Indonesiaberita.com, TALIABU – Berawal dari keprihatinan menurunnya minat baca generasi, pada tahun 2017 lalu kelompok mahasiswa dari Universitas Khairun (Unkhair) Ternate mendirikan Taman Baca Sultan Khairun yang bertempat di Desa Kilong, Kecamatan Taliabu Barat, Maluku Utara.

Sepintas hasil karya mahasiswa saat melaksanakan tugas Kuliah Berkarya dan Bermasyarakat (Kubermas) ini, tidak jauh berbeda dengan taman baca pada umumnya. Namun jika disimak dengan seksama, kita akan menemukan perbedaan yang sangat mendasar.

Meski sudah berusia setahun sejak didirikan dengan biaya ala kadarnya, siapa sangka tampilan Taman Baca Sultan Khairun masih sangat menawan. Cat dengan warna cerah masih setia menempel pada dinding bangunan hingga pintu gerbang. Bunga-bunga yang tumbuh subur disekitar taman baca ini, mengisyaratkan gurisan tangan penuh cinta kasih yang merawatnya.

Berada tepat di depan Kantor Desa Kilong, taman baca ini dilengkapi bale yang terbuat dari kayu untuk tempat membaca. Tidak ketinggalan kolam kecil berisi ikan hias air tawar sebagai pelengkap suasana nyaman saat melahap lembaran-lembaran buku.

Sungguh sebuah suasana yang memanjakan hati serta dapat memukau siapa saja yang berkunjung di taman pintar ini.

Susana halaman Taman Baca Sultan Khairun. Foto: Andri Permata/Indonesia Berita

Sekretaris Desa Kilong Indra Prasetyo mengakui, bahwa keberadaan Taman Baca Sultan Khairun sangatlah membantu upaya pemerintah desa dalam memprakarsai kegiatan yang sifatnya positif bagi pelajar dan masyarakat desa.

“Di desa, tidak ada tempat santai ideal seperti taman di sebuah kota sehingga kehadiran taman baca ini selain memfasilitasi sebagai tempat berkumpul anak – anak, disini juga sering di pakai tempat belajar baca tulis Al’Quran saat bulan suci tiba,” bebernya, Sabtu (25/08/2018).

Bahkan, Lanjut Sekdes itu, Taman Baca Sultan Khairun pernah membawakan juara pertama untuk Desa Kilong dalam perlombaan Desa tingkat Kabupaten Pulau Taliabu di tahun 2017 lalu.

“Saya serta masyarakat disini tidak menyangka. Taman baca ini bisa jadi penopang penilaian dalam perlombaan Desa tinggkat Kabupaten Pultab,” cetus Indra.

Dirinya merasakan manfaat besar dengan kehadiran taman ini walau hanya di lokasi yang kecil dan buku yang masih serba terbatas

“Mungkin bagi orang luar desa, taman baca ini sebuah tempat biasa saja. Namun ini bukanlah sebuah perkara taman melainkan di dalamnya ada aktifitas positif yang tercipta, lebih dari sekadar tempat bermain untuk anak -anak” ujar Sekdes yang gemar bercocok tanam sayur itu.

Perpustakaan keliling sebagai upaya jemput bola.

Kasubid, Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah Pultab, La Ode Ario Sharizki. Foto: Istimewa

Sementara itu di tempat terpisah, Kasubid Dinas Perpustakaan Pultab  La Ode Ario Sharizki mengatakan, minat baca pada anak muda di pedesaan sebenarnya sangat memprihatinkan. Aktivitas anak yang kurang dikontrol orang tua menjadi salah satu faktor yang menambah angka kurangnya minat baca anak.

“Belum lagi, kurangnya fasilitas perpustakaan di pedesaan menambah deretan persoalan dalam tumbuh kembangkan aktivitas membaca pada anak,” paparnya, Minggu (26/08).

Kasubid melanjutkan, merosotnya minat baca dalam kehidupan masyarakat khususnya kalangan pelajar merupakan sebuah tanda kemunduran zaman. Kehadiran taman baca di pedesaan dinilai sangat efektif dalam upaya menumbuhkan minat baca pada anak. Taman baca diharapkan menjadi wadah sebagai dasar terciptanya kelompok belajar bersama.

“Saya jadi teringat akan karya Sastrawan Besar Indonesia yakni Taufik Ismail dalam bukunya yang berjudul Tragedi Nol Buku. Buku tersebut menjabarkan banyak hal tentang pentingnya membaca, yang merupakan salah satu hakikat kehidupan manusia,” katanya.

La Ode Ario mengungkapkan, dalam upaya menjawab hal tersebut pihaknya telah mempersiapkan beberapa program yang nantinya bakal di usung oleh Dinas Perpustakaan Pultab. Diantaranya program untuk membangkitkan minat baca pada anak – anak baik di sekolah maupun di luar sekolah dengan menghadirkan perpustakaan keliling.

“Mengunakan mobil yang telah dimodifikasi sebagai perpus keliling tentunya mampu menampung buku – buku dengan jumlah banyak dan bervariasi yang turun ke lapangan baik di sekolah maupun di tempat umum. Sehinga dapat menciptakan kebiasaan budaya membaca pada anak,” kilahnya.

Pria ini berharap, upaya untuk mengembangkan minat baca pada anak terus berlanjut dan bukan hanya dari pemerintah saja etapi juga harus datang dari orang tua, saudara, dan lingkungan sekitar.

“Mari kita bangun budaya membaca sedini mungkin guna terciptanya penerus bangsa yang lebih aktif dalam mengikuti perkembangan pengetahuan melalui membaca,” ajak Ario yang hobi mencekoki karya – karya sastrawan arab itu.

Editor : Mastobelo