Menjadi Referensi Mendunia

Jokowi, Prabowo dan Kemiskinan

Oleh:

Donny Gahral Adian

Indonesianerita.com, JAKARTA – Retorika ketidakadilan, kesenjangan dan marjinalisasi saat ini selalu didengungkan oleh Capres Prabowo Subianto. 99 persen rakyat indonesia hidup pas-pasan kata beliau. Ini menarik sebab retorika tersebut dilontarkan oleh Prabowo yang termasuk golongan 1 persen yang tidak pas-pasan. Akibatnya, anomali politik pun terjadi. Di Boyolali retorika kemiskinan Prabowo berubah menjadi ujaran yang merendahkan. Artinya, Prabowo tidak bisa melepaskan diri dari kelas sosialnya saat berpidato. Beliau berbicara pertentangan kelas (orang miskin tidak bisa masuk hotel mewah) dari ketinggian kelasnya.

IMTSI Sidebar

Saya jadi khawatir semua program Prabowo untuk membela yang papa ditulis dengan tinta emas. Hal yang sama juga berlaku untuk cawapres Sandiaga Uno. Mereka berdua memainkan politisasi kemiskinan bukan politik kemiskinan. Mereka menjual kemiskinan sebagai propaganda politik in optima forma. Sementara Jokowi sebagai petahana tidak pernah beretorika. Beliau sudah menjalankan banyak program untuk rakyat miskin. Alhasil angka kemiskinan pun berhasil ditekan dan inflasi dijaga di bawah 5 persen selama empat tahun berturut-turut.

Berbeda dengan Prabowo, Jokowi pernah susah. Beliau bukan anak siapa-siapa. Semua yg diperolehnya didapatkan melalui kerja keras dari titik nol.

Kita harus percaya siapa sekarang? Dia yang berbicara kemiskinan dari podium kemakmuran. Atau, dia yang tahu betul seluk beluk kesulitan hidup dan memakai kekuasaan sebesar-besarnya untuk mengangkat harkat dan martabat kaum papa. Sebuah pilihan yang mudah tentu saja.

Editor: MAS
Komentar
Loading...