Menjadi Referensi Mendunia

GIL Mendorong Gamolan Ditetapkan WBTB di UNESCO

Indonesiaberita.com, BANDAR LAMPUNG – Hasil rapat koordinasi Gamolan Institute Lampung menyepakati untuk mendorong Provinsi Lampung untuk mendaftarkan alat musik tradisional Lampung “GAMOLAN”.

Menurut penasehat GIL, Hasyimkan yang juga kaprodi musik Universitas Lampung mengatakan bahwa sudah layak mendaftarkan Warisan Budaya Tak Benda (Intangible Cultural Heritage) ke Unesco.

“WBTB Indonesia yang sudah diakui Unesco antara lain: Taman Nasional Komodo, Taman Nasional Ujung Kulon, Taman Nasional Lorentz di Papua, Hutan Hujan Tropis di Sumatra, Situs Sangiran, Candi Borobudur, Candi Prambanan, Wayang Kulit, Keris, Angklung, Gamelan, Batik, Noken, Subak Bali, Sekaten, Tari Saman, Lumpia dan belum ada satupun dari Lampung,” kata Hasyimkan.

Hasyimkan mengungkapkan syarat yang paling mendasar agar diakui Unesco adalah menjadi bagian tradisi bagi masyarakat Lampung mendapat kajian ilmiah dari akademisi dan dirasakan hingga ke penjuru dunia.

“Dari sekian WBTB Lampung yang siap adalah gamolan karena saat Gamolan telah dan akan berkembang dimana saat ini di Unila telah dicetak guru SD 1000 orang Guru Paud 200 orang dan Guru Seni 600 orang yang siap mengajar 1 guru dengan 40 murid dari pendidikan Paud hingga perguruan tinggi.” ungkapnya.

Selanjutnya Hasyimkan menjelaskan telah dibuatkan berbagai macam cara agar masyarakat lebih mengenal gamolan.

“Disamping itu juga gamolan telah dibuatkan gamolan android, multimedia pembelajaran gamolan, batik gamolan, souvenir gamolan, lagu gamolan sakti yang juga telah mendapat hakinya dan organisasi yang menangani gamolan yaitu gamolan institute, telah juga dibuat buku pembelajaran gamolan mulai Paud hingga perguruan tinggi,dll.” jelasnya.

Ketua GIL, Novellia Yulistin Sanggem juga membenarkan bahwa untuk ditetapkan di Unesco membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk persiapan dan penilaian.

“Bukan hal yang mudah dan singkat. ” kata Novel melalui keterangan persnya yang diterima Indonesia Berita, Kamis (2/8/2018).

Oleh karena itu, Novel menegaskan perdebatan nama gamolan bukan lagi persoalan yang harus menjadi perselisihan.

“PR kita adalah bagaimana gamolan ini mampu mendunia.” tegasnya.

Novel berharap cita-cita mulia ini mendapat dukungan dari seluruh masyarakat Lampung.

“Cita-cita dapat didukung oleh seluruh lapisan masyarakat, terkhusus untuk para tokoh adat Lampung agar bisa bersama-sama mendorong gamolan menjadi warisan budaya tak benda di Unesco.” harapnya.

Editor : YE

Komentar
Loading...