IndonesiaBerita, YOGYAKARTA – Kesadaran Indonesia sebagai negara Pancasila yang bersasarkan pada perbedaan suku, ras, agama dan antar golongan, rupanya masih belum bisa di serap dalam kehidupan sehari-hari.

Faktanya bahwa saat ini, masih ada sekelompok massa yang melakukan tindak kekerasan, tempat-tempat ibadah, dan gelaran adat masih saja terjadi.

Tradisi sedekah laut di Pantai Baru Kabupaten Bantul Kota Yogyakarta beberapa hari lalu, di obrak-abrik oleh sekelompok organ yang meggunakan penutup muka atau cadar hitam. Mereka menuding bahwa tradisi labuhan tersebut syirik dan bertentangan dengan ajaran agama tertentu.

“Perusakan perlengkapan acara sedekah laut oleh sekelompok massa tersebut merupakan tindakan menebar kebencian dan mengancam kelangsungan hidup masyarakat tradisi yang telah berlangsung sejak ratusan tahun silam. Sekaligus bentuk provokasi yang dapat memecah belah kerukunan hidup masyarakat di Indonesia.” kata Lobo (panggilan akrab Lestanto Budiman) selaku ketua pelaksana Labuhan Mantra Luhur Budaya Nusantara, Kamis (25/10/2018).

Maka dari itu, Gerakan Masyarakat Yogyakarta Melawan Intoleransi (GEMAYOMI), bekerja sama dengan elemen masyarakat Jogja, membentuk Aliansi Masyarakat Perduli Budaya (AMPB), menggelar ritual budaya sebagai bentuk penyadaran dan peringatan agar kasus serupa tidak terulang kembali.

Berdasarkan peristiwa tersebut, GEMAYOMI menyatakan sikap:
1. Gusti Ngarsa Dalem Sinuwun Paduka Sri Sultan Hamengku Buwana X, kami para Kawula Aliansi Bela Budaya Nusantara dan GEMAYOMI memohon keadilan atas penganiayaan tradisi oleh pelaku/dalang persikusi dan pengrusakan acara adat istiadar yang terjadi di Pantai Baru Kab Bantul Yogyakarta.
2. Kami panitia Aliansi Masyarakat Perduli Budaya yang di prakarsai oleh GEMAYOMI menyatakan bahwa gelaran upacara adat labuhan adalah naluri adat tradisional yang di lakukan turun temurun sebagai tradisi kearifan lokal dan bagian dari budaya bangsa.
Pelanggaran yang dilakukan oleh pihak-pihak tertentu lewat media sosial/media umum sengaja di terbarkan, merupakan:
– Ujaran kebencian terhadap budaya.
– Penghinaan terhadap adat budaya warisan leluhur.
– Sekaligus merupakan penghianatan terhadapa Pancasila.
3. Kami panitia Aliansi Masyarakan Perduli Budaya, memohon kepada aparat penegak hukum (kepolisian RI) untuk Tanggap Ing Sasmita dan Responsif terhadap propaganda penghinaan tersebut dengan menghentikan serta membubarkan organisasi yang ada di belakangnya.
4. Bapa langit, Ibu bumi peradaban Nuswantara (Sansekerta, Nusantara – red) adalah jiwa raga kami.

Penulis : Dovi Yati

Editor : MAS