Indonesiaberita.com, JAKARTA – Dalam gelaran rapat kerja bersama Komisi XI DPR membahas asumsi RAPBN 2019, di Jakarta, Senin (10/9), Menteri Keuangan Sri Mulyani memastikan pemerintah mengelolah APBN dengan baik agar instrumen fiskal tersebut dapat memberi dampak positif terhadap kinerja perekonomian secara menyeluruh.

“Kalau APBN sehat, maka kami bisa menggunakan instrumen ini agar ekonomi lebih baik lagi,” ujar Menkeu.

Menteri Sri Mulyani mengungkapkan, setiap perlemahan Rp100 terhadap dolar AS sama-sama dapat memberikan kenaikan kepada penerimaan negara sebesar Rp4,7 triliun serta belanja negara sebanyak Rp3,1 triliun. Kendati demikian, ia menegaskan APBN tidak dikelolah berdasarkan untung rugi. Sebab intrumen fiskal ini dimanfaatkan sesuai fungsi stabilisasi, alokasi maupun distribusi yang dapat memberikan manfaat bagi kinerja perekonomian.

Kesempatan tersebut juga digunakan Sri Mulyani untuk menyampaikan kinerja penerimaan negara hingga akhir Agustus 2018 yang tercatat tumbuh 18,4 persen. Terdiri dari, penerimaan perpajakan tumbuh 16,5 persen dan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) tumbuh 24,3 persen.

Dilanjutkan olehnya, sedangkan realisasi belanja negara pada periode yang sama juga tercatat tumbuh 8,8 persen atau lebih baik dari akhir Agustus 2017 yang hanya tercatat sebesar 5,6 persen.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini menyimpulkan, kondisi tersebut menyebabkan neraca keseimbangan primer tercatat surplus Rp11,5 triliun atau melonjak tinggi dibanding periode akhir Agustus 2017 sebesar defisit Rp84 triliun, yang berarti memperlihatkan pengelolaan APBN semakin sehat.

“Terjadi akselerasi belanja tinggi, dengan penerimaan yang jauh lebih tinggi. Berarti primary balance positif Rp11,5 triliun. Ini lonjakan sangat nyata,” pungkasnya

Editor: YE