Menjadi Referensi Mendunia

Rektor UIN Alaudin Makasar: Kontroversi Ahmadiyah sudah selesai, saatnya membangun kerjasama.

IndonesiaBerita, MAKASAR – Peguruan Tinggi bukan area untuk sesat dan menyesatkan dan kampus adalah area akademis-epistemologis, bukan kajian teologis doktriner.

Pernyataannya ini merespon pihak-pihak yang menuntut agar UIN Alauddin Makassar tidak menggelar seminar tentang Ahmadiyah di kampusnya. Namun Rektor UIN Alauddin Musafir Pababari berpendapat itu penting membangun kerjasama dengan Jemaat Ahmadiyah Ahmadiyah (JAI) agar peran akademis dalam penelitian dan pengabdian kampus, dalam hal ini dosen dan mahasiswa, menjadi lebih berkembang.

“Seminar tentang Ahmadiyah ini untuk menambah wawasan, bukan untuk mengurusi keyakinan masing-masing,” ujarnya ketika membuka Seminar Nasional yang secara khusus mendiskusikan tentang Ahmadiyah dengan mengambil tema “Islam Agama Perdamaian: Merawat Kerukunan, Keragaman dan Persatuan” dalam rangka Milad ke-53 UIN Alauddin Makassar, Kamis (7/11/2018) di Aula UIN Alauddin.

Seminar yang terselenggara sebagai bentuk kerjasama Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) UIN Alauddin Makassar dengan Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) ini.

Musafir menambahkan tugas lembaga akademis adalah bagaimana mengupayakan Islam sebagai rahmatan lilalamin yang dapat merawat kerukunan dan persatuan di tengah perbedaan paham keagamaan.

“Kontroversi tentang Ahmadiyah saya anggap sudah selesai,” tegasnya.

Selaku narasumber, Guru Besar UIN Alauddin Makassar, Qasim Mathar menggarisbawahi bahwa teladan perdamaian lebih penting daripada seruan tentang perdamaian.

“Karena itu ia menantang Majelis Ulama Indonesia (MUI) agar menjadi rumah bagi seluruh paham Islam yang berbeda-beda, sehingga perdamaian dan persatuan dapat tercipta.” ungkap Qasim.

Testimoni HUT IBcom

Qasim mengaku sudah bosan dengan fatwa atau seruan MUI dan saat ini fatwa-fatwa MUI pun menurutnya tidak berwibawa. Akibatnya, MUI banyak ditinggalkan umat.

“Berhentilah berfatwa. MUI harus mulai masuk ke Syiah, Ahmadiyah atau berkumpul dengan berbagai paham Islam dalam satu rumah,” ujarnya mengajak MUI agar menjadi teladan bagi praktik Islam yang benar-benar mampu menciptakan kerukunan dan persatuan di tengah realitas Islam Indonesia yang beragam.

Selain mengkritik MUI, Qasim Mathar juga menantang Sunni, Syiah dan Ahmadiyah yang merupakan tiga paham Islam terbesar di dunia agar mulai saling berjumpa untuk membicarakan perdamaian dan persatuan.

“Tiga paham Islam terbesar di dunia agar mulai saling berjumpa untuk membicarakan perdamaian dan persatuan.” paparnya.

Baginya, Islam rahmatan lil-alamin yang menghadirkan perdamaian hanya dapat terwujud apabila orang-orang dan organisasi dalam Islam mengenyampingkan absolutisme teologinya dan tidak mengkultuskan para pemimpinnya masing-masing.

“Harapan pada Islam damai terjadi ketika absolutisme dan pensakralan kyai, ulama, imam (Syiah) dan huzur (Ahmadiyah) tidak terus dipertahankan,” tuturnya di hadapan 300-an akademisi dan publik yang menghadiri seminar nasional ini.

Penulis : Fitra

Editor : YES

Komentar
Loading...