Indonesiaberita.com, BOGOR – Sebagai upaya menjamin ketersediaan pangan nasional, Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor (IPB) bekerjasama dengan Institut Supply Chain and Logistic Indonesia (ISLI) mengadakan Seminar Nasional dan Kongres ke-2 dengan tema “Agrologistik 4.0 : Peluang dan Tantangan di Era Digital”. Seminar kali ini digelar di IPB International Convention Center (IICC) IPB, Bogor, Selasa kemarin (18/9).

Kegiatan seminar dan kongres ini diadakan bertujuan mengkaji berbagai perkembangan pemikiran agrologistik dari berbagai bidang baik dari akademisi, pemangku kebijakan, maupun pelaku bisnis dan memberikan kontribusi pemikiran yang strategis dalam rangka meningkatkan daya saing agrologistik nasional.

Ketua Panitia, Dr. Heti Mulyati, STP. MT., mengatakan rantai pasok yang semakin komplek dan dinamis, persaingan yang semakin ketat, serta permintaan perusahaan dan kosumen terhadap perbaikan logistik perlu ditanggapi secara serius.

“Produk pertanian Indonesia yang bersifat perishable dan musiman, perlu mendapat perhatian serius terutama dalam kaitannya terhadap agrologistik,” ujar Dr. Heti dalam sambutannya.

Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan IPB, Dr. Drajat Martianto, M.Sc., turut membenarkan kondisi agrologistik di Indonesia saat ini. Menurutnya, sepertiga food lose di Indonesia terjadi karena faktor logistik dan perilaku mubadzir masyarakat.

“Untuk memajukan pertanian Indonesia, ada empat hal penting yang harus mendapat perhatian semua pihak. Yaitu produk pertanian yang mudah rusak, negara kepulauan yang memerlukan logistik bagus, persoalan demografi, dan faktor musim,” ujar Dr. Drajat.

Ia mengatakan, semua persoalan tersebut berkaitan dengan agrologistik di Indonesia. Apabila persoalan agrologistik dapat dibenahi, maka persoalan di atas dapat diselesaikan juga. Mengingat persoalan agrologistik penting di masa depan, ia berharap hasil dari seminar dan kongres kali ini bisa diterapkan secara konsisten oleh pihak-pihak yang bersangkutan dan jangan sampai usaha memajukan agrologistik nasional berhenti di tengah jalan.

Sementara itu Ir. Musdhalifah Machmud, MT., Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Pertanian, Kemeterian Koordinator Bidang Perekonomian dalam paparannya menyatakan bahwa agrologistik yang kurang baik adalah kunci dari carut marutnya ketahanan pangan Indonesia.

“Agrologistik tidak hanya sebatas distribusi produk pertanian saja, tetapi juga menyangkut pengolahan pascapanen, penyimpanan, dan pengemasan. Semoga melalui seminar dan kongres ini dapat melahirkan sumber daya manusia unggul dan kompeten di bidang agrologistik,” ujar Musdhalifah.

Sebagai upaya mengatasi persoalan agrologistik, solusi yang dapat dilakukan adalah menerapkan sistem logistik pertanian terpadu. Terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mewujudkan sistem logistik pertanian terpadu, yaitu membangun rantai pasok yang traceable, berkeadilan dan berkelanjutan (dengan sistem partisipatif seluruh stakeholder terkait, dan penciptaan nilai bersama), tidak hanya melibatkan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), tetapi perlu melibatkan pihak swasta untuk dijadikan champion dalam menyediakan jasa manajemen pascapanen terintegrasi, jasa pergudangan, pembiayaan, pengujian kualitas, asuransi pertanian, pengadaan komoditas, dan pemasaran di desa-desa.

Editor : YES