Indonesiaberita.com, TALIABU – Seketika indera penciuman ku menangkap aroma cengkeh yang perlahan makin menyengat saat langkah semakin bertati di atas jalan rabat beton Desa Tabona, Kecamatan Tabona, Kabupaten Pulau Taliabu (Pultab), Maluku Utara (Malut).

Aroma cengkeh yang teramat khas ini bermula saat para ibu rumah tangga memulai rutinitasnya untuk menghampar bunga cengkeh yang telah dipetik untuk dikeringkan. Di antara hamparan cengkeh itu terselip pancaran raut kebahagiaan dari wajah para petani saat mengurai dengan lembut onggokan  bahan dasar rokok itu.

“Minggu ini sudah memasuki waktu panen buah cengkeh. Para suami yang bertugas memanen dan kami para wanita yang melakukan pemisahan (Pembersihan) buah cengkeh dari sisa tangkainya yang di lanjutkan dengan penjemuran,” beber Mardia Buamona (45) saat di sambangi pewarta Indonesia Berita di sela – sela aktifitas, Kamis (08/09/2018) lalu.

Seorang wanita dari Desa Tambona sedang menjemur cengkeh. Foto: Andri Permata/Indonesiaberita

Sepanjang jalan setapak terbentang jemuran cengkeh dikarenakan sebagai lokasi alternatif untuk wadah pengeringan alami saat halaman rumah tak cukup ruang lagi menampung bahkan sebagiannya lagi memakai lapangan voly.

Dijelaskan Mardia, untuk mencapai kualitas terbaik semua bergantung pada rangkaian proses pengeringan. Setidaknya, dibutuhkan waktu empat sampai lima hari untuk penjemuran di bawah terik matahari.

“Lima hari, itu pun jika cuaca sedang bersahabat (panas). Tapi jika keadaan mendung maka seminggu cengkeh masih dengan kondisi yang belum kering,” terangnya.

Menunggu Kesejahteraan Hidup Sebagai Petani

Sembilan puluh lima persen masyarakat Desa Tabona bergantung pada hasil bumi, seperti cengkeh, kelapa, pala, dan coklat. Hampir seluruh masyarakat di desa ini memiliki puluhan hingga ratusan pohon cengkeh namun belum mampu mendatangkan kesejahteraan.

Penyebanya, tidak lain adalah pasaran harga cengkeh kering dari pembeli lokal yang hanya berkisar mulai dari Rp70 ribu hingga Rp 80 ribu perkilo (pasca penjemuran) berdasarkan kualitas cengkeh. Sedangkan untuk pembelian cengkeh mentah (sebelum penjemuran) di patok Rp. 5 ribu hingga Rp. 6 ribu perliter.

“Cengkeh basah maupun kering tetap bisa dijual langsung. Petani bisa memilih untuk menjual disesuaikan kebutuhan keluarga dan untuk tangkai cengkeh walaupun tak segitu besar harganya namun di sini tetap bisa dijual sebagai tambahan saja” ujar Mardia.

Wanita ini melanjutkan, saat musim panen tiba terlihat aktifitas para petani yang mulai sibuk memanen bahkan dengan kondisi serba terbatas. Tidak jarang digunakan tenaga perbantuan yang didatangkan dari desa tetangga. Alhasil dari keuntungan harus di bagi dua atau dihitung biaya harian.

Seperti petani lainnya, Mardia juga memiliki harapan besar, kelak bisa menikmati hasil panen dan mampu menjawab persoalan kebutuhan keluarga.

“Kami masyarakat kecil hanya berharap kepada pemerintah untuk melihat kami sebagai masyarakat petani yang membutuhkan solusi sehingga kedepan kami bisa sejahtera hidup sebagai petani. Karena bukan hanya tanaman cengkeh saja, ada juga Kelapa, Coklat, dan Pala yang semakin hari harga belinya semakin merosot turun,” harap ibu yang sudah memiliki tujuh orang cucu itu.

Sekedar informasi sebagai kabupaten yang berada di ujung barat Provinsi Maluku Utara, Pulau Taliabu secara keseluruhan wilayahnya memiliki ungulan di komoditas cengkeh dengan kemampuan panen capai hingga ribuan ton.

Editor : Mastobelo