Oleh :

Sawaludin Damopolii

Indonesiaberita.com, Maluku Utara – Entah sebuah dinamika berdemokrasi ataukah sensasi politik untuk menarik perhatian publik di tengah duka nestapa Palu, Donggala dan Sigi, yang jelas tidak pantas ditiru.

“Prilaku Ratna Sarumpaet yang menyulap operasi plastik dengan isu penganiayaan dirinya, tidak sekedar membohongi publik, melainkan juga memicu kegaduhan nasional”

Tidak diduga, aktivis perempuan sekaliber RS ternyata pintar bersandiwara dan ahli merekayasa diri. Meski dilain sisi sikap kejujuran nya perlu diapresiasi, namun pengakuan tersebut tidak cukup mengobati goresan luka pihak lain.

Lain Ratna Sarumpaet, lain pula yang terjadi di Maluku Utara. Menjelang Pemilihan Suara Ulang  (PSU) Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Maluku Utara, warga dihebohkan dengan Kursi Plastik.

Sepintas nampak biasa, “Kursi Plastik” menjadi istimewa dan viral di medsos karena kapasitas dan keperuntukan Kursi Plastik itu sendiri.

Pasalnya, diduga untuk meraih suara pemilih, salah satu kandidat Calon Gubernur merayu masyarakat di Desa Dum Dum, Kecamatan Kao Teluk, Halmahera Utara dengan Kursi Plastik. “Hehe…lucu juga ya”

Sebagai calon Pemimpin, sepatutnya menawarkan ide dan gagasan pembangunan kepada rakyat. Bukan merayu suara dengan barang apalagi “Kursi Plastik” yang usia kwalitas-nya tidak bertahan lama.

Pemberian “Kursi Plastik” dengan harapan mendapatkan dukungan suara, adalah upaya pembodohan politik.

Alhamdulillah, kejahatan demokrasi ini sudah ditangani oleh pihak penyelenggara beserta barang bukti nya. Salut terhadap pihak penyelenggara pilkada, yang masih menjaga netralitas dan integritas.

Seminggu terakhir, Plastik menjadi Fenomena Politik.

Sukses menarik isu publik dan bahkan menjadi trending topik. Mengapa mereka memilih barang berbahan plastik sebagai media sensasional ya.

Bahkan popularitas nya menandingi musibah kemanusiaan Palu, Donggala dan Sigi, Sulawesi Tengah. Jangan gitu akh. Maluh dikit sama tetangga dong

Penulis adalah : Jubir Tim Pemenang AHM – Rivai

Editor : YES