Oleh :

Faisal Rachman

Indonesiaberita.com, JAKARTA – Ajang pemilihan legislatif yang bersamaan dengan pemilihan Presiden memiliki keunikan tersendiri, terlepas dari kelebihan dan kekurangannya.

Momentum ini (Pemilihan anggota legislatif) seharusnya tidak menjadi ajang kontestasi semata tapi juga menjadi ajang pendidikan politik ke masyarakat,termasuk kepada generasi milenial.

Milenial tidak semata mata dimaknai sebagai satu generasi atau sebuah zaman, tapi juga harus dimaknai meninggalkan cara cara lama dalam kontestasi politik yang cenderung pragmatis.

Sementara itu Milenial dalam konteks memilih legislatif secara rasional bisa dimulai dari hal hal mendasar, misalnya pengetahuan tentang tugas dan wewenang legislatif di sampaikan ke masyarakat, kalau tidak menguasai hal yang mendasar tentu akan sulit menjalankan tugasya dan menjadi tidak maksimal.

Memilih dengan rasional juga berarti melawan pragmatisme politik yang bersifat transaksional,apalagi sekarang money politik dilarang dan ada sanksi pidananya.

Secara rasional jika kita benci korupsi maka kita tidak akan mendekatkan pada tindakan money politik karena sama saja menciptakan ruang untuk terjadinya korupsi.

Mungkin sebagian orang akan menganggap semua itu cuma menjadi teks dalam peraturan dan norma, namun jika kita mengingat semangat Reformasi 98 yang melawan KKN (korupsi, kolusi, Nepotisme) maka hal itu harus konsisten dilakukan.

Milenial bukan semata anak zaman tapi meninggalkan cara-cara usang yang merusak.

Penulis adalah Wakil Ketua Rumah Gerakan 98 dan juga Caleg DPRD DKI Jakarta Dapil 9 PDI Perjuangan

Editor : YES