Sumber Foto: Akurat.com

Oleh : R. Saddam Al Jihad

Ketua Umum PB HMI

Frasa ini dirasa penting disampaikan dengan melihat pergulatan politik akhir-akhir ini. Konsekuensi sebuah pilihan politik adalah menghalalkan segala cara untuk mencapai kekuasaan, itulah dogma politik yang disampaikan machiavelli.

Disisi lain Tan Malaka menyampaikan bahwa kemewahan terakhir yang dimiliki pemuda, dengan bahasa itu Tan Malaka menguatkan paradigma bahwa pemuda adalah nafas terakhir dari sebuah idealisme.

Dengan demikian sebuah filsafat silogisme dari Aristoteles menjadi terbalik dengan adanya pemanfaatan idealisme pemuda untuk sebuah kepentingan politik.

Suasana akhir-akhir ini dibumbui politik tunggangan, apakah demokrasi adalah sebuah tunggangan politik itu sendiri?, kekhawatiran ini sungguh menjadi cara untuk memandang bahwa mengkaji sebuah isu adalah kewajiban moral dari seorang intelegensia, kaum intelegensia membutuhkan konsepsi dewasa ini, bukan latah terhadap manipulasi demokrasi yang ditarik dalam fenomena kepentingan politik praktis.

Dengan kondisi hari ini, perlu kita kaji mendalam apakah kita murni bergerak atau latah terhadap gerakan sehingga masuk dalam kepentingan politik praktis?

Dengan membangun konsepsi hari ini, ada Senturi yang dikonsep PB HMI dalam melihat problematika kebangsaan. Sembilan Tuntutan Rakyat Indonesia. Itu sebagai ekspresi kajian dengan mengedepankan nilai-nilai objektivitas sebagai insan akademis.

Berikut adalah konsepsi yang digagas PB HMI soal problematika kebangsaan, Sembilan Tuntutan Rakyat Indonesia:

  1. Menuntut Stabilitas Nilai Tukar Rupiah dan Menuntut untuk tidak berhutang pada IMF dan World Bank
  2. Normalisasi Reformasi Sistem Keamanan
  3. Menggugat Kebijakan terkait berkembangnya TKA di Indonesia
  4. Menuntut Kedaulatan Energi di Indonesia
  5. Menuntut terciptanya Holding Pangan Indonesia
  6. Transparansi Penegakan Supremasi Hukum dan HAM
  7. Pemerataan Pendidikan dan Kesehatan
  8. Transparansi Pembangunan Infrastruktur di Indonesia
  9. Menuntut Keterbukaan Informasi Publik di setiap Instansi Pemerintahan dan Instansi Politik

Kita tidak bisa menutup mata bahwa tahun ini adalah tahun politik, sehingga dirasa penting untuk mencermati dengan baik dari mana asal muasal sebuah gerakan. Tentunya di akhir akan menjadi sebuah nilai dari politik itu sendiri, nilai dari sebuah politik kata gramsci adalah politik elektabilitas dari segala tindakan politik yang dibuat. Sehingga hati-hati untuk kita sebagai mahasiswa yang bisa saja dicuri idealisme kita dan menjadi kepentingan politik segelintir kelompok kepentingan.

Jaga terus independensi dalam bergerak, jaga terus intelektualisme dalam berpikir, karena gerakan dengan pemikiran yang independen adalah sebuah kemerdekaan yang hakiki dari kaum intelegensia, yaitu Mahasiswa.

Penulis adalah Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam, Penulis terpilih untuk Periode 2018-2020