”. Aku curiga jalan itu ditutup sengaja dan mendadak, karena kemarin masih normal-normal saja.

Akhirnya, aku memilih turun di pertigaan Rumah Sakit Saint Corolus. Baru lima puluh meter berjalan menyusuri Jalan Diponegoro dari arah RSCM aku berjumpa dengan Pak Tarmizi. Dia adalah Ketua DPW PDI DKI pro Mega.

“Dik Petrus, sepertinya Markas Diponegoro habis. Lihat asapnya nampak dari sini,” ucapnya dengan bergetar.

Asap hitam menjulang ke langit tepat di daerah Markas DPP PDI. “Wah pasti gedungnya terbakar,” timpalku.

Aku semakin mempercepat jalan dan terkadang berlari agar cepat sampai ke lokasi. Jalanan sepi tak ada kendaraan lewat. Kulihat orang-orang dengan wajah cemas berjalan cepat menuju ke arah yang sama dengan aku.

Sesampainya di Megaria aku berhenti. Jalan menuju Markas PDI sudah ditutup aparat, tepat di bawah jalan layang kereta api. Kulihat aparat membersihkan jalan di depan markas itu dengan semprotan air. Terlihat satu mobil dan satu sepeda montor terbakar habis. Asapnya masih mengepul. Bunyi sirene ambulan meraung-raung, mereka keluar dari arah areal itu. Aku menduga mobil ambulan itu membawa korban peryebuan.

Di halaman Megaria kulihat seorang laki-laki menangis histeris. Dia berteriak-teriak kalau di dalam gedung DPP PDI banyak jatuh korban.

“Teman kami pasti mati. Mereka mendapat serangan senjata tajam dari kelompok Suryadi. Jumlahnya banyak, berambut cepak dan berbadan tegap,” teriaknya dengan menangis histeris.

Awal aku datang di sekitar Megaria masih belum begitu banyak massa. Tidak sampai satu jam sudah ratusan memenuhi tempat itu. Secara spontan terjadi mimbar bebas. Mereka berteriak-teriak mengecam penyebuan yang terjadi pagi itu.

“Pembunuh,”

“Soeryadi antek Soeharto,”

Kemarahan Rakyat

Nyanyian Mega pasti menang, pasti menang, bergema berkali-kali

(bersambung………..)

Komentar
Loading...