Menjadi Referensi Mendunia

Drama Playing Victim Jurkam Prabowo Adalah Kejahatan Kemanusiaan

Indonesiaberita.com, JAKARTA – DPP Pos Raya mengecam dengan keras “Drama Playing Victim Juru Kampanye pasangan Prabowo Sandiaga. Melalui Ketua Umumnya, Ferdinandus Semaun, DPP Pos Raya menilai drama playing victim tersebut sebagai “Kejahatan Kemanusiaan.”

Hal tersebut disampaikan oleh Ferdi Semaun dalam acara konferensi pers yang diadakan oleh DPP Pos Raya di Jl. Dempo 26 Menteng pada Kamis 4 Oktober 2018.

Dalam penjelasannya, Ferdi Semaun menguraikan bahwa Drama Playing Victim tersebut dikategorikan sebagai kejahatan kemanusiaan.

“Karena sengaja didesign sedemikian rupa untuk mengganggu konsentrasi pemerintah dan semua elemen bangsa yang sedang berjibaku menghadapi bencana Palu dan Donggala.” jelasnya.

Ferdi Semauan menegaskan tujuannya jelas, korban gempa tidak ditangani dengan baik sehingga mudah digoreng untuk menciptakan instabilitas dan menjatuhkan wibawa pemerintah dan institusi negara lainnya.

“Oleh karena itu, drama tersebut patut dikategorikan sebagai Kejahatan Kemanusiaan.” tegas Ferdi.

Selanjutnya Ferdi Semaun menjelaskan bahwa drama tersebut bukanlah teater monolog dengan pemeran tunggal Ratna Sarumpaet.

“Ada banyak orang yang terlibat dalam drama tersebut dengan peran yang berbeda-beda. Ada yang berperan sebagai korban pengeroyokan, ada yang berperan mendistribusikan foto korban melalui media social, ada yang berperan mengagitasi dan memprovokasi masyarakat, ada yang berperan untuk mendelegitimasi Jokowi dan institusi negara lainnya, ada yang berperan sebagai superman, sosok yang dipersepsikan sebagai orang yang paling dibutuhkan untuk mengatasi kekacauan yang ada. Yang mirisnya, semuanya itu melibatkan Prabowo dan tim pemenangannya.” jelas Ferdi lagi..

Prabowo Tahu Bahwa Ratna Sarumpaet Tidak Dikeroyok?

Pada kesempatan yang sama, Ferdi Semaun juga menegaskan bahwa DPP Pos Raya menduga Prabowo sesungguhnya tahu Ratna tidak dikeroyok.

“Dalam Tim pemenangan Prabowo Sandiaga, ada banyak purnawirawan yang memiliki keahlian dalam bidang intelijen, selain itu, juga ada banyak dokter atau sekurang-kurangnya paham dengan tanda-tanda fisik seseorang yang menjadi korban penganiayaan.” tegasnya.

Lebih lanjut Ferdi Semaun memaparkan dalam pertemuan dengan Ratna Sarumpaet sebelum konferensi pers, turut mendampingi Prabowo adalah Amien Rais dan putrinya yang berprofesi sebagai dokter, walaupun beliau adalah dokter gigi, tetapi Pos Raya berkeyakinan bahwa secara fisik dia bisa menilai adanya kondisi fisik bekas penganiayaan atau tidak.

“Dengan kondisi tim seperti itu, seharusnya Prabowo bisa dengan mudah mendapatkan informasi yang valid kalua Ratna sarumpaet bukan korban penganiayaan. Apakah Prabowo grasa grusu? Pos Raya tidak yakin.” tegas Ferdi Semaun.

Untuk masalah yang sangat sensitif seperti itu, dirinya mengungkapkan Prabowo seharusnya lebih teliti, sebagai seorang jenderal, dia sudah terlatih untuk menganalisa situasi terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan.

“Dia bisa minta informasi intelijennya, bisa minta pendapat medis dari timnya, atau beliau bisa minta rekaman medis dari dokter atau Rumah Sakit maupun Klinik yang merawat Ratna Sarumpaet. Namun hal tersebut tidak dilakukan oleh Prabowo, Karena itu Ferdi Semaun menduga bahwa Prabowo adalah salah satu aktor penting dalam drama playing victim tersebut.” paparnya.

PERLU SHOCK THERAPHY

Menyikapi drama playing victim tersebut, Ferdi Semaun meminta kepolisian untuk tidak terjebak dalam aksi teatrikal Ratna Sarumpaet dalam konferensi pers yang mengaku dirinya telah menciptakan hoax.

“Polri harus menyadari bahwa Ratna Sarumpaet tidak sekedar sutradara, tetapi juga pemain teater yang sudah kawakan dalam bermain watak.” pintanya.

Karena itu, Ferdi Semaun menegaskan agar Kepolisian perlu mengusut dan menindak tegas semua yang terlibat dalam drama playing victim ini, tidak hanya Ratna Sarumpaet.

Tindakan shock theraphy sangat dibutuhkan dalam kasus ini, dan harus terapkan tanpa pandang bulu agar menjadi pembelajaran bagi seluruh masyarakat untuk tidak mudah menyebarkan hoax yang mengancam situasi Kamtibmas.” pungkasnya.

Editor : YES

Komentar
Loading...