Indonesiaberita.com, JAKARTA – Ada persamaan antara pesawat Lion Air JT 610 dan Qantas atau Queensland and Northen Territory Service milik Australia, sama-sama melakukan Return to Base (RTB), namun nahas saat pilot berupaya kembali kelandasan berujung kecelakaan maut yang menambah catatan hitam dunia penerbangan nasional. Meski demikian masih beragam spekulasi dimasyarakat penyebab kecelakan pesawat lion tersebut.

Sama halnya dengan Qantas dengan nomor penerbangan QF32 milik Australia yang melakukan Return to Base (RTB) pada 4 November 2010, saat pesawat Airbus 380 (A380) yang dimiliki Australia ini mengalami kegagalan mesin di wilayah udara Batam sesaat setelah lepas landas dari Bandara Changi, Singapura. Namun beruntung para awak dan penumpang berhasil selamat.

Usai insiden menegangkan itu, serpihan-serpihan penutup mesin pesawat berserakan di kawasan Batam Center. Indra Kurniawan, seorang saksi mata yang berprofesi sebagai guru, mengatakan kepada BBC.

“Kami mendengar ledakan. Kemudian saya melihat sampah di langit, dan salah satu kepingan sampah itu mengenai sekolah kami. Kami semua tahu kepingan itu adalah puing-puing dari pesawat,” ucapnya

Beberapa saat kemudian sejumlah televisi Indonesia menyiarkan insisden jatuhnya puing-puing pesawat itu. Beberapa orang memegang lempengan-lempengan yang berlogokan merah dan putih yang menunjukkan logo Qantas.

Meski tak berujung kematian, insiden ini tentu membuat ngeri para penumpang. Kepada BBC, Lars Sandberg, seorang DJ yang dijadwalkan tur Australia mengatakan bahwa saat kejadian dirinya berada tepat disebelah mesin yang meledak tersebut. Dentuman keras itu terjadi 10-15 menit setelah lepas landas.

“Aku pikir ada sesuatu yang jatuh menimpa muatan dibawah pesawat, tapi kemudian pesawat mulai bergetar dan aku sedikit terguncang. Aku sering bepergian dan ini adalah ketakutan besar pertama yang kualami,” ujarnya.

Hal serupa yang dialami penumpang lainnya, Tyler Wooster mengatakan ia mendengar dentuman seperti suara letusan pistol yang keras. Ia amat takut dan tak tahu apa yang akan terjadi kemudian saat ia turun, apakah akan-akan baik saja atau sebaliknya.

Beruntung para pilot dan awak pesawat melakukan langkah-langkah efektif yang akhirnya berhasil mendaratkan kembali pesawat berbadan lebar itu di Bandara Changi.

“Kapten melakukan pekerjaan baik dalam meyakinkan kami dengan membuat pengumuman setiap beberapa menit,” ungkap Sandberg.

Selama 90 menit ketegangan yang mendera 433 penumpang dan 26 kru tersebut berakhir setelah sebelumnya pesawat berputar-putar untuk membuang bahan bakar dan melakukan pendaratan.

“Para penumpang bersorak dan memuji awak pesawat yang tetap menjaga ketengangan,” tulis The New York Time

Sumber : tirto.id