Oleh :

Dr Jerry Massie PhD

Indonesiaberita.com, JAKARTA – Jika koalisi tak solid, bisa saja koalisi partai pengusung dari salah satu kubu mengalami kekalahan. Kalau dalam dunia marketing juga ada MLM (mulut ke mulut), word of mouth. Adu kekuatan partai pendukung menjadi barometer bagaimana market share dan market brand-nya dan brand image seperti apa.

Ada politik: programming, product, price, planningPolitical Marketing adalah salah satu political war atau (perang politik). Money, machine, man, method, material-nya perlu diperhatikan jika ingin menang dalam perang pilpres. Political issues(isu politik) sampai management team perlu kuat.

Tapi dengan pemilihan Ma’ruf di tubuh Golkar bisa terjadi chaos, pasalnya ada sejumlah senior yang menginginkan Airlangga Hartarto menjadi pasangan Jokowi. Lantaran mereka berpendapat jumlah suara Golkar ada 16,62 persen (91 kursi) atau nomor dua di bawah PDI-P 109 kursi di parlemen atau (18,95 persen).

Bisa saja internal Golkar goyah, dan bisa berpengaruh pada kerja mesin partai. Jika tidak kompak dan solid bisa berujung kekalahan.

Di Golkar ada 4 kekuatan Jusuf Kalla, Agung Laksono, Akbar Tanjung dan Aburizal Bakrie. Jadi kalau tidak kompak maka mesin partainya tak akan berjalan optimal.

Suara Golkar kenjadi kartu AS kemenangan koalisi Jokowi-Ma’ruf yang terdiri dari PDI-P, PG, PKB, PPP, Hanura dan Nasdem serta 3 partai baru ; PSI, Perindo dan PKPI.

Selain Banten, Golkar cukup dominan di pulau Sulawesi dan Sumatera serta di Maluku. Daerah atau basis kuning yellow province yakni traditional votersatau (pemilih tradisional) dan swing voters (pemilih mengambang) berada di luar Pulau Jawa.

Jadi dari 196,5 juta jumlah pemilih barangkali jumlah mereka cukup signifikan.

Penulis adalah pengamat politik Indonesian Public Institute (IPI).

Editor : Yakobus Eko