IndonesiaBerita, JAKARTA – Sejak tanggal 28 oktober 1928 lewat kongres Pemuda II seluruh perwakilan pemuda yang berasal dari daerah yang masih bersifat lokalisme menyuarakan serta mengikrarkan diri dan menyatukan dalam satu bangsa, bahasa dan tanah air satu yakni Indonesia.

Menurut Ketua Umum Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND), Indah Abd.Razak tekad dan ikhtiar kesatuan bangsa, kesatuan bahasa dan kesatuan tanah air ini menjadi awal kekuatan kaum muda untuk menyuarakan pentingnya sebuah perasatuan ditengah-tengah penindasan kolonialisme.

“Tanpa persatuan dan kemerdekaan sejati maka hal mustahil bisa melawan dan mengusir kolonialisme. Kekuatan kemerdekaan Indonesia dalam melawan penindasan kolonialisme adalah kekuatan persatuan.” ungkap Indah dalam siaran persnya yang diterima Indonesia Berita, Minggu (28/10/2018).

Indah menambahkan semangat persatuan ini juga menegaskan bahwa tidak ada ruang bagi kolonialisme, imperialisme dalam menjarah dan mengeksploitasi bangsa Indonesia.

“Dengan semangat persatuan tidak ada ruang bagi kolonailisme, imperialisme dalam menjarah dan mengeksploitasi bangsa Indonesia.” tambahnya.

Selanjutnya Indah menjelaskan seiring dengan perkembangan situasi sosial, ekonomi, politik selam 90 tahun sejak sumpah pemuda di ikrarkan, mengalami sebuah penurunan semangat dan cita-cita.

“Penurunan semangat dan cita-cita ini tidak lepas dari peran kekuasaan yang berkuasa serta mengabaikan perjalanan history kebangsaan.” jelasnya.

Sementara itu Sekretaris Jenderal (Sekjen) LMND, Muhammad Asrul menegaskan sejak orde baru berkuasa dan membuka kran investasi seluas-luasnya menjadikan pintu masuk bagi kekuatan imperialisme untuk menjarah dan mencaplok bangsa ini.

“Regulasi pro kapital dan investasi menjadikan bangsa ini menjadi pusat untuk penyediaan bahan baku, tenaga kerja serta pasar komoditas bagi negara-negara kapitalis.” tegas Asrul.

Asrul memaparkan di lain sisi Pendidikan Indonesia telah berada di bawah dikte pasar.

“Perjanjian multilateral di antara negara-negara anggota World Trade Organization (WTO) telah menetapkan pendidikan sebagai salah satu sektor industi tersier. Produknya berupa jasa pendidikan yang diperjualbelikan. Pendidikan dengan demikian telah resmi menjadi komoditi ekonomi dan ditempatkan di bawah rezim pasar bebas.” paparnya.

Disamping itu memurutnya dalam momentum Pemilu 2019 merupakan momentum tepat untuk menegakkan kembali apa yang menjadi cita-cita para pendiri republik.

“Momentum Pemilu 2019 sangat tepat untuk menegakkan kembali apa yang menjadi cita-cita para pendiri republik, seperti yang tertuang dalam Priambul UUD 1945.” ungkap Asrul.

Oleh karena itu, Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi menyerukan kepada para calon presiden/wakil presiden dan anggota legislative serta gerakan rakyat & mahasiswa

1. Haluan Ekonomi Indonesia harus diganti dari ekonomi liberal menjadi ekonomi yang berlandaskan pada Pasal 33 UUD 1945.
2. Harus ada perubahan paradigma pendidikan nasional yang berorientasi profit/laba kearah pendidikan yang memanusiakan manusia serta dapat diakses oleh seluruh rakyat Indonesia
3. Wujudkan pendidikan gratis, ilmiah dan Demokratis
4. Menyerukan kepada seluruh gerakan rakyat dan mahasiswa untuk menguatkan persatuan Nasional anti Imperialisme sebagai kekuatan sejati rakyat Indonesai.

Penulis : Supriyanto

Editor : YES