Menjadi Referensi Mendunia

Sepenggal Kesaksian Dibalik Peristiwa 27 Juli 1996 (Bagian II)

(Lanjutan …. )

Ketika massa sudah memenuhi jalan Megaria suasana semakin panas. Entah siapa yang memulai mereka melempari aparat Brimob yang berjaga di sana. Batu-batu berterbangan di udara. Aku juga tidak tahu batu itu diambil dari mana. Terlihat di jalan beraspal itu penuh batu hasil lemparan massa.

Tak satupun muncul pimpinan struktural PDI untuk memimpin massa. Yang berorasi dan membakar massa adalah adalah para aktivis, yang terbiasa turun ke jalan.

Benar-benar tanpa kepemimpinan. Aku sempat bertemu dengan Budiman. Dia datang dari arah rumah Ali Sadikin, jalan Borobudur. Pagi itu Budiman sedang ada agenda rapat dengan Arief Budiman, Marsilam Simanjuntak, dan tokoh-tokoh oposisi lainnya. Dia datang bersama Arief Budiman, intelektual dari Satya Wacana Salatiga. Arief Budiman sempat beberapa menit menyaksikan pertempuran di kawasan Megaria itu.

“Bud, kalau ini nggak ada yang pimpin bisa terjadi kerusuhan. Aku berharap dirimu menemui pimpinan PDI. Mereka harus pimpin massa. Tidak boleh dibiarkan begitu saja. Aku takut aparat akan provokasi,” usulku ke Budiman.

Budiman adalah satu-satunya bisa bertemu dengan Taufik Kiemas dan Pimpinan DPP PDI. Budiman sering berapat dengan mereka.

“Hampir setiap pertemuan dengan pimpinan PDI mereka selalu mengatakan People Power. Sekarang ini saat yang tepat,” ungkap pemuda kutu buku ini.

Budiman mengiyakan usulku. Kami berdua rapat di tengah jalan depan Megaria, pada saat bersamaan di atas kami batu-batu berterbangan. Sungguh sebuah pertempuran di jalanan yang energinya tidak habis-habis.

Melihat situasi seperti ini instingku mengatakan kalau ini akan menjadi kerusuhan besar. Aku sependapat dengan apa yang dikatakan Munir beberapa hari yang lalu di Kantor YLBHI.

“Aku mendapat informasi dari intelejen. Ini sangat valid. Mimbar Bebas akan dibubarkan karena semakin hari menciptakan efek bola salju. Tercipta kesadaran rakyat untuk berani melawan Rezim Soeharto. Caranya, kantor diambil alih dengan paksa. Kalau perlu jatuh korban. Dan akan diciptakan kerusuhan. Dan kalian akan jadi kambing hitam. Dan selesai sudah,” ucap Munir dengan serius kepadaku dan Yokobus Eko Kurniawan.

Informasi penting dari Munir sempat kami bahas. Saat itu aku sendiri yang memimpin rapat. Yang hadir antara lain Budiman Soedjatmiko, Yokobus Eko Kurniawan, Anom Astika, Fransiska Ria Susanti, Nezar Patria, Ignatius Damianus Pranowo, Budi Sanyoto, Rubaidah, Wilson, Bimo Petrus, Garda Sembiring, Buyung Husnansyah, Sereida Tambunan, Ary Trismana.

Terjadi perdebatan apakah Militer akan menyerbu tempat itu dengan menunggangi kelompok Soeryadi atau tidak? Ada yang mengiyakan ada yang menolak. “Tidak mungkin mereka menyerbu. Rakyat bisa marah dan acara mimbar bebas itu sudah membesar,” ujar Pranowo.

Posisiku saat itu meyakini kantor itu akan diserbu. Tapi aku sendiri tidak mampu membayangkan kerusuhannya seperti apa?

Dan begitu kuatnya mempengaruhi pikiranku saat itu. Aku berusaha mengkoordinir kawan-kawan yang di lapangan. Setiap kawan-kawan yang kujumpai di lapangan aku instrusikan agar bisa memimpin massa. Mereka harus mencegah konsentrasi massa yang berlawan itu menjadi kerusuhan. Konsentrasi massa dijaga selama mungkin terkonsentrasi di sekitar Megaria, agar mampu menyeret massa lainnya.

Mereka harus berorasi program politik PRD: Cabut Dwi Fungsi ABRI dan 5 Paket UU Politik! Mereka harus juga meneriakkan Slogan: Satu Perlawan Satu Perubahan!

Kalau gelombang perlawanan massa ini bisa bertahan lama dan tidak cepat menjadi kerusuhan akan menjadi gelombang perlawanan yang dahsyat.

“Bung, banyak orang berambut cepak di lapangan. Mereka terus memprovokasi massa untuk mengambil alih kembali DPP. Aku yakin ini akan gagal karena tidak ada kepemimpinan. Pasti terjadi kerusuhan,” teriakku kepada Garda Sembiring yang kutemui di depan Kantor YLBHI.

Garda pun segera membantu aku untuk meneruskan instruksiku. Sungguh sulit mengkoordinir kawan-kawan di lapangan. Situasi massa begitu panas.

Aku memutuskan untuk masuk Kantor YLBHI. Barangkali aku bisa lebih berkonsentrasi untuk memikirkan langkah apa yang harus kuambil menghadapi situasi seperti ini.

Di dalam Gedung YLBHI juga dipenuhi tokoh-tokoh oposisi. Bambang Wijayanto (Ketua YLBHI), Teten Masduki, dan Munir sibuk memfasilitasi aktivis yang saat itu berkumpul di sana.

Sekitar Pukul 15.00 WIB Soetarjo Suryoguritno, salah satu pengurus PDI Pro Mega datang ke markas bantuan hukum itu. Ia berembug dengan beberapa tokoh oposisi untuk membuat rencana mendatangi Markas PDI. Dan rencana itu dijalankan, tetapi aparat menghalangi mereka.

Propaganda Hitam

Aku kecewa, karena mereka hanya ingin melihat kantor itu saja. Ternyata tidak ada langkah untuk memimpin perlawanan massa di jalanan.

“Bung, coba tolong baca Koran Harian Berita Yudha. Tiga hari berturut-turut memuat berita tentang PRD,” ujar Garda Sembiring sambil nafasnya tersengal-sengal karena berlari menemui aku.

Kubaca dengan teliti koran milik angkatan bersenjata itu. Mulai dari tanggal 25, 26 dan 27 juli, di halaman depan memuat deklarasi PRD. Mereka juga mengutip Manifesto PRD cukup panjang lebar. Menganalisa struktur organisasi PRD dan menyimpulkan mirip PKI. Mereka juga menyebut ayah Budiman adalah mantan anggota PKI. Mereka ingin membuat opini PRD adalah penjelmaan PKI.

(Bersambung……..)

Editor : YE

Komentar
Loading...