Indonesiaberita.com, KENDARI – Aksi kekerasan wartawan di Kendari kembali terjadi yang menjadi korban, tiga orang wartawan yang terdiri dari media cetak, online, TV mengalami perlakuan kasar dari salah satu oknum polisi yang berdinas di Kepolisian Sektor (Polsek) Mandoga saat meliput, Jumat (19/10) pagi tadi.

Ketiga wartawan yang menjadi korban tindakan kekerasan oknum polisi itu adalah Ilham (Kontributor Net TV), Fadli (Wartawan Detik Sultra.com), Alfian (Wartawan Koran Rakyat Sultra).

Adapun kronologi kejadian tersebut, bermula saat ketiga jurnalis itu sedang meliput kasus dugaan pengancaman oleh pelajar kepada guru di salah satu sekolah di Kendari.

Menurut pengakuan Ilham wartawan Net TV kepada indonesiaberita mengungkapkan bahwa, oknum polisi yang bertugas di Reserse Kriminal (Reserse) Polsek Mandonga secara jelas menunjukkan sikap kasar dan arogansinya dengan nada suara keras membentak ketiga wartawan untuk menyuruh menghapus video rekaman audio dan video serta mengusir semua rekan-rekan wartawan.

“Hapus rekamannya itu, jangan ada berita hari ini tentang kasus ini, jangan ada yang keluar dari ruang ini kalau tidak dihapus gambar itu,” ujar Ilham menirukan oknum Polisi tersebut.

Ilham mengungkapkan seharusnya Polisi bisa memberitahu secara baik-baik bukan membentak-bentak.

”Seharusnya kami diberi tahu secara baik-baik, bukan dibentak dengan kata-kata kasar, kami tahu aturan, kami juga mengerti mana yang tidak layak tayang, mana yang tidak, kasus dibawah umur pasti saya akan diblur,” ungkap Ilham.

Kejadian ini banyak mengundang kecaman dari seluruh rekan-rekan wartawan, salah satunya Sekjen DPP Jurnalis Online Indonesia (Join) Zulhan Sifadi saat di konfirmasi melalui whatsap siang tadi.

Menurutya, kejadian ini bisa merusak citra Polri yang selama ini telah sukses dibangun oleh Kapolri Tito Karnavian.

“Olehnya itu, setiap oknum yang terbukti menghalang-halangi tugas wartawan maka wajib ditindak lanjuti berdasarkan undang-undang pers agar tidak terulang lagi.” tegas Zulhan.

Zulhan menambahkan dalam undang-undang Pers sangat tegas dikatakan bahwa siapa saja yang melakukan kekerasan dan menghalangi wartawan dalam melaksanakan tugas peliputan, dimana sipelaku dapat dikenakan hukuman selama 2 tahun penjara dan dikenakan denda paling banyak sebesar Rp 500 juta rupiah.

Pada pasal 4 undang-undang pers menjamin kemerdekaan pers, dan pers nasional memiliki hak mencari, memperoleh dan menyebar luaskan gagasan dan informasi

“Seharusnya pada level Polsek sebagai corong utama citra polri yg bersentuhan langsung dgn masyarakat harus memberikan layanan trbaik klu perlu service excelent sebagaimana harapan Kapolri. Karena pada level polda sultra, selama ini sdh sangat baik memberi pelayanan kepada masyarakat. Yah… janganlah dirusak oleh level dibawahnya. Seharusnya jika Kapolri dan Kapolda Sultra sudah memberikan layanan yg terbaik, pada tataran bawah di Polsek harus sangat baik lagi. Jangan justru sebaliknya.” tambahnya.

Sementara itu saat dikonfirmasi terpisah, Kabid Humas Polda Sultra AKBP Harry Golden hardt mengaku, oknum polisi tersebut telah dipanggil oleh pihak Polres kendari melalui Wakapolres Kendari untuk melakukan klarifikasi.

“Kami sudah memanggil polisi itu untuk dilakukan klarifikasi,” ujarnya lewat sambungan telpon.

Editor : YES