Menjadi Referensi Mendunia

Deklarasi Warga Perempuan Bergerak Serdang Bedagai

Perempuan Melawan Intoleransi dan Radikalisme

Indonesiaberita.com, SERDANG BEDAGAI – Sejumlah ibu rumah tangga mendeklarasikan Warga Perempuan Bergerak (WPB) Sergai, pada 1 Agustus 2018 di Teluk Mengkudu Serdang Bedagai.

Deklarasi itu dipimpin oleh Sawini Aryo (42 tahun) yang merupakan deklarator sekaligus Koordinator WPB. Menurut Sawini, deklarasi WPB ini merupakan pernyataan bahwa kaum perempuan desa di Sergai akan ikut serta merawat keberagaman dan toleransi di wilayahnya.

“Kami sering mendengar berkembangnya intoleransi di Indonesia, yaitu sifat atau sikap yang tidak menghargai bahkan tidak membolehkan adanya keberagaman dalam keagamaan. Sikap intoleran ini jelas mengancam perdamaian yang selama ini sudah terbangun dalam masyarakat.” kata Sawini saat deklarasi.

Deklarator lainnya, Mariana (40 tahun) ibu rumah tangga yang juga Guru PAUD di Desa Bogak Teluk Mengkudu, mengatakan bahwa perpecahan antar masyarakat karena sikap intoleran memang belum terjadi di lingkungannya. Tetapi justru di situlah pentingnya menjaga dan memperkuat toleransi, sebelum berkembang menjadi radikalisme.

“Di wilayah kami, sikap intoleran memang belum nampak. Kami hidup rukun dengan berbagai suku (jawa, banjar, melayu, batak, karo) dan agama yang berbeda (Islam, Protestan). Kami biasa saling membantu kalau ada anggota keluarga yang meninggal. Begitu juga pada hari raya idul fitri, maupun hari natal, kami biasa saling mengunjungi. Oleh karena itu, sebelum intoleransi berkembang dan menimbulkan perpecahan di masyarakat, kami akan memperkuat sikap toleran,” jelasnya setelah membacakan naskah deklarasi.

Hadir pula dalam deklarasi tersebut Lely Zailani, deklarator WPB di Jakarta. Menurutnya, intoleransi adalah awal dari berkembangnya radikalisme seperti yang terjadi di beberapa wilayah Indonesia. WPB Sergai memang seharusnya menjadi wadah bagi kaum perempuan untuk membangun persaudaraan sesama perempuan, sekaligus memperkuat keberagaman dan toleransi.

‘Selanjutnya adalah tindakan nyata untuk melakukan perlawanan terhadap segala bentuk intoleransi di lingkungan terdekat.” ungkap Lely.

Masih menurut Lely, perempuan dapat menjadi pelopor dalam merawat keberagaman, sekaligus melawan intoleransi dan radikalisme yang seringkali berkembangnya dari dalam (rumah). Intoleransi harus dilawan dengan semangat mencintai keberagaman.

“Keberadaan WPB ini cukup penting untuk mengorganisir dan memperkuat diri, sekaligus melakukan perlawanan.” ujarnya.

Setelah mendeklarasikan WPB, ibu-ibu tampak melakukan kegiatan megolah sampah plastic menjadi ecobrick dengan dua orang guru yang didatangkan dari Jawa Tengah.

“Di tingkat desa, WPB akan mendorong desa bebas sampah plastik, dengan mengumpulkan sampah-sampah platik dan mengolahnya menjadi ecobrick (bata ramah lingkungan). Kami akan mengajak sebanyak- banyaknya perempuan dari berbagai suku dan agama. Kita bicara sampah plastic dulu”, begitu kata Sawini, Kordinator WPB Sergai.

Editor : Yakobus Eko

Komentar
Loading...