Indonesiaberita.com, Pekanbaru – Asia Pacifik Rayon (APR) merupakan sebuah perusahaan baru dari Royal Golden Eagle (RGE) induk dari grup besar Asia Pacific Resources International Holdings Ltd (APRIL).

Lebih kurang satu tahun terakhir APR membangun pabrik pengolahan Viscose Staple Fiber (VSF) di Kerinci Kabupaten Pelalawan, yang akan menghasilkan semacam serat rayon pengganti kapas yang dapat digunakan dalam memproduksi barang harian seperti pakaian dan kebutuhan industri manufaktur lainnya.

VSF yang dihasilkan nantinya berbahan baku bubur kertas yang berasal dari kayu akasia yang ditanam di lahan gambut di Riau oleh PT. Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) yang juga perusahaan yang terafiliasi dengan RGE.

Sekretaris Jenderal Jaringan Masyarakat Gambut Riau. Isnadi Esman menyampaikan APR akan menjadi ancaman baru untuk gambut yang ada di Riau.

“Perusahaan APR ini akan mengunakan kayu akasia untuk memenuhi kapasitas produksinya, sudah pasti kayu yang digunakan berasal dari RAPP yang selama ini merusak gambut dengan melakukan penebangan hutan alam dan membuat kanal-kanal besar dengan mengeringkan air gambut untuk menanam akasia.” tuturnya.

Isnadi menjelaskan APR menargetkan akan memproduksi 240.000 ton/tahun.

“APR menargetkan akan memproduksi 240.000 ton/tahun, dengan target ini maka akan semakin banyak kayu akasia yang akan di roduksi menjadi bubur oleh RAPP dan ini pastinya memberikan ancaman yang semakin besar terhadap gambut-gambut yang menjadi areal konsesi mereka. Terutama untuk gambut dalam dengan fungsi lindung yang selama ini dialih fungsikan menjadi areal budidaya akasia RAPP.” jelas Isnadi.

Lanjut Isnadi hal ini berbanding terbalik dengan pernyataan RAPp beberapa waktu lalu.

“Hal ini berbanding terbalik dengan pernyataan RAPP beberapa waktu yang lalu ketika Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) meminta RAPP untuk merevisi Rencana Kerja mereka untuk mematuhi peraturan pemerintah tentang Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut, saat itu mereka sempat akan untuk mem-PHK ribuan pekerja, dan sempat melakukan gugatan hukum terhadap KLHK dan bahkan sempat terjadi aksi massa oleh pekerja, namun saat ini ketika mereka kalah di pengadilan dan harus merevisi RKU mereka sekarang malah membuat pabrik baru dan meningkatkan kapasitas produksi yang pastinya juga menambah tenaga kerja.” lanjut Isnadi panjang lebar.

Beliau menambahkan seharusnya saat ini RGE dan grupnya fokus untuk melakukan retorasi.

“Seharusnya saat ini RGE dan grupnya fokus untuk melakukan upaya restorasi gambut termasuk melakukan upaya penyelesaian konflik dengan masyarakat, kemudian terbuka terhadap revisi RKU RAPP yang sudah di sahkan oleh menteri. Revisi RKU tersebut sangat tertutup bahkan pemerintah pun tidak pernah membuka berapa luas yang di revisi dan dimana lokasinya, ada isu katanya di Semenanjung Kampar dan Pulau Padang tapi hingga kini tidak jelas.” tambah Isnadi.

Terakhir dirinya menegaskan akan meminta kepada pemerintah dalam hali ini KLHK harus berikan perhatian khusus terhadap RGE.

“Kita minta kepada pemerintah yang dalam hal ini KLHK harus memberikan perhatian khusus terhadap RGE dan afiliasinya, memberikan pengawasan yang ekstra terhadap pelaksanaan restorasi gambutnya melalui perubahan RKU yang sudah ada. Dan seharusnya pemerintah tidak lagi meberikan izin pendirian industri-industri yang akan semakin memberikan daya rusak tinggi terhadap gambut. Khususnya di Riau.” pungkas Isnadi.

Penulis : FR

Editor : YES