Oleh :

Moh. Amrul Djinanu

Indonesiaberita.com, TALIABU- Bunyi suara ketukan palu menghantam hatinurani yang berimbas pada kepercayaan dan harapan besar masyarakat akan arti sebuah demokrasi.

Ketika palu mahkamah Konsitusi (MK) diketok, publik Maluku Utara (Malut) lantas tercengang menyaksikan peristiwa diluar dugaan. Di media sosial terutama, ada yg berharap demikian, meskipun banyak pula yang berharap ketok Palu MK akan menolak gugatan PHP itu

Tapi, lagi – lagi Mahkamah memerintahkan untuk PSU di tiga tempat, yakni, Taliabu Barat (Talbar), Sanana dan Enam Desa di Halut/Halbar. “Entahlah”

Yang kami rasakan Palu MK seakan “menyemtakan” stigma bahwa Taliabu dan Sula adalah daerah paling ‘bandel’ melaksanakan hajatan demokrasi. Tapi sudahlah, bagi kami, ini keputusan politik. Bagaimana tidak? Hasil pilkada di Taliabu dan Sula seakan dikemas rapih bahwa terjadi kecurangan dan kejahatan demokrasi yang luar biasa.

Padahal, dengan jelas telah keluar hasil yang sudah menentukan siapa yang pantas jadi sang juara dengan prestasi yang luar biasa pada pemilihan tanpa disisipi kericuhan seperti adu jotok yang selalu digadang – gadankan sebagai khas Politik jika berdasarkan runutan sejarah jalannya pesta demokrasi di Maluku Utara. “Politik Tanpa Gaduh diabaikan”.

Selanjutnya, begitu banyak duit negara yang dikorbankan untuk urusan ini. Belum lagi dalam waktu dekat taliabu akan menjadi incaran mereka yang berkepentingan langsung pada hajatan ini. Para kandidat, team sukses dan lain-lain.

Begitu juga tempat konsentrasi dan berkumpulnya lembaga yg diperintahkan mahkamah terutama KPU, Bawaslu, Pihak kemanan dan beberpa elemen yg berkepentingan agar hajatan ini sukses versi mahkamah.

Fenomena PSU tentu menjadi pelajaran bagi orang Taliabu, bahwa setelah barang ini usai, hampir tidak pernah lagi Taliabu di kunjungi terutama oleh para kandidat. “Taliabu selalu dilupakan”.

Padahal harus diakui bahwa Taliabu sama dengan sembilan (9) kabupaten/kota yg ada di Malut. Taliabu juga ikut menentukan siapa pemimpin malut kedepan, bahkan pak Gubernur Malut yang saat ini berkuasa. Padahal janji beliau ketika itu, Taliabu adalah daerah pertama yg akan dikunjungi jika terpilih lawat PSU kala itu.

Alhasil, beliau tak mampu membuktikan itu kepada orang Taliabu, tapi ditegaskan, kami tak pernah kecewa karena kami sadar bahwa Pak Gubernur saat ini bukan orang Taliabu. Beliau hanya akan datang sesekali jika beliau berkehendak saja.

Wajar jika beliau seperti itu. Belum lagi sederet janjinya yang tidak ditepati.

“Lagi lagi kami maklum, mungkin beliau lupa karena usianya yang sudah senja”

Namun kali ini tentu konteksnya akan beda. Pengalaman demi pengalaman sudah mengajarkan orang Taliabu. Semoga tidak lagi terjadi seperti kemarin. Sebab kami yakin, hanya orang tolol yang akan terperosot dua kali kedalam lobang yang sama.

Selamat ber- PSU, silahkan jadikan ini sebagai momentum untuk menuju Maluku Utara yang lebih baik. ..!

Penulis sebagai Pengurus OKK DPD KNPI Pulau Taliabu dan pernah menekuni bidang Jurnalis.

Editor : Yakobus Eko