Indonesiaberita.com, TOBELO – Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Halmahera Utara, melakukan unjuk rasa terkait dengan persoalan Hastag #2019 ganti presiden yang dinilai menggangu Dasar NKRI dan mengarah pada Perpecahan Negara.

Jose Manery ini mengatakan entah sudah berapa banyak baju atau kaos yang beredar di bangsa ini.

“Aktor begitu hebat dan gencar merancang aksi dengan simbol #2019GantiPresiden, terlihat kenyamanan negara terganggu secara totalitas.” ujar Bung Jose sapaan akrabnya dalam orasinya, Kamis (6/8/2018).

Lanjut Jose, gejala ini terlihat sebagai sebuah kenyataan bangsa bahwa politik merupakan tahun persaingan, kandidat, kampanye baik yang putih maupun yang hitam dan akhirnya adalah proses pemilihan.

“Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia Halmahera Utara(GMNI-Halut) sudah memikirkan dinamika perpolitikan nasional saat ini, tidak berunjung damai, justeru hanya mengancam keamanan negara” tegasnya.

Secara terpisah, Saudara Nimrod Lasa selaku Wakil Ketua Bidang Aksi dan Propaganda menyampaikan, ada dua mazhab dalam isu ganti presiden

“Pertama soal perekonomian negara yang katanya tidak berpihak kepada rakyat secara umum, kedua adalah mengantikan presiden 2019 yang pro terhadap umat Islam dan menjadikan negara Indonesia sebagai negara khilafa.” papar Nimrod.

Selanjutnya Nimrod menegaskan poin pertama sudah menjadi isu politik biasa yang bahkan juga terjadi dinegara-negara besar.

“Untuk itu, kami GMNI Halut berupaya membendung isu-isu profokatif ini yang hanya berunjung pada perpecahan NKRI.” tegasnya.

Penulis : MAN
Editor.   : YES